DEBAT – Cerpen Online

Seorang pemuda menonton suatu demonstrasi tenaga dalam di Lembah. Diperhatikannya orang‑orang yang bergulingan di atas pasir terkena gelombang tenaga dalam yang dahsyat. Ia termenung. Rasanya sulit dipercaya ada tenaga yang sangat dahsyat dan dapat dilontarkan dari jarak jauh.

Ia melihat atraksi di depannya dengan tatapan kosong. Oh, betapa hebatnya nenek moyang kami dulu. Mereka sakti mandraguna. Bahkan sisa‑sisa ilmu mereka masih ada sampai sekarang. Ratusan perguruan tenaga dalam tersebar di seantero negeri ini.

Tiba‑tiba seorang lelaki setengah baya mendekatinya.

“Tertarik, Nak?” tanyanya pada si pemuda.

Si pemuda menoleh, Ditatapnya wajah laki‑laki yang berdiri disampingnya itu. Ia seorang laki‑laki yang gagah perkasa. Tubuhnya kekar dan tampak kuat sekali. Apalagi dengan pakaian silat berwarna hitam‑hitam itu.

“Bagaimana, Nak. Kamu tertarik?” ulang laki‑laki tadi.

“Ya,” jawab pemuda itu singkat. Lalu ia pun mengalihkan pandangannya kembali menonton orang‑orang yang bergulingan di depannya.

“Hemm, kalau begitu bergabung saja,” kata laki‑laki tadi menyarankan.

Si pemuda kembali menoleh dan menatap wajah laki‑laki disebelahnya itu. “Bapak termasuk anggota?” tanyanya. Namun ia cepat‑cepat menyesali pertanyaannya yang bodoh tadi. Orang itu tentu saja anggota perguruan. Apalagi pakaian yang dikenakannya sama dengan orang‑orang yang sedang beratraksi itu, seragam hitam‑hitam. “Ngg, maksud saya Bapak termasuk salah seorang pelatih?” sambungnya untuk menutupi ketololannya. Laki‑laki itu mengangguk dengan anggukan yang terasa begitu berwibawa bagi si pemuda.

“Lalu apa untungnya kalau saya mempelajari tenaga dalam itu?”

“Ya, kamu akan lebih tahu lagi apa itu tentang tenaga dalam. Manfaatnya bagi kesehatan, terutama paru‑paru. Disamping itu latihan pernapasan juga akan memperlancar peredaran darah sehingga tubuh kita terbebas dari penyakit. Dan manfaat yang lain, ya bila sewaktu‑waktu kita diganggu oleh orang jahat kita dapat menggunakannya untuk membela diri,” ujar laki‑laki itu menerangkan.

“Apakah tenaga dalam ini dapat diselidiki secara ilmiah?” tanya si pemuda.

“Oo… jelas!” Tenaga dalam ini dapat saja diselidiki dengan metode ilmiah. Bahkan sekarang penyelidikan itu sedang dikembangkan oleh para ahli. Tenaga dalam ini sebenarnya ada dalam tubuh setiap orang, sehingga bisa diselidiki. Jadi ini tidak pakai mejik‑mejikan.

“Kalau saya perhatikan ternyata tenaga dalam itu sangat dahsyat. Dengan tenaga dalam orang bisa memecahkan benda‑benda keras, kebal terhadap serangan senjata tajam, dan memiliki tenaga berlipat ganda,” ujar si pemuda.

Laki‑laki itu hanya tersenyum mendengarkannya. “Darimana ilmu tenaga dalam itu, Pak?” tanya si pemuda pura‑pura tak tahu.

“Ya dari nenek moyang kita. Kita bangga kepada mereka,” jawab laki‑laki itu.

“Jadi nenek moyang kita yang menciptakannya?”

“Ya.”

“Kalau begitu nenek moyang kita adalah orang‑orang yang hebat dan sakti mandraguna?”

“O, tentu saja!”

“Kalau begitu saya sangat kecewa kepada mereka. Betul‑betul sangat kecewa!”

“Lho, kok aneh sekali kamu itu?”

“Aneh? Ah, tidak. Saya tidak aneh. Saya kecewa sekali, bukannya aneh,” sahut si pemuda sambil menatap lesu kearah orang‑orang yang masih berjumpalitan main‑main dengan tenaga dalamnya di Lembah itu.

“Apa maksudmu?” tanya laki‑laki tadi tak mengerti.

“Coba saja bayangkan, nenek moyang kita adalah orang‑orang yang gagah perkasa serta sakti mandraguna. Tengoklah sejarah Sriwijaya dan Majapahit, kita punya ribuan orang‑orang sakti yang dapat menghancurkan karang dan meruntuhkan gunung dengan ilmunya dari jarak jauh. Kita punya ribuan orang sakti yang tubuhnya kuat‑kuat serta kebal terhadap serangan senjata tajam. Bahkan di negeri kita juga ada ilmu santet yang dapat mematikan orang dari jarak jauh yang tidak terlihat oleh pandangan kita. Akan tetapi mengapa setelah bangsa kulit putih yang tidak punya ilmu‑ilmu dahsyat seperti itu datang, padahal mereka hanya punya mesiu, bedil dan meriam, kita bisa dijajah dan diperbudak mereka sampai ratusan tahun. Coba bayangkan, ratusan tahun! Lalu kemana orang‑orang sakti itu? Apakah mereka sudah pada punah sebelum para penjajah brengsek itu datang?”

Laki‑laki tadi terpaku. Tak disangkanya pemuda itu  berpikiran seperti itu.

“Yaaah… senjata mereka kan lebih hebat dari kita….”

Si pemuda menatap wajah laki‑laki itu dengan pandangan tak mengerti dan tak setuju. “Lalu apa gunanya tubuh mereka yang kebal terhadap senjata itu? Apa gunanya ilmu melontarkan pukulan dari jarak jauh? Dan apa gunanya orang‑orang yang bisa menguasai ilmu santet itu? Mengapa tidak mereka santet saja semua penjajah itu biar mampus?!”

“Lain, Anak muda. Ilmu santet itu tidak sama dengan tenaga dalam. Dan lagi pula orang‑orang yang menguasai ilmu santet itu hanya bisa menyakiti bangsanya sendiri. Belum pernah kan kita baca dalam sejarah seorang perwira penjajah yang mati karena disantet?” ujar si laki‑laki.

“Ya, betul apa yang Bapak katakan. Namun saya tetap kecewa terhadap mereka. Ratusan tahun kita dijajah dan dihinakan, namun orang‑orang perkasa itu hanya segelintir saja yang mempergunakan kesaktiannya untuk mengusir mereka. Ratusan tahun kita dijajah. Ratusan tahun, bayangkan! Lebih dari sepuluh generasi kita berada di bawah telapak kaki penjajah. Memang akhirnya kita bisa merdeka. Tapi itu bukan karena perlawanan dari orang‑orang sakti itu. Kita merdeka karena perjuangan seluruh bangsa kita tanpa kecuali. Belum pernah kan kita dengar dari sejarah ada seorang jawara yang menghancurkan sebuah tank atau pesawat tempur dengan pukulan jarak jauhnya?” kata si pemuda sinis.

“Ingat, Anak muda. Penjajah menggunakan taktik memecah belah persatuan untuk menghancurkan kekuatan bangsa kita. Selama ratusan tahun dalam masa penjajahan itu kita juga sering saling berperang dengan sesama kita sendiri,” sahut laki‑laki itu.

“Bapak betul. Tapi saya tak habis pikir, mengapa orang‑orang di jaman nuklir ini pada getol‑getolnya mempelajari tenaga dalam. Padahal pada jaman mesiu ratusan tahun yang lalu telah terbukti bahwa tenaga dalam tak banyak berbicara. Maaf, Pak. Jangan tersinggung, ya,” ujar si pemuda sambil ngeloyor pergi.

___________

Jogjakarta  30051990

Pengarang: Syafruddin Hasani

Iklan