YA TUHAN, SI KECIL ITU… (My Lord, The Baby… – Cerita Pendek karya Rabindranath Tagore)

YA TUHAN, SI KECIL ITU…

(My Lord, The Baby… oleh Rabindranath Tagore)

Raicharan baru berusia dua belas tahun ketika ia datang sebagai pembantu di rumah majikannya. Ia berkasta sama dengan sang majikan dan diserahi tugas mengasuh putera mereka yang masih kecil. Waktupun terus melaju, dan si bocah meninggalkan pangkuan Raicharan untuk bersekolah. Selanjutnya ia meneruskan ke perguruan tinggi dan setelah lulus bertugas sebagai hakim. Begitulah seterusnya, sampai dia menikah, Raicharan adalah pembantu satu‑satunya.

Namun ketika seorang nyonya muda masuk ke rumah itu, maji­kan Raicharan pun kini dua, tidak satu lagi. Semua pengaruh yang dimilikinya dulu, kini beralih kepada nyonya muda tadi. Dan sebagai gantinya adalah kedatangan seorang tamu baru. Anukul memperoleh seorang putera, dan Raicharan pun mencurahkan segenap perhatiannya kepada si kecil itu. Ia melambung‑lambungkannya di dalam dekapannya, memanggil‑manggilnya dengan bahasa bayi yang aneh, mendekatkan wajahnya kepada wajah si bayi lalu menariknya lagi sambil meringis.

Sekarang si kecil sudah bisa merangkak dan melewati pintu. Ketika Raicharan memburunya, ia menjerit‑jerit dan tertawa nakal serta berusaha menghindar. Raicharan terpana melihat kemahiran dan kecerdikan yang ditunjukkan oleh bocah itu ketika sedang dikejar. Ia berkata kepada nyonya majikannya dengan pandangan kagum dan misterius: “Putera anda suatu hari nanti akan menjadi seorang hakim.”

Keajaiban‑keajaiban yang lainpun menyusul. Ketika si kecil mulai bisa berjalan tertatih‑tatih, maka hal itu bagi Raicharan merupakan sebuah peristiwa yang bersejarah. Dan saat ia memanggil ayahnya Ba‑ba dan ibunya Ma‑ma serta Raicharan Chan‑na, maka kegembiraan Raicharan pun tak terbendung lagi. Ia pergi keluar untuk mengabarkan berita itu kepada seluruh dunia.

Tak lama kemudian Raicharan pun dituntut untuk menunjukkan keterampilannya. Misalnya ia harus berperan sebagai kuda, menggi­git tali kekang dengan giginya dan berjingkrak‑jingkrak. Ia pun harus bergulat dengan lawan kecilnya, dan kalau ia tidak mengalah dengan menjatuhkan punggungnya menggunakan trik seorang pegulat maka pastilah akan terdengar jeritan keras.

Dalam waktu itu Anukul dipindah‑tugaskan ke sebuah distrik di tepian Sungai Padma. Dalam perjalanannya melalui Kalkuta ia membelikan puteranya sebuah mobil go‑cart kecil. Selain itu juga selembar mantel kuning setinggi pinggang, sebuah topi berenda emas, dan beberapa gelang tangan dan kaki dari emas. Raicharan biasa mengeluarkan barang‑barang ini dan memasangkannya ke tubuh bos kecilnya itu dengan suatu upacara kehormatan sebelum mereka pergi berjalan‑jalan.

Kemudian datanglah musim hujan, dan hari demi hari hujan itu meluapkan sungai‑sungai kecil. Sungai besar yang lapar, bagai ular raksasa, menelan petak‑petak sawah, desa‑desa, ladang‑ladang jagung, dan membenamkan rumput‑rumput tinggi dan kasuarina liar yang tumbuh di tepian sungai. Setiap saat terdengar bunyi runtuhan bantalan sungai yang ambruk. Suara deru arus sungai besar yang tiada henti‑hentinya bisa terdengar dari kejauhan. Tumpukan buih‑buih yang hanyut dengan cepatnya menggambarkan betapa kencangnya arus itu.

Pada suatu tengah hari hujan itupun reda. Suasananya men­dung namun sejuk dan cerah. Si Tuan Kecil‑nya Raicharan tidak kerasaan tinggal di rumah pada siang yang cerah itu. Ia masuk ke dalam mobil go‑cart‑nya. Raicharan pun menariknya perlahan‑lahan sepanjang jalan sampai mencapai persawahan di tepian sungai. Tak ada orang lain di persawahan itu dan tak ada perahu di sungai. Sementara jauh di seberang air, terlihat awan pecah‑pecah di barat. Upacara terbenamnya matahari yang hening terlihat dengan segala kemegahannya yang berkilauan. Di tengah‑tengah keheningan itu tiba‑tiba si kecil menunjuk sesuatu di depannya dan berteriak:

“Chan‑na, kembang bagus tuh!”

Di dekat dataran berlumpur berdiri sebatang pohon kadamba yang penuh bunga. Ya Tuhan, si kecil itu memandanginya dengan penuh antusias. Raicharan pun mengerti maksudnya. Hanya sesaat sebelum ia sempat menjalankan go‑cart kecil itu, karena khawatir terhadap bunga‑bunga bundar ini, si kecil telah lebih dulu menyeret‑nyeretnya dengan penuh kegembiraan menggunakan seutas tali. Maka sepanjang hari itupun Raicharan tidak perlu lagi mengenakan tali kekang. Dia telah naik pangkat dari seekor kuda kini menjadi seorang tukang kuda.

Tapi sore itu Raicharan tidak ingin berjalan menyeberangi lumpur setinggi lutut untuk memetik bunga‑bunga tadi. Maka iapun cepat‑cepat menunjukkan jarinya ke arah yang berbeda sambil berseru:

“Oh lihatlah, nak, lihat! Lihat burung itu!” Dan dengan berisik didorongnya go‑cart tadi cepat‑cepat menjauhi pohon itu.

Tapi si kecil yang telah ditakdirkan menjadi seorang hakim tersebut, tidak semudah itu ditolak keinginannya. Lagi pula saat itu memang tidak ada sesuatu apapun yang dapat untuk mengalihkan perhatiannya. Dan tidak bisa terus‑terusan berpura‑pura tentang adanya burung khayalan.

Tekad majikan kecil itu sudah bulat dan akhirnya Raicharan pun kehabisan akal. “Baiklah, nak,” akhirnya ia berkata, “duduk­lah dengan tenang di mobil ini, dan aku akan pergi mengambilkan bunga cantik itu untukmu. Tapi ingat ya, jangan dekat‑dekat ke air itu.”

Setelah berkata demikian iapun menarik pakaiannya sampai sebatas lutut dan mengarungi lumpur yang terus mengalir tadi menuju ke pohon tersebut.

Begitu Raicharan pergi, si kecil berjalan dengan cepat menuju ke air terlarang tadi. Ia memandangi sungai yang mengalir deras itu, yang berdebur dan berdeguk saat melintas. Seolah‑olah arus air yang bandel itu melarikan diri dari raksasa seperti Raicharan dengan bunyi bagai tawa ribuan bocah cilik.

Melihat kenakalan mereka, hati anak manusia itu menjadi senang dan gemas. Dengan diam‑diam iapun turun dari go‑cart‑nya dan berjalan tertatih‑tatih mendekati sungai. Di tengah jalan ia memungut sebatang ranting dan mencondongkan tubuhnya ke arus deras itu, seperti orang yang sedang memancing. Peri‑peri sungai yang nakal dengan suara misterius mereka seakan memanggil‑mang­gilnya untuk masuk ke dalam istana bermain mereka yang mengasyik­kan.

Raicharan telah memetik segenggam penuh bunga dari pohon tadi, dan sedang membawanya kembali menggunakan ujung pakaiannya dengan wajah yang diliputi senyum ceria. Tapi ketika ia telah mencapai go‑cart  tadi tak ada seorangpun di sana. Ia melihat‑lihat ke segala arah dan tak mendapati seorangpun. Ia menengok lagi ke go‑cart itu namun juga tetap tak ada siapapun di sana.

Pada awal saat yang mengerikan itu darahnya membeku. Di depan matanya seluruh dunia ini berenang berputar seperti kabut hitam. Dari dasar lubuk hatinya yang hancur ia berteriak:

“Tuaaan…! Tuaaan…! Tuan Keciiil…!”

Tapi tak terdengar sahutan yang menjawab Chan‑na…!  Tak ada suara tawa nakal anak kecil, tak ada teriakan gembira si kecil yang menyambut kedatangannya. Hanya sungai yang terus mengalir itu, dengan bunyi debur dan deguknya seperti semula, seolah tak tahu apa‑apa dan tak punya waktu untuk mengikuti ‘peristiwa kecil kemanusiaan’ semacam kematian seorang balita tersebut.

Ketika senja telah lewat, nyonya majikan Raicharan menjadi khawatir. Ia mengutus orang‑orang untuk pergi mencari ke segala arah. Merekapun berangkat dengan membawa lentera di tangan, dan akhirnya sampai di tepian Sungai Padma. Di sana mereka mendapati Raicharan sedang mondar‑mandir berkeliaran di persawahan seperti angin badai, meneriakkan jeritan putus asa:

“Tuaaan…! Tuaan…! Tuan Keciiil…!”

Pada akhirnya ketika mereka membawanya pulang ke rumah, ia langsung jatuh menyungkur di depan kaki nyonya majikannya. Mereka mengguncang‑guncang tubuhnya dan menanyainya berulang‑ulang di mana tadi ia tinggalkan si kecil, namun yang dapat dikatakannya hanyalah bahwa ia tidak tahu.

Meskipun semua orang beranggapan bahwa Sang Padma telah menelan bocah cilik itu, namun masih ada keraguan terselip di benak mereka karena sekelompok gipsi terlihat berada di luar desa itu pada siangnya dan ada kecurigaan ditujukan terhadap mereka.

Sang ibu dalam kesedihannya yang dalam bertindak terlampau jauh karena menganggap bahwa mungkin saja Raicharan sendiri yang menculik anak itu. Dengan suara lirih wanita itu memohon dengan pilu kepadanya:

“Raicharan, kembalikan anakku. Oh, kembalikan puteraku. Ambillah berapapun uang yang kau minta, tapi kembalikan puteraku!”

Raicharan hanya mampu membentur‑benturkan keningnya sebagai jawaban. Nyonya majikannya pun menyuruhnya keluar dari rumah itu. Anukul berusaha menyadarkan istrinya dari kecurigaan yang tidak adil ini. “Kenapa dia akan melakukan kejahatan seperti itu?” katanya.

Sang ibu hanya menjawab, “Anak itu memakai perhiasan di tubuhnya. Siapa tahu kan?”

Setelah itu tidak mungkin lagi membu­juk wanita itu.

Raicharan pulang kembali ke desa asalnya. Sampai saat itu ia tidak punya anak, dan sudah tidak dapat diharapkan lagi ia akan mendapat seorang anak. Namun terjadilah sebelum akhir tahun itu istrinya melahirkan seorang bayi kemudian meninggal. Mulanya kebencian yang meluap‑luap tumbuh di hati Raicharan saat melihat bayi yang baru lahir itu. Di dalam benaknya ada kecurigaan sengit bahwa kedatangannya untuk merebut kedudukan majikan kecilnya dulu. Ia juga berpikir bahwa adalah merupakan suatu tindakan yang berani untuk bersuka cita atas puteranya sendiri setelah apa yang baru saja menimpa anak majikannya. Sungguh, seandainya bukan karena adik perempuannya yang telah janda yang merawatnya, umur bayi merah itu takkan panjang.

Namun perlahan‑lahan terjadi perubahan pada pikiran Raicharan. Suatu hal yang ajaib terjadi. Bayi baru ini mulai merangkak‑rangkak dan melintasi pintu dengan kenakalan di wajahnya. Ia pun menunjukkan kecerdasan yang mengagumkan dalam usahanya menghindarkan diri. Suaranya, bunyi tawa dan tangisnya, tin­dak‑tanduknya, sama seperti majikan kecilnya yang dulu itu. Selama beberapa hari ketika Raicharan menyimak jeritan‑jeri­tannya, jantungnya tiba‑tiba berdebar kencang tak karuan sampai menghentak ke tulang‑tulang rusuknya, seolah‑olah majikan ciliknya yang dulu itu sedang menjerit entah di mana di suatu tempat di negeri maut karena ia kehilangan Chan‑na‑nya.

Phailna, nama yang diberikan oleh adik perempuan Raicharan kepada bocah itu, belajar bicara dengan cepat. Ia mulai belajar mengucapkan Ba‑ba dan Ma‑ma dengan aksen bocahnya. Ketika Raicharan mendengar suara yang tak asing ini tiba‑tiba misteri itupun menjadi jelas. Majikan cilik itu tak dapat membuang ejaan Chan‑na‑nya, oleh sebab itulah iapun kini lahir kembali di ru­mahnya sendiri.

Bagi Raicharan alasan‑alasan yang tak terbantahkan adalah: Pertama, bayi itu lahir tak lama setelah tuan kecilnya meninggal. Kedua, istrinya tak mungkin memperoleh keberuntungan sebegitu besarnya sehingga bisa melahirkan seorang putera pada usia yang sudah setengah baya. Ketiga, sang balita berjalan tertatih‑tatih dan menyerukan Ba‑ba dan Ma‑ma. Tak ada tanda‑tanda yang kurang sedikitpun tentang sifat seorang hakim di masa depan.

Tiba‑tiba Raicharan teringat tuduhan dahsyat dari sang ibu dulu itu. “Ah,” ujarnya kepada diri sendiri, “Naluri sang ibu memang benar. Ia tahu kalau aku telah mencuri anaknya.” Begitu ia menarik kesimpulan ini, dirinya dipenuhi penyesalan yang dalam karena ketidak‑acuhannya dulu.

Kini diserahkannya seluruh jiwa dan raganya kepada anak itu, dan menjadi pembantunya yang setia. Ia pun membesarkan anak itu dengan memperlakuannya bagaikan anak orang kaya. Dibelikannya sebuah go‑cart, sebuah mantel satin kuning sebatas pinggang, dan topi berenda emas. Ia mencairkan semua perhiasan mendiang istrinya dan membuatnya menjadi gelang‑gelang kaki. Ia tak mengijinkan bocah itu bermain dengan orang lain di lingkungan sekitarnya, dan menjadikan dirinya sendiri sebagai satu‑satunya teman bermainnya sepanjang siang dan malam.

Ketika bocah tersebut memasuki masa kanak‑kanaknya, ia sangat disayang, dimanja dan diberi dandanan yang bagus‑bagus sehingga anak‑anak lainnya di desa itu menyebutnya ‘Sang Pangeran’ dan mengolok‑oloknya, sedangkan orang‑orang yang lebih tua menganggap Raicharan sebagai seseorang yang aneh karena begitu tergila‑gilanya kepada si bocah.

Akhirnya tibalah saatnya anak itu masuk sekolah. Raicharan menjual sebidang tanah kecilnya dan berangkat ke Kalkuta. Di sana setelah bersusah‑payah ia memperoleh pekerjaan sebagai seorang pembantu, dan memasukkan Phailna ke sekolah. Ia rela menanggung penderitaan untuk memberi anak itu pendidikan terbaik, pakaian terbaik, dan makanan terbaik. Sementara untuk dirinya sendiri ia cukup hidup hanya dengan sesuap nasi, dan berkata dalam batinnya:

“Ah, Tuan Kecilku. Tuan Kecilku sayang, kau begitu mencin­taiku karena kau kembali ke rumahku. Kau takkan pernah lagi kuabaikan.”

Dua belas tahunpun berlalu dengan cara demikian. Anak itu telah pandai membaca dan menulis. Ia cerdas, sehat dan tampan. Ia pun sangat memperhatikan penampilannya dan sangat teliti mengatur rambutnya. Ia suka boros dan berdandan bagus serta menggunakan uang seenaknya. Ia tak pernah dapat memandang Raicharan sebagai seorang ‘ayah’ karena meski memberikan kasih‑sayang kebapakan, Raicharan pun berperilaku sebagai seorang pembantu. Satu kesala­han mendasar  adalah bahwa Raicharan merahasiakan kepada siapa saja bahwa dialah sesungguhnya ayah anak itu. Para siswa di asrama tempat Phailna tinggal sangat senang dengan tingkah laku udik Raicharan, dan memang harus diakui bahwa di balik punggung ayahnya, Phailna pun ikut‑ikutan bergabung dengan mereka. Namun di lubuk hati mereka, semua siswa itu mencintai orang tua yang lugu dan berhati lembut ini, dan Phailna pun sangat sayang padanya. Namun seperti telah dikatakan tadi, ia mencintainya sekaligus dengan sikap merendahkannya.

Raicharan semakin uzur, sementara majikannya sering menya­lahkan pekerjaannya yang tidak beres. Ia telah menyiksa dirinya demi anak itu. Maka fisiknya pun menjadi lemah dan tak lagi mampu menunaikan tugas‑tugasnya dengan baik.

Ia mulai pelupa, otaknya menjadi tumpul dan bodoh. Sedang­kan majikannya menginginkan seorang pembantu yang bekerja dengan giat dan tangkas serta tidak mau mentolerir uzur apapun. Uang yang dibawa Raicharan dari hasil menjual tanahnya telah habis. Sementara pemuda itu terus mengomel tentang pakaiannya dan minta uang lebih banyak lagi.

Raicharan akhirnya mengambil keputusan. Ia tak dapat lagi meneruskan bekerja sebagai pembantu, dan sambil meninggalkan sejumlah uang kepada Phailna ia berkata:

“Aku ada urusan yang harus dikerjakan di desa tempat ting­galku, dan akan kembali lagi secepatnya.”

Ia pun berangkat saat itu juga ke Baraset di mana Anukul menjadi hakim. Istri Anukul masih larut dalam kesedihannya. Wanita itu tidak mempunyai anak lainnya.

Pada suatu hari Anukul sedang mengaso setelah melewati satu hari yang panjang dan melelahkan di pengadilan. Istrinya sedang membeli suatu ramuan jamu dengan harga yang sangat mahal dari dukun penjual obat yang katanya bisa membantu kelahiran seorang anak. Terdengar suara sapaan seseorang di halaman. Anukul beran­jak keluar untuk melihat siapa gerangan yang datang, ternyata Raicharan. Hati Anukul luluh ketika melihat mantan pembantunya itu. Ia pun bertanya banyak hal kepadanya, dan menawarinya untuk bekerja lagi.

Raicharan tersenyum simpul dan menjawab, “Saya ingin men­yampaikan sembah takzim kepada nyonya saya.”

Anukul berjalan ke dalam rumah bersama Raicharan, di mana sang nyonya tidak menyambutnya sehangat mantan majikan laki‑lakinya. Namun Raicharan tidak begitu mempedulikan dan hanya merangkapkan kedua belah telapak tangannya.

“Bukan Padma yang telah mencuri putera anda, tapi saya.”

Anukul berseru:

“Astaga! Ha, apa? Di mana dia sekarang?”

Raicharan menjawab, “Ia bersama saya. Akan saya antar besok lusa.”

Saat itu hari Ahad, tidak ada sidang di pengadilan. Kedua suami‑istri itu melihat‑lihat dengan penuh harap ke sepanjang jalan, menanti sejak pagi sekali akan kemunculan Raicharan. Pada pukul sepuluh iapun datang sambil menggandeng tangan Phailna.

Istri Anukul tanpa bertanya‑tanya langsung saja memeluk anak itu dan lupa diri dalam luapan rasa gembira, kadang tertawa‑tawa, kadang menangis, memegang‑megangnya, mencium rambut dan keningnya, dan memandanginya dengan tatapan yang sangat antusias. Pemuda itu sangat elok dan berpakaian seperti putera seorang yang terpandang. Hati Anukul pun diluapi rasa kasih‑sayang yang tiba‑tiba saja muncul.

Meskipun begitu dengan kebijakannya sebagai hakim ia ber­tanya juga:

“Apa kau punya bukti?”

Raicharan menjawab, “Bagaimana ada bukti untuk perbuatan seperti ini? Hanya Tuhan saja yang tahu kalau saya yang telah mencuri putera anda, dan tak ada orang lain lagi di dunia ini.”

Ketika Anukul menyaksikan betapa lengketnya sang istri kepada pemuda itu, ia menyadari hanya sia‑sia saja meminta suatu bukti. Akan lebih bijaksana untuk percaya saja. Lagi pula dari mana laki‑laki tua seperti Raicharan mendapatkan pemuda seperti itu? Dan kenapa pula pembantu kepercayaannya sampai hati menipunya bila tidak ada suatu pamrih sama sekali?

“Tapi…,” katanya menambahkan dengan nada berat, “Raichar­an, kau tidak boleh tinggal di sini.”

“Kemana lagi saya hendak pergi, Tuan?” tanya Raicharan dengan suara tercekik sambil merangkapkan kedua telapak tangannya. Saya sudah tua. Siapa yang mau memperkerjakan seorang laki‑laki tua sebagai pembantu?”

Sang nyonya majikannya berkata, “Biarkan dia tinggal. Anakku akan senang, aku mema’afkannya.”

Tapi naluri hakim Anukul tidak mengijinkannya. “Tidak,” ujarnya, “ia tak dapat dima’afkan atas perbuatannya itu.”

Raicharan membungkuk ke tanah dan memegangi kaki Anukul. “Tuan,” tangisnya, “biarkan saya tinggal. Bukan saya yang melaku­kannya, tapi Tuhan.”

Nurani Anukul lebih terpukul lagi ketika Raicharan berusaha meletakkan kesalahan di pundak Tuhan. “Tidak,” katanya, “aku tak dapat mengijinkannya. Aku tidak lagi dapat mempercayaimu. Kau telah melakukan pengkhianatan.”

Raicharan bangkit berdiri dan berkata, “Bukan saya yang telah melakukannya.”

“Lalu siapa?” tanya Anukul.

Raicharan menjawab, “Nasib saya.”

Tapi tak ada seorang berpendidikanpun yang akan menerima ini sebagai alasan. Anukul tetap pada pendiriannya.

Ketika Phailna melihat kenyataan bahwa dirinya adalah putera seorang hakim yang kaya, dan bukanlah anak Raicharan, mulanya ia marah. Memikirkan bahwa selama ini ia telah ditipu mengenai asal‑usulnya. Namun menyaksikan Raicharan sedang dalam kesulitan begitu, ia berkata dengan baik hati kepada “ayahnya”:

“Ayah, ma’afkanlah dia. Bahkan kalau Ayah tidak mengijin­kannya tinggal bersama kita, biarlah dia mendapat sedikit pensiun bulanan.”

Setelah mendengar ini Raicharan tidak lagi mengucapkan sepatah katapun. Ia memandangi wajah puteranya untuk yang terakhir kalinya lalu memberi hormat kepada mantan tuan dan nyonya maji­kannya. Setelah itu iapun pergi keluar dan menghilang di tengah‑tengah kerumunan manusia di dunia ini.

Pada akhir bulan Anukul mengiriminya sejumlah uang ke desa tempat tinggalnya. Tapi uang itu kembali. Di sana tak ada seorangpun yang bernama Raicharan.

.

RABINDRANATH TAGORE (1861‑1941) penulis India yang bagus ini, penggubah lagu kebangsaan India dan juga Bangladesh, mendapat Hadiah Nobel di bidang sastra pada tahun 1913. Dikenal sebagai seorang penyair, dramawan, dan novelis baik dalam Bahasa Inggris maupun Bengali. Tagore juga seorang tokoh kemanusiaan yang diakui di seluruh dunia. Alih bahasa oleh Syafruddin HASANI.

Satu Tanggapan

  1. Ckckck … sungguh cerita yang sangat menarik …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: