PERANG (War – Cerita Pendek karya Luigi Pirandello)

PERANG

(War – Oleh Luigi Pirandello)
 
Para penumpang yang baru meninggalkan Roma dengan kereta api cepat malam harus berhenti dan menunggu sampai fajar di sebuah stasiun kecil di Fabriano untuk ganti kendaraan dengan menggunakan kereta tradisional kecil yang melewati jalur utama ke Sulmona.

Ketika fajar, dalam sebuah kereta kelas dua yang di dalamnya sudah ada lima orang penumpang yang telah menunggu sejak tadi malam, seorang wanita berbadan gemuk seperti buntelan tak berbentuk dibantu ditarik naik masuk ke dalam. Ia diiringi oleh suaminya, seorang laki‑laki kecil kurus dan lemah—wajahnya pucat pasi, kedua bola matanya kecil dan tajam serta nampak malu‑malu dan kikuk—yang berjalan terengah‑engah.

Akhirnya setelah mendapat tempat duduk dengan sopan ia berterima kasih kepada para penumpang yang telah menolong istrinya tadi serta bersedia meluangkan tempat duduk untuk wanita itu. Kemudian ia berpaling kepada istrinya dan menarik kerah mantelnya, lalu dengan halus bertanya:

“Engkau baik‑baik saja, Sayang?”

Istrinya bukannya menjawab tapi malah menarik lagi kerahnya sampai ke mata seakan ingin menyembunyikan wajahnya.

“Dunia yang parah,” keluhnya sambil tersenyum sedih.

Dan ia merasa menjadi tugasnya untuk menjelaskan kepada teman‑teman seperjalanannya bahwa wanita yang malang itu perlu dikasihani, karena perang telah merebut putra satu‑satunya, seo‑rang pemuda berusia dua puluh satu tahun yang mana kedua orang­tuanya telah mencurahkan seluruh hidup mereka untuknya, bahkan sampai meninggalkan rumah mereka di Sulmona untuk mengikutinya ke Roma di mana ia harus melanjutkan studinya. Kemudian melepasnya untuk ikut wajib militer dengan jaminan bahwa paling tidak dalam waktu enam bulan ia tidak akan dikirim ke medan perang, tapi sekonyong‑konyong mereka menerima telegram yang memberitahukan bahwa pemuda itu akan dikirim dalam waktu tiga hari dan meminta mereka berdua supaya mengantar keberangkatannya.

Wanita bermantel besar itu meronta‑ronta kecil di tempat duduknya dan berkali‑kali menggeram seperti seekor binatang buas, dia merasa yakin bahwa segala penjelasan itu tidak akan menumbuh­kan walau hanya sekedar simpati dari orang‑orang itu, yang seba­gian besar sama‑sama bernasib malang seperti dirinya. Salah seorang di antara mereka itu yang mendengarkan dengan perhatian khusus berkata:

“Seharusnya kalian bersyukur karena putra kalian baru sekarang dikirim ke front. Putraku telah dikirim sejak hari pertama pertempuran. Ia sudah dua kali pulang dalam keadaan luka dan setelah sembuh dikirim kembali ke front.”

“Bagaimana denganku? Aku memiliki dua orang putra dan tiga orang kemenakan di medan perang,” sambung penumpang yang lain.

“Mungkin, tapi bagi kami ia adalah anak satu‑satunya,” jawab sang suami membela diri.

“Apa bedanya? Anda bisa saja memanjakan anak satu‑satunya itu dengan perhatian yang berlebihan, tapi anda tidak bisa mencintainya lebih daripada anak‑anak lainnya seandainya anda juga punya. Kasih sayang orangtua tidak sama seperti sepotong kue yang bisa diiris‑iris lalu dibagi rata kepada semua anak. Seorang ayah akan memberika semua kasih sayangnya kepada setiap anaknya tanpa perkecualian, tidak peduli apakah satu atau sepuluh anak. Dan kalau sekarang aku menderita karena dua orang putraku, bukan berarti aku menderita untuk masing‑masing mereka setengah, bahkan penderitaanku berganda….”

“Benar, benar…,” desah sang suami yang nampak malu itu, “tapi seandainya (tentu saja kita semua berharap anda tidak akan pernah mengalaminya) seorang ayah memiliki dua orang putra di garis depan, lalu ia kehilangan salah seorang di antara mereka, maka ia masih memiliki seorang lagi sebagai pelipur laranya, sementara….”

“Ya,” potong temannya, “masih ada seorang anak sebagai pelipur lara baginya. Tapi juga demi anak yang satu itu ia harus tetap mempertahankan hidupnya. Sementara dalam kasus seorang ayah yang memiliki anak tunggal, jika anak itu mati maka sang ayah pun bisa ikut mati dan kesedihannya akan berakhir. Mana di antara dua posisi ini yang lebih buruk? Tidakkah anda lihat bahwa keadaanku bisa lebih buruk daripada keadaan anda?”

Nonsense!” interupsi seorang penumpang yang lain, seorang pria gemuk berwajah kemerahan dengan mata yang lelah.

Napasnya tersengal‑sengal. Dari kedua bola matanya yang menonjol keluar seolah‑olah akan menyemprotkan gejolak dahsyat dalam dirinya yang sudah tak terkendali dan hampir tidak kuat lagi ditanggung oleh tubuhnya yang lemah.

Nonsense,” ulangnya sambil berusaha menutupi mulutnya dengan telapak tangan seakan untuk menyembunyikan dua gigi depannya yang sudah ompong. “Nonsense. Apakah kita memberi kehidupan bagi anak‑anak kita untuk kepentingan kita sendiri?”

Para penumpang yang lain memandangnya dengan bingung. Salah seorang yang tadi anaknya dikirim ke front sejak hari pertama peperangan mendesah, “Anda benar. Anak‑anak kita bukan milik kita, mereka adalah milik negara ….”

Bosh,” potong laki‑laki gemuk tadi. “Apakah kita memikirkan negara saat kita memberi hidup kepada anak‑anak kita? Anak‑anak kita itu lahir … ya … karena mereka memang harus lahir. Dan ketika mereka memasuki kehidupan ini mereka membawa kehidupan kita ke dalam kehidupan mereka. Inilah yang sesungguhnya. Kita milik mereka tapi mereka tidak pernah jadi milik kita. Dan ketika mereka mencapai umur dua puluh, mereka pun sama seperti kita dulu waktu seusia mereka. Kita juga punya ayah dan ibu, namun di samping itu juga ada banyak lagi hal‑hal lainnya … gadis‑gadis, rokok, angan‑angan, dasi baru…dan negara, tentu saja, yang seruannya kita penuhi—ketika kita berumur dua puluh—bahkan walaupun ayah dan ibu tidak mengijinkan. Dalam usia kita yang sekarang ini, rasa cinta kepada tanah air masih tetap besar, tentu saja, tapi lebih kuat daripada itu adalah rasa cinta kepada anak‑anak kita sendiri. Apakah ada di antara kita di sini yang tidak dengan senang hati akan mengambil alih tempat anaknya di medan perang jika saja ia mampu?”

Sunyi. Masing‑masing mengangguk‑angguk seakan setuju.

“Mengapa kemudian,” lanjut laki‑laki gemuk tadi, “kita tidak memikirkan perasaan anak‑anak kita ketika mereka telah berumur dua puluh? Bukankah wajar saja dalam usianya yang sekarang ini mereka seharusnya mencintai negara mereka (tentu saja bagi seorang pemuda yang baik) lebih besar terhadap kecintaan mereka kepada kita? Bukankah wajar saja begitu, paling tidak mereka harus menganggap kita sebagai bocah‑bocah tua yang sudah tidak bisa apa‑apa lagi dan harus tinggal di rumah? Kalau negara ada, kalau negara adalah kebutuhan pokok seperti roti yang mana kita semua harus pergi dan membelanya. Dan putra‑putra kitapun pergi, ketika mereka telah berumur dua puluh. Mereka tidak membutuhkan air mata kita, karena kalau mereka gugur, mereka gugur dengan penuh semangat dan kebahagiaan (bagi seorang pemuda yang baik, tentu saja). Sekarang, jika seseorang mati muda dan bahagia, tanpa memiliki sisi gelap kehidupan, kemuakan terhadapnya, kepicikan, kekecewaan yang pahit … apa lagi yang bisa kita pintakan untuknya? Setiap orang harus berhenti menangis, setiap orang harus tertawa, seperti aku … atau paling tidak bersyukur kepada Tuhan, seperti aku ini. Karena putraku sebelum meninggalnya, mengirimkan pesan kepadaku yang mengatakan bahwa ia mati dalam keadaan puas karena hidupnya berakhir dengan cara terbaik yang dapat diharapkannya. Itulah sebabnya mengapa aku sekarang ini, seperti yang kalian saksikan, tidak bersedih ….”

Ia mengibaskan sebelah sisi belahan mantelnya seakan hendak memamerkannya. Bibir pucatnya yang menutupi gusinya yang ompong bergetar. Kedua bola matanya yang berkaca‑kaca menatap terpaku. Lalu ia mengakhiri kata‑katanya dengan sebuah tawa melengking yang terdengar seperti suara tangis yang terisak‑isak.

“Ya, ya,” yang lain menyetujui.

Sementara perempuan tadi, yang terbungkus dengan mantelnya di pojokan, duduk sambil menyimak penuh perhatian. Sudah selama tiga bulan terakhir ini ia berusaha mencari di antara kata‑kata suaminya dan kawan‑kawannya sendiri sepotong kalimat yang dapat menghiburnya untuk mengatasi kesedihan yang dalam ini. Sepotong kalimat yang dapat menunjukkan kepadanya bagaimana seorang ibu mesti bersedia mengikhlaskan hatinya untuk melepas putranya bukan hanya untuk kematian saja tapi bahkan untuk suatu kehidupan yang berbahaya. Dan dari sekian banyak ucapan‑ucapan itu ia belum menemukan sepatah katapun … dan kesedihannya semakin dalam setelah merasa—menurut dugaannya—tak seorangpun yang dapat berbagi perasaan dengannya.

Akan tetapi sekarang ucapan‑ucapan dari penumpang tadi itu mengejutkannya dan hampir membuatnya pingsan. Tiba‑tiba saja ia menyadari bahwa bukan hanya orang lain saja yang salah dan tidak dapat mengerti, tapi bahkan dia sendiri juga tidak bisa menempatkan dirinya pada tingkatan para ayah dan ibu yang sanggup merelakan, tanpa tangis, bukan hanya untuk kepergian putra mereka saja, namun bahkan untuk kematiannya.

Dia membungkuk di pojokan dan menengadahkan wajahnya sambil berusaha menyimak  dengan teliti atas detil‑detil yang diceritakan oleh laki‑laki gemuk itu kepada teman‑teman seperjalanannya tentang bagaimana ketika putranya itu gugur sebagai seorang pahlawan untuk raja dan negerinya, dengan bahagia dan tanpa penyesalan.

Rasanya bagi perempuan itu dirinya telah tersesat ke suatu dunia yang tak pernah dibayangkannya, dunia yang begitu jauh tak dikenalnya dan dia begitu senang mendengar setiap orang bersama‑sama mengucapkan selamat kepada sang ayah yang tegar itu, yang dapat dengan begitu tabah menceritakan tentang kematian putranya.

Kemudian sekonyong‑konyong, seperti tidak pernah mendengar apa‑apa dari cerita yang baru saja diucapkan tadi dan hampir seperti terbangun dari mimpi, dia bertanya kepada laki‑laki tua itu:

“Lalu, apakah putra anda benar‑benar sudah mati?”

Semua orang kini memandangnya. Laki‑laki tua tadi juga berpaling ke arahnya. Kedua bola matanya yang besar menonjol dan berwarna abu‑abu muda dengan berkaca‑kaca menatap lekat‑lekat ke wajah si perempuan. Untuk beberapa saat ia mencoba menjawab, namun kata‑katanya tersekat di tenggorokan. Ia memandangi dan memandangi terus wanita itu, seakan baru sekarang—karena per­tanyaan yang bodoh dan sembrono itu—tiba‑tiba ia menyadari bahwa pada akhirnya putranya memang sungguh‑sungguh telah mati. Anak itu telah pergi untuk selamanya,  selamanya ….

Wajahnya berkerut, berubah mengerikan, kemudian dengan cepat ia merenggut sehelai sapu tangan dari tasnya dan membuat semua orang terkejut ketika tangisnya meledak di dalam sedu‑sedan yang pedih memilukan hati.

 

LUIGI PIRANDELLO (1867 ‑ 1936), meskipun kebanyakan masa hidupnya dihabiskan di Roma, namun ia lahir dan berasal dari Sisilia asli. Meski kehidupan rumah tangganya tidak bahagia dan ia tidak merasa cocok dengan karirnya sebagai guru, tapi ia memproduksi banyak karya hebat di bidang cerita pendek, novel dan drama. Penghargaan baru diperolehnya setelah memasuki usia lima puluh tahunan. Di antara karya‑karya besarnya adalah naskah drama yang berjudul Six Character in Search of An Autor dan As You Desire Me. Ia menerima Hadiah Nobel pada tahun 1934. Alih bahasa Syafruddin HASANI.

 

PELAGEYA – Cerita Pendek karya Mikhail Zoshchenko

PELAGEYA

Oleh Mikhail Zoshchenko

Pelageya adalah seorang perempuan yang buta huruf. Bahkan menulis namanya sendiripun ia tidak bisa.

Di lain pihak, suaminya adalah seorang pegawai Sovyet yang bertanggung jawab. Meskipun dulunya hanya seorang petani biasa yang sederhana, namun setelah tinggal selama lima tahun di kota pria itu telah belajar banyak. Bukan hanya bagaimana menulis namanya sendiri tapi juga banyak hal‑hal lainnya.

Dan pria itu sangat malu memiliki seorang istri yang buta huruf.

“Kau, Pelageyushka, paling tidak harus bisa menulis namamu sendiri,” katanya kepada Pelageya. “Nama terakhirku pun cukup mudah. Hanya dua suku kata, Kuch‑kin. Namun kau tetap tak bisa menulisnya. Payah.”

Namun Pelageya tak pernah peduli. “Tak ada gunanya bagiku mempelajarinya sekarang ini, Ivan Nikolaevich,” begitulah jawa­bannya selalu. “Umurku makin tua. Jari‑jariku semakin kaku. Untuk apa aku belajar membuat huruf‑huruf itu sekarang? Biar yang muda‑muda saja yang belajar. Biarlah di usiaku ini aku apa adanya begini saja.”

Suami Pelageya adalah seorang yang amat sibuk sehingga tidak dapat membuang banyak waktu untuk meladeni istrinya. Ia hanya menggeleng‑gelengkan kepalanya seakan berkata, “Oh, Pela­geya, Pelageya!” Akan tetapi mulutnya tetap diam.

Namun suatu hari Ivan Nikolaevich membawa pulang sebuah buku kecil yang istimewa.

“Ini, Polya,” katanya, “adalah buku latihan membaca metode CBSA terbaru, berdasar metode yang paling up‑to‑date. Akan kua­jari caranya.”

Pelageya tertawa dalam hati, diambilnya buku itu, dibalik lalu disembunyikannya di lemari rias, seakan berkata, “Biarlah dia di situ. Barangkali cucu‑cucu kita kelak memerlukannya.”

Tapi pada suatu hari Pelageya sedang duduk bekerja. Ia harus menambal jaket Ivan Nikolaevich yang lengannya berlobang.

Pelageyapun duduk di depan meja. Ia mengambil jarum dan meletakkan tangannya di bawah jaket ketika mendengar ada sesuatu yang bergemerisik.

“Mungkin uang,” pikir Pelageya.

Dia mencari‑cari lalu menemukan sepucuk surat. Surat yang cantik beramplop manis. Ada tulisan tangan yang kecil‑kecil dan rapi, dari kertasnya pun tercium bau parfum yang wangi.

Jantung Pelageya tersentak.

“Mungkinkah Ivan Nikolaevich selingkuh?” batinnya. “Mungkin­kah ia bertukar surat‑surat cinta dengan para wanita terpelajar dan melecehkan istrinya yang bodoh dan buta huruf ini?”

Pelageya memperhatikan amplop itu, mengeluarkan suratnya dan membuka lipatannya. Tapi karena buta huruf maka tak satu katapun yang dapat dibacanya. Baru kali inilah seumur hidupnya ia merasa menyesal karena tak dapat membaca.

“Meskipun ini barangkali surat orang lain,” pikirnya, “aku tetap harus tahu apa isinya. Barangkali seluruh hidupku akan berubah dan aku akan kembali ke desa dan bekerja sebagai petani.”

Pelageya menangis dan mulai berpikir bahwa Ivan Nikolaevich telah berubah akhir‑akhir ini. Ia kini lebih rajin merawat ku­misnya dan lebih sering mencuci tangannya. Pelageya duduk sambil memperhatikan surat itu dan mendengking seperti seekor babi yang sedang dibunuh dengan cara ditusuk. Tapi apa daya ia tak dapat membaca surat itu. Sementara kalau menunjukkannya kepada orang lain ia merasa malu.

Pelageya menyembunyikan surat tadi di dalam lemari rias, lalu menyelesaikan pekerjaan menjahitnya dan menunggu Ivan Niko­laevich pulang ke rumah.

Namun ketika suaminya telah tiba ia sama sekali tidak menunjukkan bahwa telah terjadi sesuatu. Sebaliknya, ia justru berbicara kepada suaminya dengan nada suara yang tenang dan bahkan mengisyaratkan bahwa ia tidak berkeberatan untuk belajar sedikit dan merasa sudah jenuh menjadi orang awam yang bodoh dan buta huruf.

Ivan Nikolaevich sangat gembira mendengarnya. “Bagus!” katanya. “Nanti akan kutunjukkan bagaimana caranya.”

“Baik, ayolah!” sahut Pelageya.

Dan iapun memandang lekat‑lekat ke arah kumis tipis Ivan Nikolaevich yang terpangkas rapi.

Selama dua bulan Pelageya berlatih membaca setiap hari. Dengan sabar diejanya kata‑kata, belajar membuat huruf‑huruf, dan menghafalkan kalimat‑kalimat. Dan setiap sore diambilnya surat simpanan itu dari lemari rias dan berusaha menguraikan rahasia makna‑maknanya.

Tapi hal itu tidak gampang. Barulah pada bulan ketiga kemampuan Pelageya lancar.

Pada suatu pagi ketika Ivan Nikolaevich telah pergi beker­ja, Pelageya mengambil surat itu dari lemari rias dan mulai membacanya.

Ia mengalami kesukaran memahami tulisan tangan yang kecil‑kecil, namun bau parfum yang hampir hilang dari kertas itu telah memacunya untuk terus. Surat itu dialamatkan kepada Ivan Nikolae­vich. Pelageya membaca:

Kepada Kamerad Kuchkin,

Kukirimkan buku latihan membaca yang dulu kujanjikan. Kurasa istrimu bisa menguasai pengetahuan yang luas ini dalam waktu dua atau tiga bulan. Berjanjilah kepadaku untuk membujuknya, Bung. Buat dia mengerti betapa sialnya menjadi seorang perempuan awam yang buta huruf.

Untuk merayakan ulang tahun Revolusi, kita sedang mengha­puskan buta huruf di seluruh Republik dengan segala cara. Namun karena sesuatu hal kita justru lupa terhadap orang‑orang yang dekat dengan kita.

Aku yakin kamu pasti bisa, Ivan Nikolaevich.

Salam komunis

Maria Blokhina

Pelageya membaca seluruh isi surat itu dua kali. Lalu dengan perasaan sedih ia menekankan kedua bibirnya dan entah bagaimana diam‑diam merasa terhina. Tiba‑tiba air matanya jatuh berlinang.

MIKHAIL ZOSHCHENKO (1895‑1958) adalah salah seorang penulis humor paling populer di Rusia selain Chekov. Tulisan‑tulisannya yang tajam mengenai gambaran kehidupan di Soviet kadang‑kadang membawa kesulitan bagi dirinya dengan para penguasa. Cerita ini disadur dari versi terjemahan Bahasa Rusia ke Inggris. Alih bahasa Indonesia oleh Syafruddin HASANI.

TUHAN MAHA TAHU, TAPI SABARLAH…. (God Sees The Truth, But Waits… – Cerita Pendek karya Leo Tolstoy)

TUHAN MAHA TAHU, TAPI SABARLAH….

(God Sees The Truth, But Waits… Oleh Leo Tolstoy)

Di kota Vladimir hiduplah seorang saudagar muda yang bernama Ivan Dimitrich Aksionov. Ia memiliki sebuah rumah dan dua buah toko.

Aksionov adalah seorang pria tampan berambut pirang keriting, penuh canda dan gemar menyanyi. Ketika masih sangat muda ia suka minum‑minum dan bikin ribut kalau mabuk. Tapi setelah menikah ia pun berhenti minum, kecuali sesekali saja.

Pada suatu musim panas Aksionov akan berangkat ke Pasar Malam Nizhny, dan ketika berpamitan dengan keluarganya, istri­nya berkata, “Ivan Dimitrich, jangan berangkat hari ini. Aku telah bermimpi buruk tentangmu.”

Aksionov tertawa dan menyahut, “Kau khawatir kalau sesampainya di sana nanti, aku akan berfoya‑foya.”

Istrinya menjawab, “Aku tak tahu apa yang kukhawatirkan, yang kutahu hanyalah bahwa aku telah bermimpi buruk. Dalam mimpi itu kulihat setelah kau pulang dari kota dan membuka topi, seluruh rambutmu telah ubanan.”

Aksionov tertawa. “Itu pertanda baik,” ujarnya. “Lihat kalau sampai aku tidak menjual habis semua barang‑barangku, dan membawakanmu oleh‑oleh dari sana.”

Maka iapun berpamitan kepada keluarganya dan berangkat dengan kereta kudanya.

Ketika baru setengah perjalanan ia berjumpa dengan seorang saudagar kenalannya, dan merekapun menginap di losmen yang sama malam itu. Mereka menikmati teh bersama dan setelah itu berangkat ke tempat tidur di ruang yang bersebelahan.

Bukanlah kebiasaan Aksionov untuk tidur sampai larut, dan karena ingin berangkat ketika hari masih dingin, ia mem­bangunkan kusirnya sebelum fajar dan menyuruhnya menyiapkan kuda. Kemudian ia pergi ke tempat pemilik losmen yang tinggal di sebuah pondok di belakang, membayar sewanya dan melanjutkan perjalanan.

Setelah berjalan kira‑kira sejauh dua puluh lima mil, ia menyuruh berhenti untuk memberi makan kuda. Aksionov beristi­rahat sejenak di gang losmen, lalu ia beranjak ke serambi depan dan sambil menyuruh untuk memanaskan samovar, iapun mengeluarkan gitarnya dan mulai memainkannya.

Tiba‑tiba sebuah troika mendekat dengan bunyi lonceng yang bergemerincing, seorang perwira turun diikuti oleh dua orang prajurit. Ia mendatangi Aksionov dan mulai menanyainya, tentang siapa dia dan kapan dia datang. Aksionov menjawab semua pertanyaannya, dan berkata,”Bersediakah Anda minum teh bersama saya?” Tapi sang perwira tetap meneruskan menanyainya.

“Di mana Anda menginap tadi malam? Apakah Anda sendirian ataukah bersama seorang saudagar yang lain? Apakah Anda ber­jumpa dengan seorang saudagar yang lain pagi ini? Kenapa Anda tinggalkan losmen itu sebelum fajar?”

Aksionov heran kenapa ia ditanyai dengan semua perta­nyaan itu, namun iapun menceritakan juga semua yang telah dialaminya, lalu menambahkan, “Kenapa Anda menanyai saya berulang‑ulang begitu seakan‑akan saya ini seorang pencuri atau perampok saja? Saya sedang dalam perjalanan bisnis, dan tidak perlu menginterogasi seperti itu.”

Kemudian sang perwira sambil memanggil para prajurit berkata, “Saya adalah perwira polisi di distrik ini, dan saya menanyai Anda karena saudagar yang menginap bersama Anda semalam telah ditemukan dalam keadaan tewas dengan leher tergorok. Kami harus memeriksa barang‑barang Anda.”

Merekapun memasuki rumah. Para prajurit dan perwira polisi tadi membuka kopor‑kopor Aksionov dan menggeledahnya. Tiba‑tiba sang perwira menarik sebilah pisau dari sebuah tas sambil berseru, “Pisau siapa ini?” Aksionov yang melihat sebilah pisau bernoda darah ditarik dari tasnya menjadi takut.

“Bagaimana ada darah di pisau ini?”

Aksionov berusaha menjawab namun dengan susah payah hanya mampu berucap dengan terbata‑bata:

“A‑ku ti‑dak ta‑hu. Bu‑kan mi‑lik‑ku.”

Kemudian sang perwira polisi berkata, “Pagi ini saudagar itu ditemukan di atas ranjang dengan leher tergorok. Andalah satu‑satunya orang yang dapat melakukannya. Rumah itu dikunci dari dalam dan tak ada orang lain di sana. Pisau bernoda darah ini berada di dalam tas Anda, lagi pula sudah jelas kelihatan dari wajah dan sikap Anda! Katakan bagaimana Anda membunuhnya, dan berapa banyak uang yang Anda curi?”

Aksionov bersumpah bahwa dirinya tidak melakukan hal itu. Dia tidak berjumpa lagi dengan saudagar itu sejak mereka usai minum teh bersama, dia tidak punya uang selain delapan ribu rubel miliknya sendiri, dan bahwa pisau itu bukan milik­nya. Tapi suaranya pecah, wajahnya pucat, dan dia pun gemetar ketakutan seakan‑akan memang bersalah.

Sang perwira polisi memerintahkan anak buahnya untuk mengikat Aksionov dan memasukkannya ke dalam kereta. Ketika mereka mengikat kedua kakinya jadi satu dan menghempaskannya ke dalam kereta, Aksionov berdoa dengan membuat isyarat tanda salib dengan tangannya dan menangis. Uang dan barang‑barangnya disita, ia dikirim ke kota terdekat dan ditahan di sana. Penyelidikan tentang diri­nya dilakukan di Vladimir. Para saudagar dan penduduk lain di kota itu mengatakan bahwa dulunya ia memang suka minum‑minum dan membuang‑buang waktu percuma, namun dia adalah orang baik. Kemudian sidang pengadilanpun digelar: ia dituduh telah membu­nuh seorang saudagar dari Ryazan dan merampoknya sebanyak dua puluh ribu rubel.

Istrinya putus asa dan tidak tahu apa yang harus dipercaya. Anak‑anaknya masih kecil, yang seorang malah masih menyusu. Sambil membawa mereka semua, ia berangkat ke kota di mana suaminya ditahan. Mulanya ia tidak diijinkan menjumpai suami­nya, namun setelah memohon dengan amat sangat, iapun mendapat­kan ijin dari para pejabat dan diantar menemui suaminya. Ketika melihat suaminya memakai seragam tahanan dan dirantai, dikurung bersama para pencuri dan penjahat—wanitu itupun jatuh pingsan dan tidak sadar‑sadar sampai beberapa lama. Setelah siuman ia menarik anak‑anaknya ke dirinya dan duduk di samping suaminya. Diceritakannya tentang keadaan di rumah, dan menanyakan apa yang menimpa suaminya. Pria itupun menceritakan semuanya. Lalu sang istri bertanya, “Apa yang dapat kita per­buat sekarang?”

“Kita harus mengajukan permohonan kepada Tsar agar tidak membiarkan orang yang tidak bersalah binasa.”

Istrinya mengatakan bahwa ia telah mengajukan permohonan itu kepada Tsar, tapi tidak dikabulkan. Aksionov tidak menja­wab namun hanya tampak putus asa.

Kemudian istrinya berkata, “Ternyata bukan tak ada artinya aku dulu bermimpi rambutmu ubanan. Masih ingatkah? Seharusnya kau tidak berangkat pada hari itu”. Dan sambil membelai rambut suaminya iapun berkata, “Vanya, sayang, kata­kanlah yang sejujurnya kepada istrimu ini. Apakah memang bukan kau yang melakukannya?”

“Jadi kaupun mencurigaiku!” sahut Aksionov, dan sambil membenamkan wajahnya ke dalam telapak tangan, iapun menangis. Lalu datanglah seorang prajurit yang mengatakan bahwa sang istri dan anak‑anaknya harus pergi. Aksionovpun mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya untuk yang terakhir kali­nya.

Ketika mereka telah pergi, Aksionov mengingat‑ingat percakapan tadi, dan ketika terkenang bahwa istrinyapun ikut mencurigainya, ia berkata pada dirinya, “Tampaknya hanya Tuhan saja yang tahu kebenaran ini, hanya kepada‑Nya kita berdoa dan minta ampun.”

Dan Aksionovpun tidak lagi mengajukan petisi dan berha­rap banyak, ia hanya berdoa kepada Tuhan.

Aksionov dijatuhi hukuman cambuk dan dikirim ke pertam­bangan. Iapun dicambuk dengan cemeti, dan setelah luka‑luka cambukan itu sembuh, ia dibawa ke Siberia bersama para pekerja paksa lainnya.

Selama dua puluh enam tahun Aksionov hidup sebagai seorang pekerja paksa di Siberia. Rambutnya berubah menjadi seputih salju, janggutnyapun tumbuh panjang, tipis, berwarna abu‑abu. Semua keceriaannya punah, ia selalu menunduk, berja­lan perlahan, sedikit bicara, dan tak pernah tertawa, namun sering berdoa.

Di dalam penjara Aksionov belajar membuat sepatu boot, dan memperoleh sedikit uang yang dibelikannya buku Kehidupan Orang‑Orang Saleh. Ia membaca buku itu ketika terdapat cukup cahaya di dalam penjara. Dan setiap hari Ahad di dalam gereja penjara ia membaca pelajaran‑pelajaran serta ikut menyanyi dalam paduan suara karena suaranya masih bagus.

Para pejabat penjara menyukai Aksionov karena kepatuhan­nya, dan teman‑teman sesama napi pun menghormatinya. Mereka menjulukinya dengan sebutan “Kakek” dan “Orang Saleh”. Kalau mereka ingin mengajukan permohonan kepada para pejabat penjara tentang hal apa saja, mereka selalu mengangkat Aksionov seba­gai juru bicaranya. Dan manakala terjadi keributan di antara sesama napi, mereka datang kepadanya untuk memutuskan perkara yang benar.

Tak ada berita yang sampai kepada Aksionov dari rumah­nya, bahkan iapun tak tahu apakah istri dan anak‑anaknya masih hidup.

Suatu hari sekelompok tahanan kerja paksa baru didatang­kan ke penjara. Sorenya, para napi lama mengerumuni rekan‑rekannya yang baru itu dan menanyai mereka: dari kota atau desa mana saja mereka berasal dan dihukum karena perbuatan apa. Di tengah‑tengah istirahat, Aksionov duduk di dekat para pendatang baru itu dan ikut mendengarkan dengan roman muka putus asa atas apa yang diucapkan.

Salah seorang di antara pekerja paksa baru itu adalah seorang pria berumur enam puluh tahunan berperawakan tinggi kekar dan berjenggot lebat terpangkas rapi, ia sedang berceri­ta kepada yang lainnya kenapa dirinya ditahan.

“Baiklah, teman‑teman,” ujarnya, “aku hanya mengambil seekor kuda yang sedang diikat di pengeretan. Lalu aku ditahan dan dituduh atas pencurian. Telah kukatakan bahwa aku mengam­bilnya supaya bisa cepat pulang ke rumah, kemudian melepasnya pergi. Lagi pula, pengendaranya adalah temanku sendiri. Dengan demikian aku bilang, ‘Itu tidak apa‑apa’. Tapi mereka mengata­kan, ‘Tidak. Kau telah mencurinya’. Tapi bagaimana dan kapan aku mencurinya mereka tak dapat menunjukkannya. Dulu, pernah sekali aku memang sungguh‑sungguh berbuat salah, dan seharus­nya berdasar hukum sudah berada di sini sejak lama, tapi ketika itu aku tidak tertangkap. Kini aku dikirim kemari tanpa alasan sama sekali…. Eh, tapi itu cuma bohong yang kucerita­kan kepada kalian. Aku pernah ke Siberia sebelumnya namun tidak tinggal lama.”

“Dari mana asalmu?” tanya seseorang.

“Dari Vladimir. Keluargaku berasal dari kota itu. Namaku Makar, dan mereka juga memanggilku Semyonich.”

Aksionov mengangkat kepalanya dan berkata, “Katakan padaku, Semyonich, apakah kau tahu sesuatu tentang keluarga saudagar Aksionov dari Vladimir? Apakah mereka masih hidup?”

“Tahu tentang mereka? Tentu saja. Keluarga Aksionov kaya, meskipun ayah mereka berada di Siberia, tampaknya seo­rang pendosa juga seperti kita! Lalu bagaimana dengan Anda sendiri, Kek? Bagaimana Anda bisa sampai di tempat ini?”

Aksionov tidak ingin menceritakan kemalangannya. Ia hanya mendesah dan berkata, “Karena dosa‑dosaku maka aku berada di dalam penjara selama dua puluh enam tahun ini.”

“Dosa‑dosa apa?” tanya Makar Semyonich.

Namun Aksionov hanya berkata, “Yah… aku memang layak mendapatkannya!”

Ia tak ingin berkata lebih banyak, namun teman‑temannya memberitahukan kepada para pendatang baru itu bagaimana Aksio­nov bisa sampai ke Siberia. Bagaimana seseorang telah membunuh seorang saudagar, lalu menyelipkan pisaunya ke dalam barang‑barang Aksionov, dan Aksionovpun secara tidak adil telah dijatuhi hukuman.

Ketika Makar Semyonich mendengar semua ini, ia meman­dangi Aksionov, dan berseru sambil menepuk‑nepuk lututnya sendiri, “Wow, sungguh luar biasa! Sangat luar biasa! Tapi betapa cepatnya kau menjadi tua, Kek!”

Yang lainnyapun menanyainya kenapa ia begitu terkejut, dan di manakah ia pernah melihat Aksionov sebelumnya, namun Makar Semyonich tidak memberikan jawaban. Ia hanya berkata, “Ini luar biasa bahwa kita akan bertemu di sini, hai budak‑budak!”

Kata‑kata ini membuat Aksionov bertanya‑tanya apakah pria ini tahu siapa sesungguhnya yang dulu membunuh sang saudagar, maka iapun berkata, “Semyonich, barangkali kau pernah mendengar kejadian itu, atau mungkin kau pernah meli­hatku sebelum ini?”

“Apakah aku pernah mendengarnya? Dunia ini penuh dengan desas‑desus. Tapi peristiwa itu sudah lama sekali dulu, dan aku telah lupa apa yang kudengar.”

“Barangkali kau pernah mendengar siapa yang membunuh saudagar itu?” tanya Aksionov.

Makar Semyonich tertawa dan menjawab, “Dia itu pastilah orang yang di dalam tasnya ditemukan pisau tersebut! Kalaulah  ada orang lain yang meletakkannya di sana, maka ada ungkapan: ‘Dia bukan pencuri sampai tertangkap’, bagaimana ada orang yang bisa meletakkan sebilah pisau di dalam tasmu yang berada di bawah kepalamu? Pastilah akan membuatmu terbangun.”

Ketika Aksionov mendengar kata‑kata ini, ia merasa yakin bahwa orang inilah yang telah membunuh saudagar itu. Iapun bangkit dan pergi. Sepanjang malam itu Aksionov terbaring dalam keadaan jaga. Dia merasa sangat sedih, dan berbagai bayangan muncul di benaknya. Ada bayangan istrinya saat ia meninggalkannya untuk pergi ke pasar malam. Dia melihat wanita itu seakan‑akan hadir: wajah dan matanya muncul di hadapannya, ia mendengar bicara dan tawanya. Lalu ia melihat anak‑anaknya, masih kecil‑kecil ketika itu, yang seorang mengenakan mantel mungil sedangkan yang satunya lagi masih menyusu di dada ibunya.

Lalu ia pun mengenang dirinya sendiri kala itu: muda dan ceria. Ia ingat ketika duduk bermain gitar di beranda losmen itu, di mana dirinya ditangkap. Betapa dulu ia tak pernah merasa susah.

Di benaknya ia melihat tempat di mana dirinya dicambuk, sang algojo, orang‑orang yang berdiri di sekelilingnya, ran­tai‑rantai itu, para pekerja paksa, semua dua puluh enam tahun kehidupannya di penjara, dan usia tuanya yang prematur. Menge­nang semua itu membuatnya sangat sedih hingga ingin rasanya bunuh diri.

“Dan semua ini karena perbuatan bajingan itu!” batinnya. Dan kemarahannya sangat besar kepada Makar Semyonich sehingga ia ingin sekali melakukan balas dendam, walaupun dirinya sendiri harus hancur karenanya. Ia terus mengulang‑ulang doa sepanjang malam itu, namum tetap tidak bisa merasa tentram. Selama siang harinya ia tidak mau berada di dekat Makar Semyo­nich, ataupun melihat ke arahnya.

Dua pekan berlalu seperti itu. Aksionov tak dapat tidur tiap malamnya, dan begitu menderita sehingga tak tahu apa yang harus dikerjakan.

Suatu malam ketika sedang berjalan‑jalan di sekitar penjara ia melihat seonggok tanah terlempar keluar dari bawah salah satu dipan bersusun tempat tidur para napi. Iapun ber­henti untuk mengamati apakah itu gerangan. Tiba‑tiba Makar Semyonich merangkak keluar dari bawah dipan tadi dan memandang ke atas kepada Aksionov dengan ketakutan. Aksionov berusaha berlalu tanpa memandang ke arahnya, tapi Makar Semyonich mencengkeram lengannya dan mengatakan kepadanya bahwa ia telah menggali sebuah lubang di bawah dinding, membuang tanahnya dengan cara memasukkannya ke dalam sepatu boot‑nya yang ting­gi, lalu membuangnya setiap hari ke jalan ketika para napi sedang digiring untuk bekerja.

“Pokoknya kau diam saja, Pak Tua. Dan kaupun akan ikut keluar juga. Kalau kau sampai berkicau maka mereka akan men­cambukku sampai mati, tapi sebelum itu aku akan membunuhmu lebih dulu.”

Aksionov bergetar marah ketika memandang musuhnya. Ia merenggutkan tangannya seraya berkata, “Aku tak ingin melolos­kan diri. Dan kaupun tak perlu membunuhku, kau telah membunuh­ku sejak lama! Tentang melaporkan perbuatanmu ini, aku boleh melakukannya atau tidak, Tuhanlah yang memberi petunjuk.”

Pada hari berikutnya ketika para napi digiring ke peker­jaan mereka, patroli tentara melihat salah seorang napi sedang membuang tanah dari sepatu boot‑nya. Penjara tersebut digele­dah dan terowongan itupun ditemukan. Sang gubernur datang dan menanyai semua napi untuk mencari tahu siapa yang telah meng­gali lubang itu. Mereka semua menyangkal mengetahui hal terse­but. Orang‑orang yang tahupun tidak mau mengkhianati Makar Semyonich, karena tahu bahwa ia akan dicambuk sampai hampir mati.

Akhirnya sang gubernur berpaling kepada Aksionov yang diketahuinya sebagai seorang yang jujur, dan berkata, “Kau adalah seorang tua yang bisa dipercaya, katakan padaku, di depan Tuhan, siapa yang telah menggali lubang itu?”

Makar Semyonich berdiri dengan lagak seakan‑akan tidak begitu peduli, dia memandang kepada sang gubernur dan hanya melihat sekilas ke arah Aksionov. Bibir dan tangan Aksionov bergetar, dan untuk beberapa lama ia tak dapat mengucapkan sepatah katapun. Ia membatin, “Mengapa aku harus melindungi orang yang telah menghancurkan hidupku? Biar dia membayar apa yang telah kuderita ini. Tapi bila aku bicara, mereka mungkin akan mencambuknya sampai mati, dan barangkali kecurigaanku ini bisa saja salah. Lagipula, apa untungnya bagiku?”

“Baiklah, Pak Tua,” ulang sang gubernur, “katakan padaku yang sejujurnya: siapa yang telah menggali di bawah tembok itu?”

Aksionov melihat sekilas ke arah Makar Semyonich, dan berkata, “Aku tak dapat mengatakannya, Tuan. Bukanlah kehendak Tuhan agar aku mengatakannya! Lakukan saja apa yang Anda inginkan atas diriku ini, aku berada di tangan Anda.”

Bagaimanapun sang gubernur telah berusaha, Aksionov tidak mau berkata lebih banyak lagi, dan perkara itupun akhir­nya dianggap selesai.

Malamnya ketika Aksionov berbaring di dipannya dan mulai terlelap, seseorang mendatanginya secara diam‑diam dan duduk di atas dipannya. Iapun memandang dengan tajam menembus kege­lapan dan mengenali Makar Semyonich.

“Apa lagi yang kamu inginkan dariku?” tanya Aksionov. “Kenapa kamu datang ke sini?”

Makar Semyonich diam.

Maka Aksionovpun duduk dan berkata, “Apa maumu? Pergi­lah, atau akan aku panggilkan penjaga!” Makar Semyonich membungkuk ke dekat Aksionov lalu berbi­sik, “Ivan Dimitrich, maafkan aku….”

“Untuk apa?” tanya Aksionov.

“Akulah sebenarnya yang dulu membunuh saudagar itu dan menyembunyikan pisaunya di dalam barang‑barangmu. Aku sebetul­nya bermaksud membunuhmu juga, namun kudengar ada ribut‑ribut di luar, maka kusembunyikan pisau itu ke dalam tasmu dan melarikan diri lewat jendela.”

Aksionov terdiam, dan tak tahu apa yang harus dikatakan­nya. Makar Semyonich beringsut dari dipan itu dan berlutut di atas tanah.

“Ivan Dimitrich,” katanya memohon, “maafkanlah aku. Demi kasih Tuhan, maafkanlah aku. Aku akan mengaku bahwa akulah yang telah membunuh saudagar itu, dan kaupun akan dibebaskan dan bisa pulang ke rumahmu.”

“Mudah saja bagimu bicara begitu,” ujar Aksionov, “tapi aku telah menderita karena ulahmu selama dua puluh enam tahun ini. Ke mana lagi aku hendak pergi sekarang? Istriku sudah meninggal, dan anak‑anakku pun sudah tak ingat lagi kepadaku. Aku tak bisa pergi ke mana‑mana lagi….”

Makar Semyonich tidak bangkit, tapi justru membentur‑benturkan kepalanya ke lantai. “Ivan Dimitrich, maafkan aku!” tangisnya. “Ketika mereka mencambukku dengan cemeti dulu, tidaklah seberapa berat menanggungnya dibandingkan melihatmu seperti saat ini. Bahkan kaupun telah mengasihaniku, dengan tidak mengatakannya kepada mereka siang tadi. Demi Kristus, ampuni aku, aku memang brengsek!” Dan iapun terisak‑isak. Ketika Aksionov mendengarnya menangis terisak‑isak begitu, iapun ikut menangis. “Tuhan akan mengampunimu,” kata­nya. “Mungkin aku seratus kali lebih buruk daripadamu.”

Dan dengan kata‑kata ini hatinyapun terasa ringan dan terang, kerinduan kepada rumah pun hilang. Ia tak ada keingi­nan lagi meninggalkan penjara itu, namun hanya mengharap agar saat‑saat terakhirnya segera tiba.

Terlepas dari apa yang telah dikatakan Aksionov, Makar Semyonich tetap mengakui kesalahannya. Tapi ketika perintah pembebasan atas dirinya dikeluarkan, Aksionov baru saja wafat.

.

LEO TOLSTOY (1828‑1910) ketika mudanya pernah bergabung di dalam dinas militer Tsar, namun setelah menikah ia menetap dan mengurusi para petani penggarap tanah milik keluarga Yasnaya Polyana. Di sanalah lahir anak‑anaknya, juga novel‑novel terbaiknya: Perang dan Damai dan Anna Karenina. Ia anti keker­asan, mencintai kesederhanaan dan kasih. Karena berani menyam­paikan pendapat dan bertindak sesuai dengan keyakinannya, iapun dikucilkan oleh Gereja Orthodox Rusia. Namun kini ia dianggap sebagai salah seorang tokoh puncak sastra dan seorang manusia yang saleh. Naskah cerita ini dalam Bahasa Inggrisnya berjudul God Sees the Truth, But Waits…. Alih bahasa oleh Syafruddin HASANI.

.

.

KUCING KEHUJANAN (Cat in the Rain – Cerita Pendek karya Ernest Hemingway)

KUCING KEHUJANAN
(Cat in the Rain karya Ernest Hemingway)

 

Sepasang suami‑istri Amerika singgah di hotel itu. Mereka tidak mengenal orang‑orang yang lalu‑lalang dan berpapasan sepanjang tangga yang mereka lewati pulang‑pergi ke kamar mereka. Kamar mereka terletak di lantai kedua menghadap laut. Juga menghadap ke taman rakyat dan monumen perang. Ada pohon palm besar‑besar dan pepohonan hijau lainnya di taman rakyat itu. Dalam cuaca yang baik biasanya ada seorang pelukis bersama papan lukisnya. Para pelukis menyukai pepohonan palm itu dan warna‑warna cerah dari hotel‑hotel yang menghadap ke taman‑taman dan laut.

Di depan monumen perang tampak iring‑iringan wisata­wan Italia membentuk barisan membujur untuk menyaksikan monumen itu. Monumen yang tampak kemerahan dan berkilauan di bawah guyuran hujan. Saat itu sedang hujan. Air hujan menetes dari pohon‑pohon palm tadi. Air berkumpul memben­tuk genangan di jalan berkerikil. Ombak bergulung‑gulung membuat garis panjang dan memecah di tepi pantai. Beberapa sepeda motor keluar dari halaman monumen. Di seberang halaman, pada pintu  masuk sebuah kedai minum, berdiri seorang pelayan memandang ke halaman yang kini kosong.

Si istri Amerika tadi berdiri di depan jendela memandang keluar. Di sebelah kanan luar jendela mereka ada seekor kucing yang sedang meringkuk di bawah tetesan air yang jatuh dari sebuah meja hijau. Kucing tadi berusaha menggulung tubuhnya rapat‑rapat agar tidak ketetesan air.

“Aku akan turun ke bawah dan mengambil kucing itu,” ujar si istri.

“Biar aku yang melakukannya untukmu,” kata  suaminya  dari tempat tidur.

“Tidak, biar aku saja yang mengambilnya. Kucing malang itu berusaha mengeringkan tubuhnya di bawah sebuah meja.”

Si suami meneruskan bacaannya sambil berbaring bertelekan di atas dua buah bantal pada kaki ranjang.

“Jangan berbasah‑basah,” ia memperingatkan.

Si istri turun ke bawah dan si pemilik hotel segera berdiri memberi hormat kepadanya begitu wanita tadi mele­wati kantornya. Mejanya terletak jauh di ujung kantor. Ia seorang laki‑laki tua dan sangat tinggi.

“Il piove,” ujar si istri. Ia menyukai pemilik hotel itu.

“Si, si, Signora, brutto tempo. Cuaca sangat buruk.”

Ia berdiri di belakang mejanya yang jauh di ujung ruangan suram itu. Si istri menyukai pria itu. Ia suka caranya dalam memberi perhatian kepada para tamu. Ia suka pada penampilan dan sikapnya. Ia suka cara pria tadi dalam melayaninya. Ia suka bagaimana pria itu menetapi profesi­nya sebagai seorang pemilik hotel. Ia pun menyukai ketuaannya, wajahnya yang keras, dan kedua belah tangannya yang besar‑besar.

Dengan memendam perasaan suka kepada pria itu di dalam hatinya, si  istri membuka pintu dan menengok ke­luar. Saat itu hujan semakin deras. Seorang laki‑laki yang memakai mantel karet tanpa lengan menyeberang melewati halaman kosong tadi menuju ke kedai minum. Kucing itu mestinya ada di sebelah kanan. Mungkin binatang tadi berjalan di bawah atap‑atap. Ketika si istri masih termangu di pintu masuk sebuah payung terbuka di belakangnya. Ternyata orang itu adalah pelayan wanita yang mengurusi kamar mereka.

“Anda jangan berbasah‑basah,” wanita itu tersenyum, berbicara dalam bahasa Itali. Tentu pemilik hotel tadi yang menyuruhnya.

Bersama pelayan wanita yang memayunginya si istri berjalan menyusuri jalan berkerikil sampai akhirnya ia berada di bawah jendela kamar mereka. Meja itu terletak di sana, tercuci hijau cerah oleh air hujan, tapi kucing tadi sudah lenyap. Tiba‑tiba ia merasa kecewa. Si pelayan wanita memandanginya.

“Ha perduto qualque cosa, Signora?”

“Tadi ada seekor kucing,” jawab si istri.

“Seekor kucing?”

“Si, il gatto.”

“Seekor kucing?” Pelayan wanita tadi tertawa. “Seekor kucing di bawah guyuran hujan?”

“Ya,” jawabnya, “di bawah meja itu”. Lalu, “Oh, aku sangat menginginkannya. Aku ingin memiliki seekor kucing.”

Ketika ia berbicara dalam bahasa Inggris wajah si pelayan menegang.

“Mari, signora,” katanya. “Kita harus segera kembali ke dalam. Anda akan basah nanti.”

“Mungkin juga,” jawab wanita Amerika itu.

Mereka kembali melewati jalan berkerikil dan masuk melalui pintu. Si pelayan berdiri di luar untuk menutup payung. Begitu si istri lewat di depan kantor, pemilik hotel memberi hormat dari mejanya. Ada semacam perasaan sangat kecil dalam diri wanita itu. Pria tadi membuatnya menjadi sangat kecil dan pada saat yang sama juga membuat­nya merasa menjadi sangat penting. Untuk saat itu si istri merasakan bahwa seolah‑olah dirinya menjadi begitu pentingnya. Ia menaiki tangga. Lalu membuka pintu kamar. George masih asyik membaca di atas ranjang.

“Apakah kau dapatkan kucing itu?” tanyanya sambil meletakkan buku.

“Ia lenyap.”

“Kira‑kira tahu kemana perginya?” tanya si suami sambil memejamkan mata.

Si istri duduk di atas ranjang.

“Aku sangat menginginkannya,” ujarnya. “Aku tidak tahu mengapa aku begitu menginginkannya. Aku ingin kucing malang itu. Sungguh tidak enak menjadi seekor kucing yang malang dan kehujanan di luar sana.”

George meneruskan membaca.

Si istri beranjak dan duduk di muka cermin pada meja hias, memandangi dirinya dengan sebuah cermin lain di tangannya. Ia menelusuri raut wajahnya, dari satu bagian ke bagian lain. Kemudian ia menelusuri kepala bagian belakang sampai ke lehernya.

“Menurutmu bagaimana kalau rambutku dibiarkan pan­jang?” tanyanya sambil menelusuri raut wajahnya kembali.

George mendongak dan memandang kuduk istrinya dari belakang, rambutnya terpotong pendek seperti laki‑laki.

“Aku suka seperti itu.”

“Aku sudah bosan begini,” kata si istri. “Aku  bosan kelihatan seperti laki‑laki.”

George menaikkan tubuhnya. Ia terus memandangi istrinya semenjak wanita itu mulai berbicara tadi.

“Kau cantik dan bertambah manis,” pujinya. Si istri meletakkan  cermin kecil dari tangannya dan berjalan menuju jendela, memandang keluar. Hari mulai gelap.

“Aku ingin rambutku tebal dan panjang agar bisa dikepang,” katanya. “Aku ingin seekor kucing duduk dalam pangkuanku dan mengeong waktu kubelai.”

“Yeah?” komentar George dari ranjangnya.

“Dan aku ingin makan di atas meja dengan piring perakku sendiri dan ada lilin‑lilin. Kemudian aku ingin mengurai rambutku lalu menyisirnya di muka cermin, dan aku ingin seekor kucing, dan aku ingin baju‑baju baru.”

“Ah, sudahlah. Ambillah bacaan,” tukas George. Lalu ia meneruskan membaca lagi.

Istrinya memandang keluar lewat jendela. Semakin gelap sekarang dan dari pohon‑pohon palm masih jatuh tete­san‑tetesan air.

“Baiklah, aku ingin seekor kucing,” ujar istrinya, “aku ingin seekor kucing. Saat ini aku ingin seekor kucing. Seandainya aku tidak bisa memiliki rambut yang pan­jang atau kesenangan lainnya, aku punya seekor kucing.”

George tak peduli. Ia membaca bukunya. Si istri memandang keluar lewat jendela di mana lampu telah menyala di halaman.

Seseorang mengetuk pintu.

“Avanti,” kata George. Ia mendongak.

Di pintu masuk berdiri seorang pelayan wanita. Ia membawa sebuah boneka kucing dari kulit  kura‑kura darat dan menyerahkannya ke depan.

“Permisi,” sapanya, “pemilik hotel ini mengutus saya menyerahkan boneka ini kepada Nyonya.”

 

ERNEST HEMINGWAY lahir di Illionis pada tahun 1898. Semula ia menjadi sukarelawan sopir ambulans pada masa Perang Dunia I. Sebagai seorang perantauan di Paris, ia meraih sukses pertama kali dengan ceritanya In Our Time. Di antara novel‑novelnya adalah The Sun Also Rises dan A Farewell to Arms. Di akhir hayatnya ia melakukan bunuh diri pada tahun 1961. Judul asli cerita ini Cat In The Rain, diambil dari buku Ernest Hemingway Short Stories hal 265‑268. Alih bahasa Syafruddin HASANI.

 

 

kucing_lucu_taekwondo

 

 

HARGA SEUNTAI KALUNG (The Necklace – Cerita Pendek karya Guy de Maupasant)

HARGA SEUNTAI KALUNG

(The Necklace – Oleh Guy de Maupasant)
 
Dia adalah salah satu di antara sekian gadis cantik dan menarik yang, terkadang karena kesalahan takdir, terlahir di tengah keluarga juru tulis. Dia tidak memiliki mas kawin, harapan-harapan, sarana untuk terkenal, dipahami, dicintai, atau dinikahi oleh seorang pria kaya dan terhormat. Dan dia pasrah hanya dinikahi oleh seorang juru tulis biasa yang bekerja di Kementerian Penerangan.

Dandanannya sederhana saja karena dia memang tidak bisa berdandan lebih bagus lagi. Tapi dia bersedih seakan-akan dirinya memang sungguh-sungguh terjatuh dari statusnya yang semestinya, karena dia menjadi seperti wanita kebanyakan pada umumnya.

Dia tak pernah berhenti merasa menderita, dia merasa dirinya dilahirkan untuk menikmati segala keempukan dan kemewahan. Dia menderita karena rumahnya yang sangat sederhana, dindingnya yang buruk, kursi-kursi yang sudah usang, dan tirai-tirai yang sudah jelek. Segala hal itu, yang bagi wanita lain yang sederajat dengannya dianggap biasa saja, telah membuatnya sangat kesal.

Dia melamunkan ruang depan yang tenang, di mana dinding-dindingnya dipasangi permadani oriental, serta diterangi dengan kandil perunggu yang panjang. Dan juga adanya dua orang pelayan bertubuh kekar bercelana pendek yang tertidur di kursi-kursi berlengan. Mereka terkantuk oleh kehangatan udara dari perapian.

Dia pun melamunkan ruang tamu panjang yang dihiasi sutera kuno, mebel-mebel yang antik, dan kamar rias yang semerbak dengan aroma wewangian yang menggoda untuk tempat bercengkerama setiap pukul lima sore dengan teman-teman dekat, atau dengan pria-pria terkenal dan digandrungi, di mana wanita-wanita yang lain akan merasa cemburu karena ingin mendapat perhatian seperti itu juga.

Tiga hari yang lalu ketika sedang duduk makan malam di depan meja bundar yang berlapis taplak, di depan suaminya yang  membuka mangkuk sup dan berkata penuh kekaguman, “Ah, daging sup yang lezat! Tak ada yang lebih enak daripada ini”. Wanita itu justru sedang melamunkan makan malam yang mewah, peralatan makan dari perak yang berkilau, permadani yang memenuhi dinding dengan gambar tokoh-tokoh terkemuka dari masa lalu dan burung-burung aneh yang beterbangan di antara rimbunnya hutan yang ada di negeri dongeng. Dia pun melamunkan hidangan-hidangan lezat yang disajikan di piring yang elok, dan mendengarkan bisikan-bisikan menggoda sambil mengulum senyum ketika sedang menyantap daging ikan trout yang berwarna pink atau sayap burung puyuh.

Dia tidak memiliki gaun-gaun, perhiasan-perhiasan, tidak memiliki apa-apa. Dan tak ada yang disukainya kecuali itu, dia merasa dirinya adalah untuk itu. Dia begitu ingin dirinya bahagia, dicemburui, menarik, dan membuat orang lain tergila-gila.

Dulu ketika masih bersekolah di biara dia memiliki seorang teman yang kaya. Tapi dia tidak mau lagi mengunjunginya, karena dia begitu merasa menderita setelah pulang dari rumah temannya itu.

Namun suatu sore suaminya pulang ke rumah dengan perasaan penuh kemenangan dan membawa sebuah amplop besar di tangannya.

“Ini,” katanya. “Ada sesuatu untukmu.”

Wanita itu segera merobeknya dan menarik selembar kartu bertuliskan:

Menteri Penerangan dan Nyonya Georges Ramponneau dengan hormat mengundang Tuan dan Nyonya Loisel di Gedung Kementerian pada hari Senin sore tanggal delapan belas Januari.

 

Bukannya gembira seperti yang diharapkan oleh suaminya, tapi malah dilemparkannya undangan itu begitu saja di atas meja. Dengan suara lirih dia berkata:

“Apa yang kau inginkan dariku dengan undangan itu?”

“Tetapi, Sayang, kupikir kau akan senang. Kau kan tidak pernah pergi-pergi, dan ini adalah kesempatan yang bagus. Aku telah bersusah payah mendapatkannya. Setiap orang ingin datang, ini sangat diseleksi, dan mereka tidak memberikan banyak undangan untuk para juru tulis. Semua pejabat akan hadir di sana.”

Dia memandang suaminya dengan tatapan pedih dan berkata dengan gusar:

“Dan menurutmu aku harus memakai apa?”

Suaminya tidak terpikir ke situ, ia berkata dengan gagap:

“Kenapa, gaun yang dulu kau pakai ke teater, bagiku gaun itu cukup bagus.”

Suaminya terdiam, bingung, melihat istrinya menangis. Air matanya jatuh dari kedua ujung matanya dan mengalir perlahan-lahan sampai ke ujung mulutnya. Suaminya berkata gagap:

“Ada apa? Ada apa?”

Tapi dengan usaha yang keras wanita itu segera dapat mengatasi kesedihannya, dan dia menjawab dengan suara yang tenang sambil menyapu kedua belah pipinya yang basah:

“Tak apa-apa. Hanya aku tidak punya gaun dan oleh sebab itu aku tidak bisa berangkat ke pesta. Berikan saja undangan itu kepada salah seorang di antara teman-temanmu yang istrinya lebih baik dandanannya daripada aku.”

Suaminya putus asa. Ia melanjutkan:

“Ayo kita bahas, Mathilde. Berapa harganya sebuah gaun yang pantas, yang nanti bisa kau pakai lagi untuk kesempatan lainnya, gampang kan?”

Istrinya berpikir beberapa detik, membuat kalkulasi harga sambil memperkirakan jumlah yang dapat diajukannya. Jumlah yang dapat diterima serta tidak mengejutkan untuk perekonomian seorang juru tulis.

Akhirnya dia berkata dengan ragu-ragu:

“Aku tidak tahu pasti, tapi kurasa aku bisa mengatasinya dengan empat ratus franc.”

Suaminya agak pucat, karena ia sendiri telah menyisihkan uang sejumlah itu untuk membeli sebuah bedil yang akan digunakannya berburu di musim panas nanti di dataran Nanterre dengan beberapa orang teman yang pada hari Ahad lalu menembak burung-burung lark di sana bersamanya.

Tapi ia berkata:

“Baiklah. Aku akan memberimu empat ratus franc. Dan usahakan untuk mendapat sebuah gaun yang cantik.”

Hari penyelenggaraan pesta itu sudah semakin dekat, tapi Nyonya Loisel tampak murung dan gelisah. Padahal gaunnya sudah siap. Suatu sore suaminya berkata kepadanya:

“Ada apa? Ayolah, kau kelihatan begitu ganjil tiga hari terakhir ini.”

Istrinya menjawab:

“Aku bingung karena tidak memiliki sebuah perhiasan pun, tidak ada sebutir permata, tidak ada yang bisa dipakai. Aku akan kelihatan payah sekali. Lebih baik tidak usah pergi saja.”

Suaminya berkata:

“Kau bisa memakai hiasan dari bunga-bunga alami. Tahun ini hal itu sedang jadi mode. Dengan sepuluh franc kau bisa memperoleh dua atau tiga bunga mawar yang indah.”

Tapi istrinya tidak bisa diyakinkan.

“Tidak, tak ada yang lebih memalukan daripada terlihat miskin di antara wanita-wanita lain yang kaya.”

Tapi suaminya berseru:

“Bodohnya kamu! Pergilah ke rumah temanmu, Nyonya Forestier, dan mintalah kepadanya untuk meminjamimu beberapa perhiasan. Kau cukup akrab dengannya untuk melakukan itu.”

Wanita itu berseru gembira:

“Betul! Aku tak pernah memikirkannya.”

Hari berikutnya dia pergi mengunjungi temannya dan menceritakan kesulitannya.

Nyonya Forestier berjalan ke sebuah lemari pakaian yang berpintu kaca, mengambil sebuah kotak besar berisi perhiasan, membawanya kembali, membukanya, dan berkata kepada Nyonya Loisel:

“Pilihlah, sayangku.”

Pertama kali dipandanginya semua gelang, kemudian seuntai kalung mutiara, lalu salib Venesia, emas dan batu-batu perhiasan hasil karya para seniman yang luar biasa. Dia mencoba perhiasan-perhiasan itu di depan cermin sambil terkagum-kagum. Rasanya dia tak ingin melepasnya lagi, mengembalikannya lagi. Dia selalu bertanya:

“Apakah kau masih punya yang lain?”

“Kenapa, tentu saja. Lihatlah. Aku tak tahu mana yang kausukai.”

Tiba-tiba dia menemukan, di dalam sebuah kotak satin berwarna hitam, seuntai kalung permata yang luar biasa indah, dan jantungnya pun mulai berdebar kencang. Kedua tangannya gemetar saat mengambilnya. Dipasangnya kalung itu ke lehernya, di luar gaunnya yang sampai ke leher. Dan perasaannya terombang-ambing di awang-awang ketika dia menatap dirinya di depan cermin.

Kemudian dia meminta dengan ragu dan memelas:

“Dapatkah kau meminjamkan yang ini, hanya yang ini saja?”

“Kenapa? Ya, tentu saja.”

Dia melompat meraih leher temannya, menciuminya penuh nafsu, lalu berlari dengan perhiasannya.

Hari pesta itu pun tiba. Nyonya Loisel meraih kemenangan besar. Dia adalah satu-satunya wanita tercantik di antara mereka semua. Anggun, sangat ramah, selalu tersenyum dan sangat gembira. Semua pria meliriknya, menanyakan namanya, dan berusaha berkenalan. Semua atase kabinet ingin berdansa dengannya. Bahkan menteri sendiri juga mengajaknya berdansa.

Dia berdansa dengan penuh suka cita. Melupakan semuanya, dalam keunggulan kecantikannya, kesuksesan yang gemilang, serta kegembiraan yang terdiri atas segala pujian, segala kekaguman, segala keinginan yang terbangkitkan, dan atas perasaan kemenangan yang sempurna yang begitu manis dalam hati seorang wanita.

Dia baru selesai sekitar pukul empat pagi. Suaminya telah tertidur sejak tengah malam tadi di sebuah ruang depan yang sepi bersama tiga orang pria lainnya yang istri-istri mereka juga bersenang-senang. Pria itu lalu melampirkan selembar selendang yang telah dibawanya sejak tadi ke bahu istrinya, selendang biasa saja, yang mana saking sederhananya sangat kontras dengan gaun pesta yang dipakainya. Wanita itu merasakannya, dan ingin menghindar sehingga dirinya tidak menjadi bahan pembicaraan wanita-wanita lain yang membungkus tubuh-tubuh mereka dengan mantel bulu yang mahal.

Loisel menahan punggung istrinya.

“Tunggu sebentar. Kau akan kedinginan di luar. Aku akan pergi memanggil sebuah taksi.”

Tapi tak dihiraukannya suaminya, dan dengan cepat dia menuruni tangga. Ketika sudah berada di jalan mereka tidak menemukan kendaraan, dan mereka mulai mencarinya. Mereka berteriak ke arah sopir-sopir taksi yang kendaraannya melaju dari kejauhan.

Mereka berjalan menurun menuju Seine, dalam keputusasaan, menggigil kedinginan. Akhirnya di sebuah dermaga mereka mendapatkan sebuah mobil kuno yang tertutup dan berpintu dua, yang hanya muncul di Paris ketika malam telah turun.

Kendaraan itu mengantar mereka sampai ke depan pintu rumah di Rue des Martyrs, dan sekali lagi, dengan sedih, mereka berjalan pulang ke rumah. Segalanya telah berakhir, bagi wanita itu. Dan bagi sang suami, ia berpikir bahwa ia sudah harus berada di kementerian pada pukul sepuluh.

Wanita itu melepas selendang yang membungkus bahunya di depan cermin, sehingga sekali lagi ingin melihat dirinya dalam segala kejayaannya. Tapi tiba-tiba dia menjerit. Kalungnya tidak lagi berada di lehernya!

Suaminya yang sedang melepas pakaian bertanya:

“Ada apa denganmu?”

Dengan perasaan panik dia berpaling ke arah suaminya.

“Aku … aku … aku telah menghilangkan kalungnya Nyonya Forestier.”

Suaminya bangkit, kalut.

“Apa?! Bagaimana? Mustahil!”

Dan mereka berdua mencari di antara lipatan-lipatan gaunnya, dalam lipatan-lipatan mantelnya, dalam dompet-dompetnya, di mana saja. Tapi mereka tidak menemukannya.

Suaminya bertanya:

“Kau yakin tadi masih memakainya ketika meninggalkan pesta?”

“Ya, aku masih merasakannya di ruang depan gedung.”

“Tapi jika kau menghilangkannya di jalan, kita mestinya mendengar bunyinya ketika jatuh. Jangan-jangan di dalam mobil.”

“Ya, mungkin saja. Apakah kau mencatat nomornya?”

“Tidak. Dan kau, apakah kau memperhatikannya?”

“Tidak.”

Bagai disambar petir, mereka saling memandang. Akhirnya Loisel mengenakan kembali pakaiannya.

“Aku akan kembali menelusuri jalan tadi dengan berjalan kaki,” katanya, “ke seluruh rute yang telah kita lalui untuk memeriksa kalau-kalau dapat menemukannya.”

Lalu ia pun pergi ke luar. Sedangkan istrinya menunggu di kursi dengan gaun pestanya, tanpa ada tenaga untuk pergi ke tempat tidur, tak berdaya, tanpa semangat, tanpa pikiran.

Suaminya kembali lagi sekitar pukul tujuh pagi. Ia tidak menemukan apa-apa.

Kemudian laki-laki itu pergi lagi ke kantor-kantor polisi, kantor-kantor surat kabar, untuk menawarkan imbalan bagi siapa yang menemukannya. Ia pergi ke perusahaan-perusahaan taksi, ke mana saja, sesungguhnya, ke mana dirinya terdorong oleh seberkas harapan.

Istrinya menunggu sepanjang hari, dalam kecemasan yang sama seperti sebelum petaka itu terjadi.

Malamnya Loisel pulang dengan lemah dan pucat. Ia kembali tak menemukan apa-apa.

“Kau harus menulis surat kepada temanmu,” katanya, “bahwa kau telah merusak jepitan kalung itu sehingga kau harus membetulkannya. Dengan demikian kita masih punya kesempatan untuk mengembalikannya.”

Dia menulis mengikuti dikte dari suaminya.

Pada akhir dari pekan itu mereka telah kehilangan semua harapan.

Dan Loisel, yang tampak semakin cepat bertambah tua lima tahun, memutuskan:

“Sekarang kita harus memikirkan bagaimana caranya untuk mengganti perhiasan itu.”

Hari berikutnya mereka membawa kotak kalung itu menuju ke toko perhiasan yang namanya tercantum di kotak itu. Pemilik toko tadi kemudian memeriksa catatannya.

“Bukan saya yang menjual kalung itu, Nyonya.”

Kemudian mereka pergi dari satu toko perhiasan menuju ke toko perhiasan yang lain untuk mencari kalung seperti itu. Mereka berdua saling mencocokkan ingatan masing-masing satu sama lain. Keduanya merasa tersiksa dan menderita.

Akhirnya di sebuah toko di Palais Royal mereka menemukan seuntai kalung permata yang benar-benar mirip dengan yang mereka cari. Kalung itu berharga empat puluh ribu franc. Mereka bisa menawarnya sampai tiga puluh enam ribu.

Mereka meminta kepada penjual kalung itu untuk tidak menjualnya kepada orang lain selama tiga hari ini. Dan mereka menawarkan bahwa si penjual tadi bisa membeli kembali kalungnya seharga tiga puluh empat ribu franc seandainya mereka berdua bisa menemukan kalung yang hilang sebelum akhir Februari.

Loisel memiliki delapan belas ribu franc dari peninggalan ayahnya. Ia harus meminjam sisanya.

Ia pun mencari pinjaman. Meminta seribu franc dari seseorang, lima ratus franc dari yang lainnya, lima louis di sini, tiga louis di sana. Ia memberi surat utang, mengambil utang-utang yang berbunga tinggi, membuat persetujuan dengan para rentenir dan semua orang yang biasa meminjamkan uang. Ia mempertaruhkan sisa hidupnya, mempertaruhkan tanda-tangannya tanpa mengetahui apakah ia nanti mampu memenuhi janjinya atau tidak. Tanpa menyadari halangan dan musibah yang akan menimpanya, dan kemungkinan tekanan-tekanan batin yang harus ditanggungnya. Ia pergi untuk memperoleh kalung yang baru, membayar dulu kepada penjualnya tiga puluh enam ribu franc.

Ketika Nyonya Loisel mengembalikan kalung itu, Nyonya Forestier berkata dingin kepadanya:

“Seharusnya kau kembalikan lebih cepat, mungkin aku akan memakainya.”

Dia tidak membuka kotaknya, karena temannya tampak begitu ketakutan. Seandainya dia mengetahui penggantian itu, apa yang akan dipikirnya, apa yang akan dikatakannya? Apakah dia tidak akan menuduh Nyonya Loisel sebagai pencuri?

Kini Nyonya Loisel mengerti betapa mengerikannya kemiskinan. Dia terjun ambil bagian, dengan tiba-tiba, secara heroik. Utang-utang yang mengerikan itu harus dibayar. Dan dia akan membayarnya. Mereka memulangkan pembantu, mengubah tata ruang tempat tinggal mereka dan menyewakan ruangan di loteng.

Kini dia merasakan betapa beratnya pekerjaan rumah tangga dan merawat dapur yang kotor. Dia mencuci peralatan makan, dengan kuku-kukunya yang kemerahan pada panci dan periuk yang berminyak. Dia mencuci kain-kain kotor, baju-baju dan lap-lap, yang kemudian dijemur pada seutas tali. Dia membuang air limbah setiap pagi ke jalanan, lalu mengambil air bersih, kemudian berhenti untuk menarik napas setiap kali sampai. Dan, berdandan seperti wanita kebanyakan pada umumnya. Dia pergi berbelanja ke tukang buah, grosir, tukang daging, membawa keranjang, melakukan tawar-menawar, menahan hinaan, mempertahankan uangnya yang sedikit sou demi sou.

Setiap bulan mereka harus melunasi beberapa utang dan mencari pinjaman yang lain lagi, mengulur waktu.

Suaminya pada petang hari bekerja membuat salinan untuk beberapa catatan dari pedagang, dan pada larut malam ia sering menyalin berkas-berkas dengan upah lima sou per lembar.

Dan kehidupan seperti ini berakhir setelah sepuluh tahun. Dan sesudah sepuluh tahun berlalu, mereka telah membayar semuanya, semua utang dengan bunga-bunganya.

Nyonya Loisel terlihat tua sekarang. Dia telah menjadi seorang ibu rumah tangga dari kalangan biasa. Kuat, keras, dan kasar. Dengan rambut tak teratur rapi, rok miring, dan tangan yang merah. Dia berbicara dengan lantang ketika sedang membersihkan lantai di antara gemericiknya bunyi air. Namun terkadang, ketika suaminya sedang berada di kantor, dia duduk di samping jendela, dan mengenang malam indah yang telah berlalu dulu. Tentang pesta itu, di mana dirinya begitu cantik dan begitu mempesona.

Apa yang terjadi seandainya dia tidak menghilangkan kalung itu? Siapa yang tahu? Siapa yang tahu? Betapa kehidupan ini begitu aneh dan mudah berubah-ubah! Betapa mudahnya kita kehilangan sesuatu atau tetap memilikinya!

Namun, pada suatu hari Ahad, ketika sedang berjalan-jalan di Champs Elysees untuk menyegarkan pikirannya dari pekerjaan rutin selama sepekan, dia tiba-tiba mengenali seorang wanita yang sedang membimbing seorang anak kecil. Wanita itu adalah Nyonya Forestier. Dia terlihat masih muda, cantik, dan tetap memikat.

Nyonya Loisel merasakan kepiluan di hatinya. Akankah dia mengajaknya berbicara? Ya, pasti. Dan sekarang karena dirinya telah melunasi semuanya, dia akan menceritakan kepada wanita itu tentang segala yang telah terjadi. Kenapa tidak?

“Selamat sore, Jeanne.”

Wanita yang disapa terperanjat atas keramahan dari seorang ibu rumah tangga yang sederhana itu, bahkan sama sekali tak dapat mengenalinya. Ia berkata gagap:

“Tapi, Nyonya, saya tidak kenal. Anda pasti keliru?”

“Tidak. Aku adalah Mathilde Loisel.”

Kawannya itu memekik kecil.

“Oh, Mathilde-ku yang malang. Kenapa kau bisa berubah sampai seperti ini?”

“Ya, aku telah melewati hari-hari yang berat, sejak aku mengunjungimu dulu, hari-hari yang sangat buruk. Dan semua itu karena engkau!”

“Karena aku?! Bagaimana mungkin?”

“Apakah kau masih ingat tentang kalung permata yang telah kau pinjamkan kepadaku dulu untuk pergi ke pesta di kementerian?”

“Ya. Lalu?”

“Yeah, aku menghilangkannya.”

“Apa maksudmu? Bukankah kau telah mengembalikannya?”

“Yang kukembalikan kepadamu dulu itu adalah gantinya yang benar-benar persis dengan itu. Dan untuk itu kami harus membayarnya selama sepuluh tahun. Engkau tentu tahu bahwa hal itu tidaklah mudah bagi kami, kami yang tidak punya apa-apa ini. Akhirnya berlalulah sudah, dan aku sangat senang.”

Nyonya Forestier menghentikan langkahnya.

“Kau mengatakan bahwa kalian telah membeli kalung permata untuk mengganti milikku itu?”

“Ya, dan kau tidak pernah memperhatikannya! Kedua kalung itu memang benar-benar serupa.”

Dia pun tersenyum gembira dengan perasaan bangga dan naif sekaligus.

Nyonya Forestier merasa sangat iba, dipegangnya kedua belah tangan temannya itu.

“Oh, Mathilde-ku yang malang! Mengapa? Kalungku itu hanyalah imitasi. Harganya paling mahal cuma lima ratus franc saja!”

 

GUY DE MAUPASANT (1850-1893) adalah anak seorang pialang saham di Paris. Ia menjadi anak baptis dari Gustav Flaubert yang juga menjadi guru sastranya. Sejak usia tiga puluh tahun kepiawaiannya di bidang cerita pendek sudah mendapat pengakuan. Judul asli cerita ini La Parure. Alih bahasa Syafruddin HASANI.

 

MENGUKUR KASIH IBU (The Augsburg Chalk’s Circle – Cerita Pendek karya Bertolt Brecht)

MENGUKUR KASIH IBU

(The Augsburg Chalk’s CircleOleh Bertolt Brecht)

 

 

Ketika berkecamuk Perang Tiga Puluh Tahun, seorang Swiss beragama Protestan yang bernama Zingli memiliki sebuah bisnis penyamakan kulit yang besar di kota Augsburg yang berada di luar wilayah kerajaan – dalam daerah Lech. Ia menikah dengan seorang wanita Augsburg dan mendapat seorang putera darinya. Ketika orang‑orang Katolik menyerbu kota itu, teman‑temannya telah mendesaknya untuk segera mengungsi. Namun entah karena keluarga kecilnya atau sayang meninggalkan bisnisnya, ia enggan berangkat ketika masih ada waktu.

Maka iapun masih tetap di situ saat para prajurit kerajaan menyerbu kota. Dan sorenya ketika terjadi penjarahan, ia bersembunyi di dalam lubang tempat penyimpanan kulit yang telah disamak yang terletak di halaman rumahnya. Sementara, istrinya sudah siap berangkat dengan anak mereka menuju ke tempat keluarganya di pinggiran kota, namun wanita itu menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mengepak barang‑barangnya yang berupa baju‑baju, perhiasan, dan perabotan ranjang. Maka terjadilah ketika tiba‑tiba dilihatnya melalui sebuah lobang jendela di lantai pertama satu regu tentara kerajaan yang sedang berusaha menerobos masuk ke dalam halaman, ia tak kuasa mengatasi rasa takutnya dan menjatuhkan semua barangnya lalu melarikan diri melalui pintu belakang.

Dengan demikian anaknyapun tertinggal di dalam rumah. Balita itu terbaring di dalam buaiannya di aula rumah yang luas dan asyik bermain dengan sebuah bola kayu yang digantungkan dari langit‑langit dengan seutas benang.

Hanya seorang gadis pembantu yang masih berada di rumah tadi. Saat itu ia sedang sibuk dengan panci‑panci dan periuk‑periuk tembaga di dapur ketika terdengar suara ribut‑ribut di jalanan. Iapun berlari cepat ke sebuah jendela, dari sana terlihat para tentara yang sedang melempar berbagai macam barang rampasan ke jalanan dari lantai pertama rumah seberang. Lalu ia berlari ke aula dan baru saja hendak mengambil si kecil dari buaiannya ketika terdengar hantaman keras di pintu depan yang terbuat dari kayu ek. Sang gadis dicekam kepanikan dan berlari ke atas tangga.

Aula itupun dipenuhi para prajurit yang mabuk, mereka membanting apa saja sampai berkeping‑keping. Mereka tahu bahwa saat itu sedang berada di rumah seorang Protestan. Sungguh suatu keajaiban bagi Anna, sang gadis pembantu, ia tetap tak diketemukan selama terjadi penggeledahan dan penjarahan itu. Setelah para serdadu tadi enyah, dengan buru‑buru Anna segera keluar dari lemari tempat persembunyiannya tadi dan mendapati si kecil yang berada di aula juga dalam keadaan selamat. Iapun lalu mengangkatnya dan berjalan mengendap‑endap menuju ke halaman. Ketika itu malam telah turun, namun cahaya merah dari rumah sebelah yang terbakar menerangi halaman itu. Dan dengan ngeri iapun bisa menyaksikan mayat majikannya. Para tentara tadi telah menyeret pria itu dari lubang persembunyiannya kemudian membantainya. Baru kini gadis itu menyadari betapa berbahayanya kalau sampai tertangkap di jalanan bersama anak Protestan tersebut. Dengan berat hati dibaringkannya lagi sang balita ke dalam buaiannya, memberinya susu dan mengayun‑ayunkannya hingga tertidur. Kemudian ia pergi mencari jalan ke wilayah lain di kota itu di mana kakak perempuannya yang telah menikah tinggal.

Pada sekitar pukul sepuluh malam dengan ditemani suami kakaknya, gadis itu berjalan berjejal‑jejal di antara gerombolan serdadu yang sedang merayakan kemenangan mereka untuk pergi ke pinggiran kota dan mencari Nyonya Zingli, ibu anak tadi. Mereka mengetuk‑ngetuk pintu sebuah rumah yang bagus, dan setelah agak lama barulah pintunya dibuka sedikit.

Seorang pria tua berperawakan kecil, paman Nyonya Zingli, menjulurkan kepalanya. Dengan terengah‑engah Anna memberitahu bahwa Tuan Zingli telah meninggal tapi anaknya masih selamat di rumah itu. Laki‑laki tua tersebut memandangnya dengan dingin dan mengatakan bahwa keponakan perempuannya sudah tidak lagi berada di situ, sedangkan dirinya sendiri cuci tangan terhadap anak jadah Protestan tersebut. Setelah berkata demikian iapun kembali menutup pintu. Ketika mereka beranjak, kakak ipar Anna memperhatikan sebuah gorden bergerak‑gerak dari salah satu jendela dan merasa yakin bahwa Nyonya Zingli berada di sana. Tampaknya perempuan itu tidak merasa malu sedikitpun tidak mengakui anaknya sendiri.

Anna dan kakak iparnya berjalan berdampingan dalam kebisuan untuk beberapa saat. Kemudian ia menyatakan bahwa ia akan kembali ke tempat penyamakan kulit tadi dan mengambil si kecil. Kakak iparnya, seorang pria yang terpandang, terperanjat mendengarnya dan berusaha mencegah gagasan yang berbahaya ini. Memangnya orang‑orang itu apanya dia? Bahkan selama ini diapun tidak pernah mendapatkan perlakuan yang layak dari mereka.

Anna mendengarkannya sampai selesai berbicara dan berjanji tidak akan melakukan tindakan yang gegabah. Meski demikian, ia harus singgah secepatnya ke tempat penyamakan itu untuk melihat apakah sang balita membutuhkan sesuatu. Dan ia ingin pergi sendiri.

Ia berkeras melaksanakan niatnya. Di tengah‑tengah aula yang porak‑poranda si kecil terbaring dengan damai dan lelap dalam tidurnya. Dengan hati‑hati Anna duduk di sisinya dan memandanginya. Ia tidak berani menyalakan lampu, namun rumah sebelah masih terbakar dan dari cahayanya gadis itu dapat memandang sang balita dengan agak jelas. Di lehernya yang mungil terdapat tahi lalat kecil.

Ketika ia memandangi si kecil yang sedang menarik napas dan mengisap jempolnya yang mungil selama beberapa saat, kira‑kira satu jam, ia menyadari bahwa ada semacam perasaan berat untuk meninggalkan anak itu. Dengan enggan iapun bangkit dan menyelimuti si kecil dengan lembut dengan menggunakan alas sepreinya, kemudian membopongnya dan membawanya pergi dari situ. Ia berjalan mengendap‑endap seperti seorang pencuri.

Setelah berkonsultasi lama dengan kakak perempuan dan iparnya, dua pekan kemudian ia membawa anak tadi ke desa di Daerah Grossaitingen, di mana kakak laki‑laki tertuanya tinggal sebagai petani. Tanah pertanian di sana adalah milik istrinya, yang karena itu ia nikahi. Sesuai kesepakatan semula bahwa langkah terbaik adalah tidak menceritakan kepada orang lain kecuali kakak laki‑lakinya tersebut tentang jati diri anak itu, sebab mereka tidak percaya kepada istri yang masih muda itu dan tidak tahu bagaimana sikapnya nanti dalam menerima tamu kecil yang sangat berbahaya ini.

Anna mencapai desa itu sekitar tengah hari. Kakak laki‑laki dan istrinya serta para pekerja sedang berada di meja makan. Ia tidak disambut dengan buruk, namun setelah sekilas melihat sikap kakak ipar perempuannya yang baru, ia memutuskan untuk memperkenalkan balita itu sebagai anaknya sendiri. Mulanya mereka agak ragu sampai ia menjelaskan bahwa suaminya mendapat pekerjaan di sebuah pabrik di desa tetangga yang agak jauh dan mengharap agar istri dan anaknya sementara berada di situ dulu selama beberapa pekan. Hati wanita petani itupun akhirnya bisa diluluhkan dan si kecil bisa diterima dengan wajar.

Lepas tengah hari ia menemani kakak laki‑lakinya mengumpulkan kayu. Saat mereka berdua duduk di atas tumpukan potongan kayu, Anna pun menceritakan kejadian yang sebenarnya. Dia dapat melihat kesulitan pada diri kakaknya. Posisi pria itu di tanah pertanian ini masih belum kuat dan ia menghargai Anna karena telah menjaga lidahnya waktu di depan istrinya tadi. Adalah jelas bahwa pria tersebut tidak menganggap istrinya memiliki kelapangan hati terhadap anak Protestan itu. Ia meminta sandiwara ini terus dilanjutkan. Meskipun demikian, tidaklah mudah ketika waktu terus bergulir.

Anna ikut bantu‑bantu ketika mereka panenan dan mengasuh ‘anaknya’ di sela‑sela itu. Dengan rutin ia bolak‑balik dari ladang ke rumah ketika yang lainnya sedang istirahat. Si kecilpun tumbuh besar dan montok, ia tertawa tergelak‑gelak ketika melihat Anna dan berusaha mengangkat kepalanya. Namun kemudian datanglah musim dingin dan sang kakak ipar pun mulai bertanya‑tanya tentang suami Anna.

Bagi Anna sendiri tidak ada masalah tinggal di tanah pertanian itu, ia bisa ikut bantu‑bantu. Masalahnya adalah bahwa para tetangga sudah mulai curiga tentang siapa ayah dari ‘anaknya’ Anna itu, sebab laki‑laki tersebut tak pernah datang menjenguk keadaan anaknya. Kalau Anna tidak dapat mencarikan seorang ayah bagi anaknya, maka tak lama lagi tanah pertanian itu akan menjadi bahan pergunjingan.

Pada suatu hari ahad pagi sang petani mempersiapkan kudanya dan berteriak memanggil Anna agar ikut dengannya untuk mengambil seekor anak sapi dari desa tetangga. Ketika mereka sedang duduk terguncang‑guncang di perjalanan, sang kakak memberitahukan kepadanya bahwa ia telah menemukan seorang suami untuknya. Pria yang dimaksud adalah seorang pemilik gubuk yang ketika mereka berdua bertandang ke gubug jeleknya itu, hampir tak dapat mengangkat kepalanya yang  tak terawat dari selimut kumalnya.

Ia bersedia menikahi Anna. Sementara ibunya, seorang perempuan berkulit pucat, berdiri di pinggiran dipan. Perempuan tua itu akan mendapat imbalan atas jasanya kepada Anna.

Tawar‑menawar itupun selesai dalam waktu sepuluh menit, lalu Anna dan kakaknya pun bisa melanjutkan perjalanan dan membeli anak sapi mereka. Pernikahannya pun dilangsungkan pada akhir pekan itu juga. Ketika pendeta sedang melaksanakan upacara pernikahan, laki‑laki yang tengah sekarat tadi tak sekalipun melihat ke arah Anna. Kakaknya tidak ragu lagi bahwa adiknya nanti akan mendapat sertifikat kematian dalam waktu beberapa hari saja. Lalu suami Anna tersebut, ayah dari si bocah, akan mati di suatu tempat di sebuah desa dekat Augsburg di tengah perjalanan menemui istrinya dan tak seorangpun akan punya pikiran lain jika sang janda tinggal di rumah kakak laki‑lakinya.

Anna pulang dengan riang‑gembira dari pernikahannya yang ganjil tersebut, di mana tidak terdengar lonceng‑lonceng gereja atau adanya pita kuning, pengiring pengantin, dan tamu‑tamu undangan. Sebagai jamuan pernikahan ia menyantap sepotong roti dengan seiris daging babi di atas meja makan. Setelah itu ia berjalan bersama kakaknya ke peti kayu di mana si kecil berada dan yang kini sudah punya nama. Diselempitkannya kain penutupnya lebih rapat dan tersenyum kepada kakaknya. Sertifikat kematian itu pasti akan tiba.

Akan tetapi tak ada berita dari perempuan tua tadi pada pekan berikutnya dan setelahnya. Di tanah pertanian itu Anna telah memberitahukan bahwa suaminya sedang dalam perjalanan ke tempatnya. Ketika ia ditanyai kenapa laki‑laki tersebut sampai sekarang belum datang‑datang juga, ia mengatakan bahwa pasti salju yang tebal menyulitkan perjalanannya. Namun setelah tiga pekan berikutnya berlalu, kakaknya yang sangat kebingungan berangkat ke desa dekat Augsburg.

Ia pulang kembali ketika malam telah larut. Anna masih terjaga dan berlari ke pintu saat didengarnya bunyi roda di pekarangan. Ia memperhatikan betapa lambannnya sang petani melepas ikatan kudanya dan ketegangan pun menyelinap di hatinya.

Pria itu membawa berita buruk. Tadi ketika berkunjung ke pondok dilihatnya laki‑laki yang dulu sekarat itu sedang asyik duduk di depan meja makan dengan berpakaian santai dan tengah menikmati santapan malamnya dengan lahap. Ia benar‑benar telah pulih.

Sang petani tidak melihat ke wajah Anna ketika ia meneruskan ceritanya. Pemilik gubuk tadi, yang singkat kata bernama Otterer, dan ibunya sama‑sama takjub atas perubahan yang terjadi dan barangkali belum memutuskan tentang apa yang akan dilakukan. Otterer tidak menunjukkan kesan yang tidak menyenangkan. Ia hanya bicara sedikit, tapi langsung ke pokoknya. Ketika sang ibu menyesali bahwa kini ia telah dibebani oleh seorang istri yang tak dikehendaki dan seorang bocah asing, ia menyuruh ibunya itu diam. Sementara ia terus melahap kejunya dengan santai sepanjang percakapan dan masih terus makan saat sang petani beranjak pulang.

Di hari‑hari berikutnya Anna punya banyak masalah. Di sela‑sela pekerjaan rumah tangganya ia mengajari si kecil berjalan. Ketika bocah itu dilepas oleh kerabatnya dan berjalan tertatih‑tatih kepadanya dengan membentangkan kedua lengan kecilnya, Anna menahan isaknya dan mendekapnya erat‑erat ketika mengangkatnya.

Suatu ketika ia pernah bertanya kepada kakaknya, “Seperti apa sih laki‑laki itu?”

Dulu ia hanya melihatnya ketika terbaring di atas ranjang kematian dan kemudian pada sore itu di bawah cahaya lilin yang remang‑remang. Kini baru ia tahu bahwa suaminya itu seorang pria pekerja keras berusia lima puluh tahunan.

Tak lama setelah itu, ia pun menjumpainya. Dengan penuh kerahasiaan seorang pedagang keliling menyampaikan pesan kepadanya bahwa seorang kenalan ingin bertemu dengannya pada tanggal tertentu, di waktu tertentu, dekat desa tertentu, di sebuah tempat di mana terdapat jalan setapak yang menuju ke Landsberg. Maka pasangan pengantin itupun bertemu di tengah‑tengah jalan yang menghubungkan desa mereka, di tempat terbuka yang diselimuti salju.

Anna tidak menyukai pria itu. Giginya kecil‑kecil berwarna abu‑abu. Ia memandangi Anna dari atas ke bawah, padahal wanita itu terbungkus rapat di dalam bulu domba yang tebal dan tak banyak yang bisa dilihat, lalu mengucapkan sakramen pernikahan. Dengan ketus ia mengatakan kepada pria itu bahwa ia harus berpikir lagi dan bahwa laki‑laki itu harus menyuruh beberapa orang pedagang dan tukang daging yang melewati Grossaitingen untuk memberitahukan kepadanya di depan kakak ipar perempuannya bahwa pria itu akan segera datang sekarang dan bahwa kemarin‑kemarinnya ia telah jatuh sakit di perjalanan.

Otterer mengangguk dengan santai. Pria itu lebih tinggi satu kepala darinya dan terus‑menerus menatap ke leher kirinya selama mereka berbicara sehingga membuatnya jengkel.

Namun pesan itu tak pernah datang, dan Anna pun menimbang‑nimbang untuk meninggalkan saja tanah pertanian itu bersama si kecil dan mencari kerja jauh ke selatan, barangkali ke Kempten atau Sonthofen. Hanya karena resiko di jalan raya yaitu terlalu banyak perbincangan dan kenyataan bahwa saat itu sedang di tengah‑tengah musim dingin yang mengurungkan niatnya.

Tapi sekarang keberadaannya di tanah pertanian itu semakin sulit. Kakak iparnya mengajukan pertanyaan‑pertanyaan bernada curiga kepadanya tentang suaminya saat mereka sedang berada di meja makan di depan semua pekerja ketika sedang makan malam.

Pada suatu ketika saat ia sudah keterlaluan yaitu sambil memandang bocah itu sekilas kemudian berseru dengan perasaan iba yang dibuat‑buat, “Oh, anak yang malang!” Anna pun memutuskan untuk pergi apapun resikonya, tapi ketika itu si kecil jatuh sakit.

Ia terbaring gelisah di peti kayunya dengan wajah yang merah dan mata sembab. Anna pun mengawasinya terus‑menerus setiap malam dengan perasaan cemas. Ketika si kecil mulai pulih lagi dan senyumannya pun kembali, terdengar ketukan di pintu pada suatu pagi dan Otterer pun masuk ke dalam.

Tak ada orang lain di ruangan itu kecuali Anna dan si kecil. Mereka berdua berdiri mematung beberapa saat tanpa kata, kemudian Otterer menyatakan bahwa dari pihaknya ia telah mempertimbangkan, dan datang kemari untuk menjemput mereka. Sekali lagi ia mengingatkan ke sakramen pernikahan. Anna menjadi marah. Secara tegas meski dengan pelan ia mengatakan bahwa tidak terpikir olehnya untuk hidup bersama laki‑laki tersebut. Ia mau menikahinya hanya semata‑mata demi anak itu dan tidak menginginkan apapun darinya kecuali memberikan namanya untuk dia dan anak itu.

Sementara Anna menyebut anak itu Otterer melirik sekilas ke peti kayu di mana si kecil sedang mendeguk‑deguk tanpa ada niatan sama sekali untuk mendekatinya. Hal ini membuat Anna makin benci kepadanya.

Pria itu menyampaikan beberapa hal; Anna hendaknya mempertimbangkan lagi, di rumahnya ada sedikit makanan dan ibunya bisa tidur di dapur. Beberapa saat kemudian sang kakak ipar perempuan pun masuk ke dalam, menyapa sang suami dengan rasa ingin tahu dan mengundangnya makan malam. Laki‑laki itu baru saja duduk di depan meja ketika ia menyapa sang petani dengan sebuah anggukan yang acuh tak acuh, tapi juga tidak berpura‑pura kalau dia tidak mengenalnya atau mengingkari kalau sudah kenal. Atas pertanyaan‑pertanyaan yang diajukan oleh ipar perempuannya, hanya dijawabnya dengan singkat‑singkat saja tanpa pernah mengalihkan pandangan dari piringnya. Dikatakannya bahwa ia mendapat sebuah pekerjaan di Mering dan Anna bisa bergabung bersamanya. Namun ia tidak lagi menyarankan untuk ikut saat itu juga.

Selama lepas tengah hari ia menghindari untuk kumpul‑kumpul bersama kakak ipar laki‑laki dan teman‑temannya, namun justru membelah kayu sendirian di belakang rumah, padahal tak seorangpun yang memintanya. Setelah makan malam di mana pria itu sekali lagi ambil bagian dengan diam, kakak ipar perempuannya sendiri yang mengantarkan kasur bulu ke kamar Anna agar suaminya bisa bermalam di sana. Namun justru karena itu, entah kenapa, ia malahan bangkit dengan canggung dan menggerutu bahwa ia mesti pulang malam itu. Sebelum pergi, ia menatap dengan pandangan kosong ke peti tempat si kecil terbaring, namun tidak mengatakan apapun dan tidak pula menyentuhnya.

Malam itu Anna jatuh sakit dan menderita demam sampai beberapa pekan. Kebanyakan waktunya dihabiskan dengan lesu, hanya sesekali ketika menjelang tengah hari, saat demamnya agak reda, ia merangkak ke peti si kecil dan menyelempitkan selimutnya.

Pada pekan ke empat dari sakitnya, Otterer memacu keretanya memasuki pekarangan dan membawa pergi Anna serta bocah itu. Anna membiarkan saja tanpa berkata sepatahpun.

Agak lama barulah ia memperoleh kembali kekuatannya karena hanya menyantap sop encer di gubug itu. Tapi pada suatu pagi ketika ia memperhatikan betapa si kecil nampak demikian kotor dan terabaikan maka iapun memutuskan untuk bangkit.

Si kecil menyambutnya dengan senyum akrabnya, yang oleh kakak laki‑lakinya selalu dikatakan seperti senyumannya Anna. Bocah itu terus tumbuh dan kini merangkak ke seluruh ruangan dengan cepatnya, memukul‑mukulkan telapak tangannya di atas lantai dan menjerit‑jerit kecil tiap kali jatuh tertelungkup. Anna memandikannya di bak kayu dan memperoleh kembali kepercayaan dirinya.

Beberapa hari kemudian, bagaimanapun juga, ia tidak dapat tinggal di gubug itu lebih lama lagi. Ia membungkus si kecil dengan sedikit selimut, membawa sepotong roti dan keju di dalam tasnya lalu minggat.

Ia bermaksud mencapai Sonthofen, tapi tak berhasil berjalan jauh. Kedua lututnya masih sangat lemah sementara jalan raya masih licin dan sebagai dampak peperangan, masyarakat di desa‑desa sangat sensitif dan mudah curiga.

Pada hari ketiga pengembaraannya, salah satu kakinya terperosok ke dalam sebuah selokan dan setelah berjam‑jam mengkhawatirkan keadaan si kecil, iapun dibawa ke sebuah tanah pertanian di mana ia bisa berlindung di gudang. Si kecil merangkak‑rangkak di antara kaki‑kaki sapi dan hanya tertawa‑tawa saja ketika Anna berteriak‑teriak dengan cemas. Pada akhirnya ia harus mengatakan kepada orang‑orang di tanah pertanian itu tentang nama suaminya dan laki‑laki itupun membawanya kembali ke Mering.

Mulai sekarang ia tidak lagi berusaha melarikan diri dan pasrah menerima nasibnya. Ia bekerja keras. Sungguh sulit memperoleh suatu hasil dari sebidang tanah yang kecil dan menjaganya agar tetap berjalan. Meski demikian laki‑laki itu tidak berlaku buruk kepadanya dan si kecil juga bisa makan sekenyang‑kenyangnya. Lagi pula kakak laki‑lakinya pun kadang‑kadang berkunjung sambil membawakan aneka bingkisan. Dan suatu ketika Anna bahkan bisa memperoleh sebuah mantel mungil yang dicelup warna merah untuk si kecil. Menurutnya mantel itu sangat pantas untuk anak seorang saudagar kulit.

Seiring irama waktu ia semakin menikmati dan mengalami banyak kesenangan dalam mengasuh si kecil. Maka beberapa tahun pun berlalu.

Namun suatu hari ketika ia pergi membeli sirup ke desa dan sekembalinya mendapati bocah itu sudah tidak berada lagi di pondoknya dan suaminya pun menceritakan padanya bahwa tadi ada seorang wanita berpakaian elok singgah dengan kereta kudanya dan membawa si kecil. Anna pun terhuyung‑huyung menuju tembok dengan histeris.

Dan sore itu juga dengan tidak membawa apapun kecuali sebungkus makanan ia pergi ke Augsburg. Pertama kali yang dikunjunginya di kota kerajaan itu adalah tempat penyamakan kulit. Di sana ia tidak diijinkan masuk dan tidak bisa melihat si kecil.

Kakak perempuan dan iparnya sia‑sia saja menghibur Anna. Ia pergi mengadu kepada para penguasa dan tak dapat menahan dirinya untuk berteriak bahwa anaknya telah dicuri. Bahkan ia pun bertindak lebih jauh lagi sampai‑sampai mengisyaratkan bahwa orang‑orang Protestan telah mencuri anaknya. Tapi kemudian dia tahu bahwa kini jaman telah berubah dan perdamaian telah berlaku antara orang‑orang Katolik dengan Protestan.

Hampir saja usahanya tidak akan mencapai hasil apa‑apa kalau tidak karena sepotong keberuntungan yang datang membantunya. Kasusnya diserahkan kepada seorang hakim yang sungguh luar biasa. Ia adalah hakim Ignaz Dollinger yang tersohor di seluruh Swabia karena kekasaran dan pengetahuannya yang luas. Dikenal oleh para anggota dewan Bavaria yang sengketa hukum mereka dengan Kota Kerajaan diselesaikan dan diputuskan olehnya. Sebagai ‘orang tolol dari Latin ini’ tapi dikenang oleh masyarakat dalam sebuah balada yang panjang.

Dengan ditemani oleh kakak perempuan dan ipar laki‑lakinya, Anna pergi menghadapnya. Seorang laki‑laki tua yang pendek tapi sangat gendut duduk di antara setumpuk dokumen di sebuah ruangan kecil yang sama sekali tanpa hiasan dan mendengar seluruh pengaduannya dengan sangat singkat. Lalu ia menulis sesuatu, setelah itu menggeram; “Jalan ke sana dan cepatlah!”

Dan dengan telapak tangannya yang kecil tapi gemuk ia menunjuk ke sebuah tempat di ruangan itu di mana cahaya bisa masuk melalui sebuah jendela sempit. Selama beberapa menit ia mempelajari wajah Anna dengan cermat, lalu menyuruhnya pergi dengan sebuah dengusan.

Pada hari berikutnya ia mengirim seorang petugas untuk menjemput Anna, dan ketika wanita itu masih berada di ambang pintu ia sudah berteriak:

“Kenapa engkau tidak bilang saja bahwa kau sedang mengincar tempat penyamakan kulit itu beserta kekayaan yang ada bersamanya, ha?!”

Anna bersikeras mengatakan bahwa yang diinginkannya adalah si kecil.

“Jangan coba‑coba berpikir bahwa kau bisa menyerobot tempat penyamakan kulit itu!” teriak sang hakim. “Kalau anak haram jadah itu memang milikmu, maka harta tadi akan jatuh ke tangan para kerabat Zingli!”

Anna mengangguk tanpa melihat ke arahnya, lalu berkata: “Anak itu tidak membutuhkan tempat penyamakan kulit itu.”

“Dia anakmu?!” tanya sang hakim membentak.

“Ya,” jawab Anna dengan lembut. “Kalau aku dapat memeliharanya sampai bisa berkata‑kata, sejauh ini ia hanya tahu tujuh.”

Sang hakimpun batuk‑batuk dan membereskan dokumen‑dokumen di mejanya. Kemudian ia berkata lebih pelan meskipun dengan nada yang masih menyakitkan:

“Kau menginginkan anak bengal itu sementara perempuan jalang yang punya lima rok sutera itu juga menginginkannya. Namun yang diinginkan si bocah adalah seorang ibu sejati.”

“Ya,” sahut Anna dan iapun menatap sang hakim.

“Selesai denganmu,” geramnya. “Sidang dilangsungkan hari sabtu.”

Pada hari sabtu jalan utama dan halaman di luar balai kota sampai dengan Menara Perlach disemuti oleh massa yang ingin mengikuti jalannya sidang atas anak Protestan tersebut. Kasus yang luar biasa ini telah menimbulkan kegemparan hebat sejak awalnya. Dan di rumah‑rumah serta di kedai‑kedai minum pun terjadi perdebatan‑perdebatan seru mengenai siapa sesungguhnya ibu yang asli dan yang palsu. Lebih dari itu, si tua Dollinger telah dikenal luas karena proses persidangannya yang sederhana serta ucapan‑ucapan sengit dan ungkapan‑ungkapan bijaknya. Pengadilannya lebih populer daripada pertunjukan dan pasar malam.

Dengan demikian maka bukan hanya penduduk Augsburg saja yang bergerombol di luar balai kota, tidak sedikit para pemilik tanah pertanian yang datang dari desa‑desa sekitarnya. Jum’at adalah hari pasaran dan untuk mengantisipasi pengadilan besok, mereka menginap di kota itu.

Aula di mana Hakim Dollinger biasa mendengarkan argumentasi persidangan disebut Aula Keemasan. Terkenal di seluruh Jerman sebagai satu‑satunya balai yang seukuran itu yang tanpa pilar‑pilar. Langit‑langitnya digantungkan dari kasok dengan rantai‑rantai.

Hakim Dollinger duduk, ia seperti segumpal daging bundar kecil, di depan sebuah gerbang logam yang tertutup sepanjang sebuah tembok. Terlihat seutas tali tambang sebagai pembatas publik membentuk lingkaran. Tapi sang hakim duduk di atas lantai terbuka dan tak ada meja di depannya. Ia telah membuat tatanan seperti ini sejak bertahun‑tahun yang lalu, dia sangat percaya dalam hal penataan segala sesuatu pada tempatnya yang sesuai.

Di dalam lingkaran tali tadi terdapat Nyonya Zingli beserta kedua orang tuanya, dua orang kerabat Tuan Zingli yang baru saja datang dari Swiss dengan penampilan mereka yang necis seperti orang kaya dan Anna Otterer bersama kakak perempuannya. Seorang perawat yang membopong si kecil nampak berdiri di sisi Nyonya Zingli.

Masing‑masing orang, para pihak yang bersengketa dan para saksi, berdiri. Hakim Dollinger biasa berkata bahwa sidang akan lebih cepat kalau para pesertanya berdiri. Tapi barangkali juga dia menyuruh mereka berdiri agar bisa menyembunyikan dirinya dari publik, dengan begitu seseorang hanya dapat melihatnya kalau berjinjit dan melongokkan kepalanya.

Ketika proses persidangan itu dimulai terjadilah satu insiden kecil. Ketika Anna melihat bocah itu, spontan ia memekik dan melangkah maju dan anak itupun berusaha pergi arahnya. Ia meronta‑ronta sekuat tenaga dan menjerit‑jerit di dalam gendongan sang perawat. Sang hakim memerintahkan agar ia dibawa keluar dari balai itu.

Selanjutnya iapun memanggil Nyonya Zingli. Wanita itupun maju ke depan dengan berisik dan bercerita sambil sesekali menyeka matanya dengan sapu tangan kecil bagaimana ketika para serdadu kerajaan itu merenggut sang putra dari tangannya waktu terjadi penjarahan. Pada malam yang sama si gadis pembantu datang ke tempat ayahnya dan melaporkan bahwa si kecil masih berada di rumah, barangkali dengan harapan untuk memperoleh imbalan. Namun ketika salah seorang tukang masak ayahnya diutus ke penyamakan, ia tidak menemukan anak itu. Dan iapun lalu menduga bahwa orang ini, maksudnya Anna, telah membawanya dalam rangka supaya bisa memeras sejumlah uang dengan suatu cara atau apalah nantinya. Tak diragukan bahwa cepat atau lambat pada akhirnya dia akan datang dengan suatu permintaan sebelum melepaskan anak itu.

Hakim Dollinger memanggil dua orang kerabat Tuan Zingli dan menanyai mereka apakah mereka telah mencari tahu tentang keadaan Tuan Zingli saat itu dan bagaimana jawaban Nyonya Zingli.

Mereka bersaksi bahwa Nyonya Zingli telah memberitahu kepada mereka bahwa suaminya telah terbunuh dan bahwa wanita itu telah mempercayakan puteranya kepada seorang gadis pembantu di mana ia akan mendapat pemeliharaan yang baik. Mereka berbicara tentang Nyonya Zingli dengan cara yang sangat tidak bersahabat yang tentu saja tidaklah aneh karena kekayaan itu akan jatuh ke tangan mereka kalau Nyonya Zingli sampai kalah dalam perkara ini.

Untuk membuktikan kebenaran mereka sang hakim beralih kembali kepada Nyonya Zingli dan ingin tahu darinya kenapa dengan mudahnya ia tidak kehilangan lehernya saat serangan itu dan mengabaikan anaknya.

Nyonya Zingli menatapnya dengan kedua bola mata birunya yang pucat seakan‑akan keheranan dan berkata dengan nada pedih bahwa ia tidak mengabaikan anaknya.

Hakim Dollinger menyeka lehernya dan menanyainya dengan penuh selidik apakah wanita itu percaya bahwa tak ada ibu yang sampai hati mengabaikan anaknya.

Ya, ia yakin akan hal itu, jawab wanita tadi dengan tegas. Lalu apakah ia percaya, tanya sang hakim lebih jauh, bahwa seorang ibu yang meskipun begitu telah melakukannya, harus didera punggungnya tanpa memandang berapapun banyaknya rok yang dia pakai?

Nyonya Zingli tidak menjawab dan sang hakim pun memanggil sang mantan gadis pembantu, Anna. Iapun melangkah dengan cepat dan dengan suara pelan mengatakan kembali apa yang pernah dikatakannya pada pemeriksaan awal sebelumnya. Namun ia berbicara dengan seakan‑akan juga sambil mendengarkan pada saat yang bersamaan, dan sesekali melirik ke pintu besar di mana si kecil tadi dibawa, seolah‑olah ia khawatir balita itu masih menjerit‑jerit.

Anna bersaksi bahwa meskipun ia telah mengunjungi rumah paman Nyonya Zingli pada malam itu, ia tidak kembali lagi ke tempat penyamakan kulit karena takut terhadap tentara‑tentara kerajaan dan karena khawatir atas keadaan anak tidak sahnya yang dititipkan bersama orang‑orang baik di desa tetangga Lechhausen.

Si tua Dollinger dengan kasar memotong pembicaraannya dan menghardik bahwa pada akhirnya ada juga seseorang di kota itu yang punya perasaan seperti takut. Ia senang menemukan kenyataan itu, yang membuktikan bahwa setidaknya ada seseorang di kota itu yang punya perasaan semacam itu saat itu. Tentu saja tidak lucu bagi seorang saksi bahwa ia hanya mempedulikan anaknya saja, tapi di sisi lain sebagaimana dinyatakan dalam sebuah ungkapan yang terkenal, bahwa darah lebih kental daripada air. Dan seorang ibu akan berusaha keras mencuri demi anaknya meski hal ini sangat dilarang oleh hukum.

Kemudian iapun menyampaikan salah satu pelajaran yang bijak dan tajam mengenai kekejian orang‑orang yang menipu pengadilan sampai wajah mereka hitam, dan setelah melantur sedikit tentang para petani yang mencampur air pada susu sapinya dan dewan kota yang memungut pajak terlalu tinggi kepada para petani, yang mana hal tersebut tentu saja tidak ada hubungannya sama sekali dengan kasus ini, ia menyatakan bahwa pemeriksaan terhadap para saksi telah selesai dan tidak berhasil menarik kesimpulan.

Kemudian ia jeda dalam waktu lama dan memperlihatkan tanda‑tanda menyerah. Tampak seolah‑olah ia berharap ada seseorang yang bisa memberikan saran bagaimana caranya untuk mencapai penyelesaian.

Orang‑orang pun saling melihat satu sama lain dengan bingung dan beberapa dari mereka mengangkat lehernya agar bisa melihat sekilas hakim yang tidak berdaya itu. Namun di balai itu suasananya tetap hening, hanya terdengar suara kerumunan orang yang berada di jalan di bawah sana.

Kemudian sambil mendesah sang hakim berbicara lagi.

“Ini bukan untuk menentukan siapa ibu kandung sesungguhnya,” katanya. “Anak itu harus dikasihani. Kita semua pernah mendengar tentang para ayah yang mengelak dari tanggung jawabnya dan tidak mau menjadi ayah, namun para bajingan! Tapi di sini terdapat dua orang ibu yang sama‑sama menuntut. Sidang pengadilan telah mendengarkan mereka selama selayaknya, yakni masing‑masing lima menit penuh, dan sidang pengadilan pun telah diyakinkan oleh argumen‑argumen mereka berdua. Namun, sebagaimana telah dikatakan tadi, kita masih harus memikirkan tentang si kecil yang harus mendapatkan seorang ibu. Oleh sebab itu harus dibuktikan, tidak cukup hanya dengan ocehan, siapakah ibu anak ini yang sesungguhnya.”

Dan dengan suara kesal dipanggilnya seorang petugas kemudian menyuruhnya membawa sebatang kapur. Petugas itupun pergi dan mengambilnya.

“Gambarlah sebuah lingkaran yang cukup besar dengan kapur itu di atas lantai agar bisa muat untuk tiga orang berdiri di dalamnya!” perintah sang hakim selanjutnya.

Petugas itupun berjongkok dan menggambar lingkaran tadi dengan kapur seperti yang diperintahkan.

“Sekarang bawa anak itu kemari!” lanjutnya.

Bocah itupun dibawa masuk. Ia menangis lagi dan berusaha pergi ke arah Anna. Si tua Dollinger tidak mempedulikan tangisan itu dan semata‑mata hanya memberikan instruksinya dengan suara yang agak lebih keras.

“Ujian yang sebentar lagi akan dilaksanakan,” ujarnya, “kutemukan dalam sebuah buku kuno dan tampaknya sangat baik. Secara sederhana, ide dasar dari ujian dengan lingkaran kapur ini adalah bahwa ibu yang sesungguhnya akan diketahui dari kecintaannya kepada sang anak. Di sinilah kekuatan dari cinta tadi harus diuji. Petugas, letakkan bocah itu ke dalam lingkaran kapur tad!”

Sang petugas pun mengambil anak yang masih menangis tadi dari tangan sang perawat dan membawanya ke dalam lingkaran tersebut. Sang hakim melanjutkan sambil berpaling kepada Nyonya Zingli dan Anna:

“Kalian berdua masuklah dan berdiri di dalam lingkaran itu juga. Masing‑masing memegang salah satu lengan si kecil dan kalau aku berkata: Ya! tarik sekuat‑kuatnya anak itu keluar dari lingkaran. Siapa saja di antara kalian yang paling kuat cintanya, pastilah juga akan menarik dengan kekuatan yang lebih besar dan dengan demikian akan membawa anak itu ke sisinya.”

Balai itupun menjadi gempar. Para penonton berjinjit dan memperingatkan orang‑orang yang berdiri di depan mereka. Namun mendadak terjadi keheningan lagi ketika kedua wanita tersebut melangkah masuk ke dalam lingkaran dan masing‑masing memegang sebelah tangan si kecil. Bocah itupun juga langsung terdiam, seperti mengerti apa yang sedang dipertaruhkan. Ia memalingkan wajah mungilnya yang berlinang air mata kepada Anna. Lalu sang hakimpun memberikan aba‑abanya:

“Ya…!”

Dan dengan sekali sentakan kuat Nyonya Zingli merenggut si kecil keluar dari lingkaran. Terpana dan tak percaya, pandangan mata Anna mengikutinya. Karena khawatir kalau sampai si kecil cedera bila kedua lengannya yang mungil itu ditarik serentak ke dua arah yang berbeda, Anna segera melepasnya.

Si tua Dollinger berdiri.

“Nah, akhirnya kita tahu!” serunya, “siapa ibu yang sesungguhnya. Ambil si kecil dari sundal itu. Ia akan mencabik‑cabiknya sampai hancur dengan darah dingin!” Dan iapun lalu mengangguk kepada Anna dan segera meninggalkan balai itu untuk menyantap sarapan paginya.

Dan pada pekan‑pekan berikutnya para petani, yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri, secara tak langsung memperbincangkan bagaimana saat sang hakim sambil mengedip menghadiahkan si kecil kepada wanita dari Mering itu.

.

.

.

BERTOLT BRECHT (1898‑1956) merupakan salah seorang tokoh puncak drama di abad dua puluh. Ia lahir di Augsburg, Jerman. Belajar sains dan pengobatan, namun ia segera menemukan bahwa minat utamanya adalah pada teater. Di AS karya kolaborasinya bersama Kurt Weill mendapat sukses luar biasa. Sedang di Indonesia sebuah karyanya, Opera Kecoa, juga pernah dipentaskan.

.

Alih bahasa Syafruddin HASANI.

.

.

WARNA KEGELAPAN (Colour of Darkness – Cerita Pendek karya James Purdy)

WARNA KEGELAPAN

(Colour of Darkness – Oleh James Purdy

Terkadang ia memikirkan istrinya, namun hal itu mulai terlambat, biasanya setelah anak laki‑lakinya pergi ke kamar tidur, sesuatu yang seharusnya mengerikan namun nyatanya tidak, ia sekarang ini tak bisa lagi mengingat seperti apa istrinya. Suatu hal yang pasti tak dapat diingatnya adalah warna mata wanita itu. Tapi justru itulah yang paling menggoda di benaknya. Dan yang juga paling tidak dapat ia sampaikan kepada siapapun.

Tentu saja di kota itu ada orang yang mestinya ingat seperti apa warna mata istrinya. Tetapi berangsur‑angsur ia pun mulai lupa bentuk wajahnya. Yang tertinggal dalam kenangannya hanya suara wanita itu, suara yang hangat menyenangkan hati.

Kemudian ada anak laki‑laki mereka, Baxter, tentu­nya. Dengan hal‑hal yang diketahui dan tidak diketahuinya. Terkadang Baxter seperti tahu segala hal. Ketika bocah itu berpegangan pada pinggiran kursi memandang ke ayahnya, mengamatinya dengan sungguh‑sungguh. Tampak seolah‑olah bocah itu tidak begitu dekat dengan ayahnya. Sang ayah merasa bahwa Baxter mungkin tahu segala sesuatu.

“Bax…,” sang ayah akan berkata dan menatap dalam‑dalam ke mata anaknya. Bocah itu benar‑benar mirip dengan ayahnya. Tak ada tanda‑tanda di wajahnya tentang sesuatu dari ibunya.

“Kau akan cepat besar,” kata sang ayah pada malam itu, tanpa pernah disadarinya sendiri mengapa ia berkata begitu. Ucapan itu terlontar begitu saja tanpa dipikirkan­nya.

“Kukira tidak,” jawab anaknya.”Mengapa tidak?” Sang ayah terheran‑heran, terkejut oleh jawaban anaknya seperti terkejutnya oleh pertanyaannya sendiri. Si bocah juga memikirkan apa yang akan dikatakannya.

“Berapa lama?” tanyanya.

“Oh, masih lama,” jawab ayahnya.

“Bolehkah aku tetap tinggal dengan Papa?” tanya si bocah menyelidik.

Sang ayah mengangguk. “Tentu saja, Sayang,” sahut­nya.

Anak itu berkata Oh dan berlari mengitari kamar. Lalu ia jatuh menimpa salah satu mainannya dan menangis.

Bu Zilke masuk ke dalam kamar dan mendiamkannya dengan kata‑kata yang menghibur. Sang ayah bangkit dan menggendong si bocah. Kemudian ia duduk lagi dan meletak­kan anaknya dalam pangkuan. Wajahnya memerah karena mengerahkan tenaga tadi. Ia berkata kepada Bu Zilke, “Anda lihat, saya sudah tua.”

Bu Zilke tertawa. “Jika Anda tua, saya sudah mati,” sahutnya. “Anda harus menjaga kemudaan Anda,” lanjutnya dengan suara agak serak kepada sang ayah setelah berhenti sesaat.

Sang ayah memandang wanita tua itu. Baxter tiba‑tiba menggeliat di dalam dekapan ayahnya. Ia mengamati sang ayah dengan penuh rasa ingin tahu. Kemudian diciumnya wajah ayahnya.

“Dia masih muda,” katanya kepada Bu Zilke.

“Memang. Tentu saja papamu masih muda,” sahut Bu Zilke.

Sang ayah tertawa dan Baxter beranjak pergi ke kamar tidurnya dengan Bu Zilke.

Sang ayah memikirkan kata‑kata Bu Zilke dan ia memperhatikan kata‑kata itu sebagaimana saat ini ketika men­dengar wanita tua itu sedang membacakan cerita untuk anaknya dari sebuah buku dongeng. Baginya cerita yang dibacakan wanita tua itu sangat membosankan, dan ia berpi­kir anaknya tidak akan memperoleh sesuatu yang mengesankan dari cerita itu.

Ia tahu, sungguh aneh kalau ia tidak dapat mengingat warna mata istrinya. Ia merasa yakin masih mengingatnya, dan mungkin  secara tak sadar ia mencoba melupakannya. Kemudian ia mulai berpikir bahwa ia juga tidak dapat mengingat warna mata anaknya. Padahal ia baru saja meli­hatnya!

“Apa yang diketahuinya?” Sang ayah bertanya kepada Bu Zilke ketika ia sudah turun dari tangga dan duduk sejenak membaca koran. Bu Zilke menyalakan rokok dan menghembuskan asapnya sebelum menjawab. Sementara sang ayah melihat ke luar jendela seolah‑olah ia sudah lupa kehadiran wanita tua itu dan pertanyaannya sendiri barusan tadi.

“Ia tahu segalanya,” jawab Bu Zilke.

Sang ayah tersadar dan memandang wanita tua itu dengan ramah. “Memang mereka begitu sekarang, ya kan?” kata sang ayah, maksudnya adalah anak‑anak.

“Tampaknya memang demikian,” wanita tua itu membe­narkan. “Ya,” lanjutnya sambil berpikir. “Mereka tahu semuanya.”

“Saya menganggap semua orang yang saya jumpai beru­sia empat puluh tahun,” kata sang ayah. “Bahkan juga terhadap anak‑anak, mungkin. Namun mereka benar‑benar menjadi misteri bagi saya. Saya tidak tahu bagaimana berbicara dengan mereka. Agaknya saya tak paham jalan pikiran mereka.”

“Oh, saya maklum. Saya membesarkan delapan anak dan dulupun saya juga berpikiran seperti itu,” kata Bu Zilke.

“Yaah, paling tidak saya jadi terhibur mendengar itu,” kata sang ayah.

Wanita tua itu tersenyum. Tetapi sang ayah merasa dalam senyumnya ada sesuatu yang masih tersisa dalam benaknya yang tidak diungkapkannya.

“Memang kita tidak mengetahui orang lain, ya kan?” katanya kepada Bu Zilke, ia ragu.

Wanita tua itu mengangguk, menikmati rokoknya. “Putera Anda kesepian,” katanya tiba‑tiba.

Sang ayah mengalihkan pandangannya dari wanita tua itu.

“Maksudnya kasihan sekali karena ia seorang anak tunggal,” lanjutnya.

“Bukankah ia punya teman di sekitar sini. Saya pikir….”

“O, itu tidak sama,” potong Bu Zilke. “Bermain dengan anak‑anak lain seperti pada hari Sabtu dan sebagai­nya itu tidak cukup.”

“Saya selalu disibukkan oleh pekerjaan.”

“Anda memang sibuk.”

“Yaa, bagaimana lagi?” Sang ayah tertawa. “Saya seorang yang sukses.”

Bu Zilke tidak ikut tertawa. Sang ayah memperhatikan wanita tua yang sangat giat itu. Ia mengaguminya. Ia senang wanita tua itu tidak ikut tertawa bersamanya.

“Seharusnya tak seorangpun cuma punya seorang anak,” kata wanita tua itu kepadanya.

“Anda tahu,” kata sang ayah dengan gaya yang meya­kinkan, “ketika kita sedang disibukkan pekerjaan, seperti yang saya alami ini, orang‑orang akan menyingkir dari kita.”

Sang ayah memandang botol brandy di rak.

“Bersediakah Anda minum satu sloki brandy dengan saya, Bu Zilke?”

Wanita tua itu akan berkata tidak karena ia betul‑betul tidak menyukainya, tetapi ia melihat sesuatu di wajah laki‑laki muda itu. Ia mengangguk agak segan lalu sang ayah bangkit dan menuangkan dua sloki brandy.

“Terima kasih bersedia menemani saya minum,” tiba‑tiba sang ayah berkata, seperti untuk menghapus bersih sesuatu yang berada di antara kata‑kata dan kenangannya.

“Harum sekali,” kata Bu Zilke sambil meneguk perla­han.

“Anda pandai sekali,” puji sang ayah.

“Saya tahu tentang aroma,” tanggap wanita tua itu dingin.

“O, bukan saja  soal aroma. Tapi juga hal‑hal lain­nya.”

“Ah, saya tidak tahu apa‑apa,” Bu Zilke merendah.

“Anda tahu semua hal,” lanjut sang ayah, “sedangkan saya cuma punya pekerjaan saya.”

“Itu cukup. Mereka membutuhkan Anda.”

Sang ayah duduk, tapi ia tidak menyentuh brandy‑nya lagi. Sementara Bu Zilke setelah membaui brandy‑nya ia juga menurunkan gelas kecilnya. Mereka berdua duduk dalam kebisuan seakan‑akan berada di tengah orang banyak.

“Saya tidak dapat mengingat warna mata istri saya,” kata laki‑laki muda itu. Dan ia kelihatan sakit.

Bu Zilke duduk sambil mempertimbangkan apakah yang dibicarakan pria itu cukup penting atau lebih baik meng­ganti topik pembicaraan mereka.

“Dan malam ini mungkin Anda tidak akan percaya, saya bahkan tak dapat mengingat warna mata anak saya!”

“Matanya biru seperti laut,” Bu Zilke berkata agak ketus tetapi dengan nada kesedihan yang dalam.

“Tetapi ada apa dengan masalah sepele itu,” lanjut wanita tua itu. “Anda adalah orang penting.”

Sang ayah tertawa sangat keras atas perkara ini. Dan Bu Zilke tiba‑tiba ikut tertawa juga. Sang ayah mengangkat gelasnya lalu mengucapkan kata‑kata murahan sementara Bu Zilke juga mengambil gelasnya dengan pandangan sedikit terganggu dan minum berteguk‑teguk.

“Saya dapat merasakan rasa anggur di dalamnya, kan,” katanya.

“Memang, inilah anggurnya karenanya tentu saya beli,” diulanginya dengan nada yang mungkin biasa diucap­kannya di bar kaum pria.

“Anda tidak perlu mempedulikan apa warna mata mereka sekarang atau dulu,” kata Bu Zilke.

“Ya, itulah ingatan saya tentang orang‑orang,” katanya kepada wanita tua itu. “Saya tidak mengenal mereka dengan baik.”

“Memang demikian,” sahut Bu Zilke. “Tetapi Anda punya hal‑hal lain.”

“Tidak, sungguh. Bukan begitu. Saya dapat mengingat orang‑orang kalau saya mau.”

“Jika Anda mau,” ulang Bu Zilke.

“Baiklah, mengapa saya tidak dapat mengingat mata istri saya,” ia menumpahkan uneg‑unegnya. “Dapatkah Anda mengingat,” tanyanya ingin tahu, “warna mata anggota keluarga Anda.”

“Semuanya ada empat puluh dua mata,” wanita tua itu tertawa.

“Ya, ya … suami Anda, putera dan puteri Anda.”

“O, saya kira saya dapat,” wanita tua itu mencoba mengelak.

“Tetapi Anda bisa Bu Zilke, Anda bisa.”

“Benar, tetapi saya hanya seorang perempuan yang hanya melulu di rumah. Sedangkan Anda di luar melihat dunia. Mengapa Anda harus menghiraukan warna mata manusia? Aduh, kasihan sekali!” Wanita tua itu meletakkan gelasnya lalu mengambil beberapa kaos kaki yang telah dijahitnya sebelum mengantar Baxter ke ranjangnya tadi.

“Saya akan ngobrol sambil menjahit,” katanya mene­gaskan seolah ia akan sedikit bicara sekarang dan mungkin tidak akan minum brandy lagi. Sang ayah tiba‑tiba menutup matanya rapat‑rapat. Laki‑laki muda itu menyadari bahwa ia tidak tahu warna mata Bu Zilke. Namun tiba‑tiba ia tidak cemas lagi. Ia tidak peduli. Dan ia yakin Bu Zilke pun tidak akan peduli, apakah ia tahu atau tidak. Tadi wanita tua itu mengatakan padanya untuk tidak menghiraukan. Baginya yang lebih penting adalah ia masih mengingat wanita tua itu. Ia ingat kebaikan wanita tua itu kepadanya dan kepada anaknya. Dan betapa pentingnya mereka berdua bagi wanita tua itu.

“Berapa umur Papa?” Baxter bertanya kepada ayahnya yang sedang duduk di kursi besarnya dengan minumannya.

“Dua puluh delapan,” jawabnya tidak jelas.

“Apakah itu cukup tua untuk mati?” anak laki‑laki itu menyelidik.

“Ya dan tidak,” jawab sang ayah.

“Apakah aku cukup tua untuk mati?”

“Papa rasa tidak,” sang ayah menjawab pelan, semen­tara pikirannya di tempat lain.

“Mengapa kita tidak mati?” Tanya bocah itu sambil menerbangkan kapal terbang kertas yang baru dibikinnya. Kemudian ia mengambil burung mainan yang dibuatnya dari kertas coklat dan melemparkannya ke udara. Burung‑burungan itu menabrak tanaman philodendron dan tersangkut di sana seperti dilakukan dengan sengaja.

“Papa selalu memikirkan sesuatu yang lain, ya kan?” kata Baxter. Bocah itu naik ke tempat ayahnya duduk dan memandang wajahnya. “Matamu biru,” kata sang ayah. “Biru seperti laut.”

Baxter tiba‑tiba mencium ayahnya, sedangkan sang ayah memandanginya lama‑lama.

“Jangan pandangi aku begitu,” kata si bocah malu.

“Begitu bagaimana?” tanya sang ayah dan menurunkan pandangannya. Si bocah beringsut dengan kikuk, menyeret sepatu kecilnya di atas karpet.

“Seperti Papa tidak tahu sedikitpun,” kata bocah itu dan ia lari ke dapur mencari Bu Zilke.

Setelah Bu Zilke pergi ke kamar tidurnya, kira‑kira hampir empat jam setelah Baxter lelap, sang ayah biasa duduk di lantai bawah memikirkan masalah dalam pekerjaan­nya, tetapi ketika ia ada di rumah seperti ini ia sering memikirkan tentang dia, istrinya dulu. Istrinya ‘lari’, itulah istilah yang dipakainya untuk menyebut kepergian wanita itu sejak dulu. Dan pernikahannya dengannya demiki­an singkat hingga seolah‑olah Baxter adalah pemberian orang. Istrinya menghadiahinya, dan menjadi pemberian yang bertambah nilai dan tanggung jawabnya, hubungannya dengan peristiwa itu semakin bimbang dan samar. Akan tetapi Bu Zilke tampak lebih nyata baginya daripada orang lain, siapapun. Meski ia tidak dapat mengingat warna matanya juga, namun ia sangat nyata. Wanita tua itu sudah diang­gapnya ibunya sendiri. Sedangkan Baxter adalah seorang adik laki‑laki kecil yang tidak begitu dikenalnya dengan baik tapi suka menanyakan hal‑hal yang sulit. Di lain pihak istrinya yang ‘lari’ itu, hanyalah seorang wanita yang seakan pernah pergi dengannya. Dan kini ia tidak dapat lagi mengingatnya sama sekali.

Ia iri melihat cara Bu Zilke mengatur segala sesua­tu. Seolah‑olah wanita tua itu memahami hal‑hal yang diurusnya. Ia dapat mengenal dan mengingat  semua hal yang dilihatnya dan di bawah wewenangnya. Dunia ini bagi wanita tua itu adalah bundar, kokoh dan diterangi dengan sempur­na.

Sedangkan menurutnya hanya pekerjaannya yang memi­liki arti nyata. Dan ia ingat Bu Zilke menyebutnya orang penting. Tetapi apalah artinya pekerjaan terhadap sesuatu yang lain.

Ketika malam itu ia naik ke atas menengok anaknya, ia terperanjat melihat Baxter sedang tidur dengan boneka buaya raksasa. Mata boneka itu agak mengagetkannya. Untuk beberapa saat ia ragu apakah harus memindahkan boneka itu atau tidak. Tapi kemudian diputuskannya untuk tidak meng­ganggunya. Kemudian ia pergi ke kamarnya sendiri. Melepas­kan semua pakaiannya dan berdiri telanjang menghirup udara segar di depan jendela terbuka. Lalu ia cepat‑cepat naik ke ranjang.

“Itu boneka kesayangannya,” kata Bu Zilke ketika sarapan pagi. “Baxter tidak mau berpisah dengannya bagai­manapun juga,” lanjutnya menjelaskan.

“Saya rasa boneka itu akan menyebabkannya bermimpi buruk,” kata sang ayah.

“Ia tidak pernah mengalami mimpi buruk,” bantah Bu Zilke sambil mengoleskan mentega di atas roti bakar. “Ini untuk Anda, Pak,” kata wanita tua itu menyodorkan sarapan paginya.

Sang ayah terdiam sejenak.

“Saya terperanjat ketika melihat boneka buaya di ranjangnya itu,” katanya lagi kepada Bu Zilke.

“Yaah, itu hanya perasaan Anda saja,” sahut Bu Zilke.

“Saya rasa demikian. Tapi kenapa bukan boneka anak beruang atau boneka anak perempuan saja.”

“Baxter juga sudah punya. Kebetulan tadi malam ia bersama boneka buaya itu,” kata Bu Zilke menerangkan sambil sibuk di dapur.

“Baiklah,” kata sang ayah, lalu ia membuka lembaran koran dan mulai membaca tentang Mesir.

“Putera Anda memerlukan seekor anjing,” kata Bu Zilke tiba‑tiba tanpa peringatan. Ia masuk dan duduk di meja dengan sang ayah. Di tangannya masih terlihat bekas‑bekas air sabun.

“Yang seperti apa?” tanya sang ayah.

“Anda tidak menolaknya nanti?” tanya Bu Zilke.

“Mengapa saya menolak anjing?” lanjutnya sambil melihat koran.

“Ia harus memiliki sesuatu,” kata Bu Zilke menerus­kan.

“Tentu,” sahut sang ayah sambil meneguk kopi kemudian memandang wanita tua itu. “Maksud Anda sekarang ini Baxter tidak punya apa‑apa?”

“Selama orang tua masih hidup, siapa pun orang tua, seorang anak biasanya memiliki sesuatu. Maksud saya bukan tentang anjing,” jawab Bu Zilke tanpa maksud membela diri dan sang ayah berharap memang tidak begitu.

“Saya lebih suka ia tidur dengan anjing daripada buaya itu.”

“O, begitu?” desak Bu Zilke dengan gusar.

Kemudian sang ayah berkata, “Baiklah.”

Ia tetap menunduk ketika Bu Zilke pergi meninggalkan ruangan. Ia duduk memandangi cincin kawin yang masih dipakainya. Tiba‑tiba dilepaskannya cincin itu dari jari­nya untuk yang pertama kalinya sejak dipasangkan di sana oleh perintah pendeta. Ia sengaja membiarkan cincin itu di jarinya selama bertahun‑tahun dengan alasan yang sederha­na, memang. Ia ingin orang menganggapnya menikah, dan entah bagaimana ia harus menikah, bagaimanapun caranya, ia tahu itu. Tetapi ia tinggalkan cincin kawinnya di atas meja lalu ia pergi ke ruang depan.

“Pak…,” Bu Zilke memanggil dan mengejarnya.

“Biarkan cincin itu di sana,” katanya menyangka wanita tua itu menemukan cincinnya.

Tetapi di wajah Bu Zilke ia melihat sesuatu yang lain. “Anda harus mengantar Baxter membeli anjing. Anda kan tahu saya tak dapat lagi berjalan di atas trotoar yang keras.”

“Pokoknya beres, Bu Zilke,” sahutnya sekedar menang­gapi apa yang dikatakan wanita tua itu.

Anjing yang mereka beli di toko adalah seekor anak anjing geladak dengan ekor panjangnya yang lucu. Sang ayah menatapnya dari dekat: mata coklat. Hampir yang pertama kali dilakukan anjing itu adalah kencing di dekat meja kerjanya. Sang ayah menyuruh membersihkannya. Dan Baxter hanya menonton ketika Bu Zilke bersungut‑sungut sendirian di dapur. Kemudian wanita tua itu masuk dan menaburkan suatu bubuk putih di atasnya.

Anjing itu juga memandang mereka dari tempatnya di pojok ruangan. Tapi tampaknya binatang itu tidak ingin menghampiri mereka. Baxter memandangnya, tapi tidak mela‑kukan apa‑apa.

“Dekatilah,” kata ayahnya. Baxter berjalan ke pojok ruangan dan menatap anjing kecilnya.

Sementara sang ayah duduk dan mulai meneruskan korannya.

“Apakah Papa juga pernah punya anjing?” tanya Bax­ter.

Sang ayah berpikir di tempatnya. Ia terdiam dalam waktu yang lama.

“Pernah,” akhirnya ia menjawab.

“Apa warnanya?” Sang ayah memutar kursinya. “Sudah sangat lama dulu,” jawabnya seolah‑olah mengutip dari dirinya sendiri.

“Apakah abu‑abu?” desak Baxter ingin tahu.

Ayahnya mengangguk.

“Seekor anjing abu‑abu,” ulang Baxter dan ia mulai bermain dengan peliharaan barunya. Anak anjing itu mengangkat cakarnya yang basah dan memukul Baxter pelan. Bocah itu menjerit kecil.

“Anjing itu sedang senang,” kata ayahnya sambil lalu.

Baxter menangis kecil dan berlari ke dapur. Sedang­kan anjing kecil itu tetap berada di tempatnya.

“Sekarang jangan takut lagi dengan teman kecilmu itu,” kata Bu Zilke. “Kembalilah dan ajak dia bermain lagi.”

Baxter keluar dari dapur dan menghampiri anjingnya.

“Beri dia nama,” saran Bu Zilke.

“Apakah aku harus memberinya nama, Papa?” tanya bocah itu.

Sang ayah mengangguk.

Setelah makan malam mereka bertiga duduk di ruang depan. Baxter agak mengantuk. Sang ayah duduk di kursi malas sambil menghisap pipa rokoknya dengan segelas brandy di dekatnya. Mereka berkumpul di sana untuk mencarikan nama bagi anjing itu. Tetapi tampaknya belum seorangpun yang mendapat gagasan. Sementara sang ayah tak peduli terhadap mereka. Ia tenggelam dalam kenikmatan merokok dengan pipa mahalnya. Seakan‑akan ia sudah di ibu kota lagi dan jauh terpisah dengan mereka.

Baxter terkantuk‑kantuk beberapa kali lagi dan Bu Zilke berkata, “Hey, belum waktunya tidur. Tapi kenapa laki‑laki kecil ini sudah mengantuk.”

Terdengar jeritan anjing kecil itu dari gudang bawah di mana mereka menempatkannya. Tapi mereka pura‑pura tak mendengarnya.

Akhirnya Bu Zilke berkata, “Kalau ia sudah jinak nanti kamu bisa tidur dengannya, Baxter.”

Baxter membuka matanya dan memandang wanita tua itu. “Apa maksudnya?” tanyanya.

“Bila ia sudah pandai mengurus dirinya sendiri, tidak lagi buang kotoran sembarangan, kamu dapat mengajak­nya ke tempat tidur.”

“Tidak mau!” sahut si bocah.

Bu Zilke menatap sang ayah sambil menahan perasaan­nya. “Kenapa tidak mau, Sayang?” tanya wanita tua itu tanpa menunjukkan emosi.

“Aku tidak ingin,” kata Baxter.

Bu Zilke kembali menatap sang ayah. Tapi laki‑laki muda itu bahkan lebih tidak menghiraukan mereka lagi.

“Apa yang di mulutmu itu?” kata Bu Zilke tiba‑tiba memancing perhatian. Ia membetulkan letak kaca matanya dan melihat ke mulut si bocah.

“Ini,” bocah itu menunjuk bibirnya yang agak meme‑ rah. “Permen karet,” ia berkata.

“Oh,” kata Bu Zilke.

Jam berdentang menunjukkan pukul delapan.

“Saya kira sekarang waktu tidurmu,” kata Bu Zilke.

Ia memandang si bocah.

“Kamu mau ke tempat tidur, Baxter?” tanyanya samar‑samar.

Bocah itu menunduk.

“Cium Papa dan ucapkan selamat malam padanya,” perintahnya sepintas lalu.

Baxter bangkit dan menghampiri ayahnya, tapi lang­kahnya terhenti di depan lingkaran asap rokok.

“Selamat malam,” katanya dengan suara aneh. “Apa itu di mulutmu?” Sang ayah menunjukkan perha­tiannya kepada Bu Zilke dan kepalanya keluar dari gumpalan asap rokok.

Bu Zilke bangkit dengan susah payah dan mengganti kaca matanya untuk mengamati si bocah.

“Apa yang kamu kulum itu?” tanya Bu Zilke dan kedua orang dewasa itu memandang kepadanya.

Baxter melihat mereka seolah‑olah telah memasang jaring di sekitar dirinya. Dari perasaan tidak peduli yang lama terpendam terhadap dua orang ini tiba‑tiba muncul perasaan aneh secara perlahan dalam kebingungannya, pelan‑pelan perasaan itu menggerakkan pikirannya. Ia bergerak selangkah ke belakang seakan‑akan ingin memancing perha­tian mereka.

“Baxter sayang…,” bujuk Bu Zilke dan mereka berdua memandangnya seolah‑olah mereka baru mengenali siapa anak itu.

“Apa yang ada di mulutmu itu, nak?” tanya sang ayah. Dan kata ‘nak’ terdengar aneh berkumandang. Diterima oleh Baxter dengan rasa berat dan dorongan rasa jijik. Sejijik melihat kencing anjing kecil itu tadi sore.

“Apa itu, nak?” ulang sang ayah. Bu Zilke memandang­nya. Ada kesan khawatir tersirat di wajah tuanya yang merah terhadap bocah itu.

“Aku sedang mengunyah permen karet,” jawab Baxter kepada mereka.

“Tidak, Baxter. Kenapa kamu tidak mau mengatakannya kepada kami?” keluh Bu Zilke.

Baxter berjalan ke pojok ruangan di mana anak anjing tadi berada.

“Anjing itu nakal, ya?” Baxter tertawa terkekeh‑kekeh. Dan tiba‑tiba ia tertawa lebih keras lagi ketika diingatnya apa yang telah dilakukan anak anjing itu. Sementara Bu Zilke dan ayahnya sedang berbisik‑bisik di tengah asap rokok.

Baxter duduk di lantai sambil berbicara dengan dirinya sendiri dan bermain dengan potongan boneka rusak. Dari mulutnya masih terdengar samar‑samar suara seperti logam.

Kemudian perlahan‑lahan Bu Zilke menghampirinya. Terbayang keprihatinan dan kebaikan hati di wajahnya, seperti seorang perawat terlatih.

“Kamu tidak bisa tidur dengan benda itu di mulutmu, manis.”

“Ini cuma permen karet,” kata Baxter.

Kaki Bu Zilke yang sudah lemah tak dapat lagi berlu­tut di atas lantai di sisi Baxter sebagaimana yang ingin dilakukannya. Wanita tua itu ingin berbicara empat mata dengan si bocah, sebagaimana ia biasa duduk di tepi ran­jangnya. Namun sayangnya ia hanya bisa berdiri di samping Baxter. Begitu jauh terpisah. Napas pendeknya yang berat terdengar menjijikkan di kamar itu. Ia hanya mampu berka­ta, “Kamu tidak pernah berbohong kepadaku selama ini, Baxter.”

“Memang tidak,” sahut Baxter. “Ini cuma permen karet,” dan ia kembali membuat bunyi di mulutnya.

“Akan kulaporkan pada papamu,” ancam wanita tua itu seakan‑akan sang ayah sudah jauh di Washington.

“Permen karet,” ulang Baxter dengan nada jenuh.

“Kukira seperti logam,” gumam Bu Zilke sambil meman­dang penuh kecemasan kepada Baxter.

“Ini cuma permen karet,” bocah itu sekarang berse­nandung dan bermain dengan boneka.

“Anda harus mengajaknya bicara,” Bu Zilke menyaran­kan sang ayah. Laki‑laki muda itu kemudian berjongkok bersama anaknya. Sementara Baxter sedikit demi sedikit menyadari bahwa ini adalah untuk yang pertama kalinya ayahnya pernah membuat gerak bermain dengannya. Ia menatap ayahnya, tetapi tidak mendengarkan apa yang dibicarakan­nya.

“Jika Papa masukkan jari Papa di mulutmu, maukah kau memberikannya pada Papa?” tanya sang ayah.

“Tidak,” jawab Baxter.

“Kamu tidak boleh menelan benda di mulutmu itu,” kata sang ayah.

“Mengapa?” tanya si bocah menyelidik.

“Benda itu akan melukaimu,” kata sang ayah menerang­kan.

“Kamu akan dibawa ke rumah sakit,” sambung Bu Zilke.

“Aku tidak peduli kemana aku pergi,” kata si bocah.”Di mulutku ini hanya sebuah mainan.”

“Mainan apa?” tanya ayahnya menyelidik. Ia dan Bu Zilke tiba‑tiba tertarik dan penasaran terhadap benda di mulut Baxter itu.

“Mainan berwarna keemasan,” si bocah tertawa, tetapi kedua bola matanya berkaca‑kaca dan memancarkan sorot aneh.

“Kemarikan, Sayang,” kata sang ayah sambil secara perlahan mencoba meletakkan jarinya di mulut Baxter.

“Jangan sentuh aku!” tiba‑tiba si bocah berteriak. “Aku benci Papa!”

Sang ayah mundur perlahan seolah ia kini akan kemba­li ke pekerjaan dan kertas‑kertasnya lagi. Bu Zilke ber­teriak, “Memalukan!”

“Aku betul‑betul benci dia,” kata si bocah. “Dia tak pernah ada di sini.”

“Baxter,” bujuk sang ayah.

“Berikan pada papamu benda di mulutmu itu atau kamu akan menelannya dan terjadi bencana pada dirimu.” “Biarin!” sahutnya ketus, menantang. Lalu ia melem­parkan bonekanya pada Bu Zilke.

“Sekarang lihatlah kemari, Baxter,” kata sang ayah, tetapi dengan wajah mengantuk dan tanpa ekspresi.

“Tutup mulutmu, brengsek!” tiba‑tiba si bocah memaki ayahnya. Sang ayah secepat kilat menangkap dagu dan rahang Baxter kemudian memaksanya memuntahkan apa yang ada di mulutnya.

Cincin kawinnya jatuh menggelinding di karpet. Mereka semua memandang ke cincin itu.

Namun tiba‑tiba tanpa peringatan Baxter menendang ayahnya dengan sangat keras pada kunci paha lalu berlari ke tangga atas. Ia berhenti pada tempat yang aman di anak tangga dan mengucapkan kata‑kata kotor kepada ayahnya seakan kata‑kata itu sudah lama terpendam untuk dilontar­kannya.

Bu Zilke menjerit kecil.

Sang ayah menggeliat kesakitan di tempat di mana Baxter tadi menendangnya. Setelah berjuang keras ia beru­paya berkata, “Katakan padaku di mana ia tahu kata‑kata seperti itu?”

Bu Zilke berjalan ke tempat cincin itu tergeletak di dekat boneka.

“Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi pada anak itu,” katanya sambil meletakkan cincin tadi di atas meja.

Kemudian kelelahan menjalar pada suaranya lalu ia berkata, “Apakah Anda terluka, Pak?”

Air mata menetes dari kedua mata sang ayah karena perasaannya tertusuk. Beberapa saat ia tak mampu mengucap­kan sepatah katapun.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya wanita tua itu lagi.

“Tidak, terima kasih,” jawabnya. “Terima kasih,” dadanya bergemuruh karena rasa sakit luar biasa.

“Saya letakkan cincin Anda di atas sini biar aman,” kata Bu Zilke memberitahu.

Sang ayah mengangguk dari lantai di mana ia keseleo di lukanya.

 

JAMES PURDY lahir di Ohio pada tahun 1923 dan mempe­roleh pendidikannya di Midwest. Ia memperoleh MA dari Universitas Chicago dan setelah itu ia melanjutkan studi­nya di Universitas Madrid, Spanyol. Sebuah koleksi cerpen­nya Color of Darkness yang dipublikasikan pada tahun 1957 mendapat perhatian dari para kritikus sastra. Novel perta­ma Purdy, Malcolm (1959), memperoleh sambutan yang luar biasa sebagai sebuah komentar satire atas nilai‑nilai kultur masyarakat urban Amerika. Judul asli cerita ini adalah Color of Darkness yang diambil dari buku Short Story: A Thematic Anthology hal 149‑158. Alih Bahasa Syafruddin HASANI.

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.383 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: