Awalnya Sadino tak begitu paham tentang istilah‑istilah kekuasaan, wewenang, pemerintahan, kediktatoran, politik praktis, kebijaksanaan, dan banyak lagi yang seperti itu. Tapi itu dulu. Duluuu… sekali! Waktu ia masih sering kumpul kebo di sawah. Sebagai anak desa ia kerap terkagum‑kagum apabila melihat mahasiswa‑mahasiswa ka ka en yang singgah di desanya.
Bahkan rumah ayahnya pun pernah diinapi oleh beberapa mahasiswa itu. Sadino kecil minder sekali waktu itu. Ia hanya berani mengintip para mahasiswa yang keren dan parlente‑parlente itu secara sembunyi‑sembunyi.
Dulu, memang dia selalu terkagum‑kagum apabila melihat para mahasiswa itu. Apalagi kalau mendengar mereka berbicara, kupingnya selalu bergetar‑getar menangkap kata‑kata asing yang meluncur dari mulut mereka.
Pernah suatu ketika ia mendengar pembicaraan antara ayahnya yang hanya petani biasa itu dengan mereka. Bangga sekali hatinya waktu itu menyaksikan peristiwa yang luar biasa saat itu baginya. Apalagi ayahnya ternyata mampu mengikuti pembicaraan mereka. Bahkan juga dapat menanggapinya.
“Pokoknya, kalau partisipasi aktif dari warga desa ini betul‑betul sudah terwujud, kami yakin, Pak Mijo, misi yang kami emban ini betul‑betul akan terlaksana dengan baik,” kata si kacamata.
Wah, wah… pikir Sadino, mereka menyebut‑nyebut nama Parti. Parti… Parti… si… pasi. Ya, Partisipasi! Bagus betul nama itu, ya. Sadino jadi teringat temannya, Parti. Ah, seandainya saja nama si Partinem diganti jadi Partisipasi, kan bagus sekali itu. Biar lebih indah. Itu kan nama orang kota, pikirnya.
“Inggih, Nak Mahasiswa. Kami semua pokoknya mendukung sepenuhnya apa yang sudah menjadi programnya anak‑anak mahasiswa di sini,” jawab ayahnya.
Namun itu semua dulu. Dulu waktu ia masih kecil dan hitam berlumpur karena sering kumpul kebo di sawah. Sekarang lain, ia kini sudah jadi mahasiswa ilmu politik di u ge em. Dan di kampusnya ia terkenal sebagai salah satu aktivis kampus yang sangat militan. Mungkin itu karena perkenalannya dengan Si Penguasa beberapa tahun yang silam ketika masih di es em a.
Sebenarnya sosok Si Penguasa sudah tak begitu asing lagi baginya. Sejak masih kumpul kebo dulupun ia sudah sering melihat Si Penguasa. Ia sering melihatnya pada figur ayahnya, ibunya, kakak‑kakaknya, guru‑gurunya, Pak Lurah, Pak Dusun, dan sebagainya. Ia sendiri tak tahu apakah di dalam dirinya juga ada sosok itu. Sebenarnya ingin juga ia jadi sosok itu.
Masih melekat di benak Sadino kecil nikmatnya jadi Si Penguasa. Seperti raja‑raja saja layaknya. Semua bisa diatur, semua dapat dibuat beres. Apabila Si Penguasa datang, berbondong‑bondong orang menyambutnya dengan penuh kehormatan. Selanjutnya segala fasilitas pun sudah tersedia tinggal pakai. Enaknya jadi Si Penguasa, hidup kayak di sorga saja, semua yang diinginkan bisa segera terwujud dengan cepat.
Waktu es em a dulu ia mulai berkenalan dengan Si Penguasa. Sebagai seorang murid yang baik ia selalu menyapa dengan ramah lebih dulu. Begitulah, selanjutnya basa‑basi sering terjadi kalau mereka berpapasan. Namun suatu ketika hubungan mereka mulai retak kala Si Penguasa mulai main‑main dengan kekuasaannya. Di sekolahnya yang sudah jelas‑jelas ada peraturan yang tidak menerima siswa pindahan, namun karena kekuasaannya, Si Penguasa dapat memasukkan anaknya ke sekolah itu. Padahal kalau sesuai dengan prosedur yang sah, anaknya itu tak mungkin dapat diterima karena NEM‑nya rendah.
Selanjutnya bentrokan‑bentrokan lainnya pun segera menyusul. Lagi‑lagi karena permainan kekuasaannya. Kali ini Si Penguasa mulai mengetrapkan kekuasaannya dengan kaku. Akibatnya Sadino merasa tertekan. Apalagi Si Penguasa selalu memojokkannya, mencari‑cari kesalahannya, bersikap apriori terhadapnya sehingga Sadino pun bersikap kontra kepada Si Penguasa. Dasar darah muda, kekerasan harus dilawan pula dengan kekerasan.
Perang terbuka antara Sadino dengan Si Penguasa untungnya belum meletus. Masing‑masing pihak agaknya masih mampu mengendalikan dirinya dengan baik. Akan tetapi dibalik itu, perang dingin antara keduanya berlangsung cukup seru dan panas. Dimana ada kesempatan dan lawannya lengah, maka masing‑masing pihak akan menikamnya dengan cepat.
Namun agaknya Si Penguasa selalu berada di atas angin meskipun tidak menang mutlak. Setiap hari ia berhasil memaksa Sadino untuk menelan pil‑pil pahit kekuasaan, wewenang, kebijaksanaan, kediktatoran, keangkaramurkaan dan penyelewengan‑penyelewengannya. Sekuat apapun Sadino berusaha meronta namun ia tetap tak berdaya juga ketika mulutnya dijejali barang‑barang itu. Ingin ia muntahkan tapi tak dapat. Barang‑barang itu tidak sama dengan racun biasa yang bersifat kimiawi. Semual apapun perutnya, barang‑barang itu takkan keluar.
Sadino betul‑betul terhempas. Ia benci sekali. Muak sekali. Jijik sekali. Hanya kampuslah tempat ia berusaha memuntahkan segala uneg‑unegnya. Dan hanya di kampuslah ia dapat berkumpul dengan teman‑teman seideologi dan senasib sepenanggungan. Di kampuslah mereka setiap saat bisa ngrasani dan memaki‑maki Si Penguasa dengan sepuas‑puasnya.
“Celaka betul hidup kita di dunia ini, kawan. Dimanapun kepala kita nongol di permukaan bumi ini, mau nggak mau kita harus melihat Si Penguasa jelek itu,” kata Heru.
“Iya, memang dasar Si Penguasa jelek! Aku pun heran kenapa nggak mampus‑mampus ‘tu dia. Dasar brengsek!” maki Eko.
“Coba bayangkan aja, dia bisa bikin macam‑macam aturan seenak perutnya, kemudian juga bisa menyelewengkannya seenak perutnya lagi,” timpal Sadino.
“Hey, kawan‑kawan! Apakah kita ini memang tak berdaya sama sekali? Apakah seumur hidup kita, kita harus selalu menerima perlakuan‑perlakuan yang tidak manusiawai ini terus‑menerus?!”
“Tidak! Kita harus melawan!”
“Betul, kita akan melawan kezaliman ini! Kalau rakyat di negara‑negara komunis saja berhasil memberontak terhadap kezaliman, mengapa kita tidak?!”
“Ya, kita pun bisa! Aku yakin pasti bisa!”
“Tapi tunggu dulu, kawan‑kawan,” sela Iwan, “ini sama saja kita melakukan tindakan subversif. Kalian tahu kan, tindakan ini mengandung resiko yang cukup tinggi? Nah, apakah kita sudah siap mengorbankan masa depan kita untuk menanggung resiko itu?”
Semua terdiam. Hening.
Ya, siapa yang mau masuk penjara dan dicap sebagai musuh masyarakat. Tak satupun dari mereka sudi mondok gratis dalam penjara. Walaupun masih mending dipenjara daripada dijadikan umpan pelor. Tapi yang lebih mengerikan lagi kalau sanak keluarga dan kekasih tercinta meninggalkan mereka. Wah, itu kalau sampai terjadi tragis sekali. Sungguh pengorbanan yang sia‑sia belaka.
“Yaaah… lalu bagaimana sikap kita yang tepat, kawan?” tanya Eko dengan nada berat.
Semua mikir. Harus dijawab bagaimana pertanyaan itu. “Aku usul, baiknya kita bersikap moderat saja,” ucap Heru.
“Bagaimana sih sikap yang moderat itu?” tanya Sadino.
“Hindarkan konfrontasi langsung.”
Begitulah, Sadino cs akhirnya tak pernah melakukan konfrontasi langsung dengan Si Penguasa. Namun semangat kontroversial mereka tetap membara. Tekad mereka sudah bulat dan pasti, Si Penguasa suatu saat nanti harus disingkirkan. Ya, kans mereka cukup besar untuk menggantikan kedudukan Si Penguasa. Mereka masih muda‑muda dan memiliki masa depan gemilang.
“Enyah kezaliman!” teriak Sadino.
“Tegakkan keadilan!” seru Heru.
“Hidup kemanusiaan!” sorak mereka.
Ah, andai saja mereka tahu apa yang akan terjadi dua puluh tahun yang akan datang. Siapa saja yang berani melontarkan kata‑kata seperti itu akan dituduh melakukan tindakan subversif. Saat itu nanti Si Penguasa lebih kuat taringnya. Karena saat itu mereka sendirilah yang jadi Si Penguasa yang baru. Mereka tidak suka mendengar gonggongan anjing‑anjing kecil yang bikin ribut di telinga mereka sebagaimana mereka lakukan hal seperti itu dulu kepada Si Penguasa lama.
___________
Jogjakarta 11041990
Pengarang: Syafruddin Hasani
Filed under: CERITA PENDEK | Ditandai: bahasa indonesia, cerita, cerita pendek, cerita pendek online, cerita seru, cerpen, cerpen online, harian republika, karya sastra, koran republika, penerjemah buku, penerjemah inggris-indonesia, pengarang cerita pendek, pengarang cerpen, penguasa, penterjemah buku, penterjemah inggris-indonesia, penulis cerita pendek, penulis cerpen, syafruddin hasani | Tinggalkan sebuah Komentar »