Profil Fatin Shidqia X FACTOR INDONESIA

Fatin fantastik ! ABG peserta X Factor Indonesia ini telah berhasil memikat puluhan juta pemirsa televisi dengan suaranya yang merdu dan berkarakter.

Fatin Shidqia Lubis – cewek imut ini mendadak telah menjadi selebritis baru karena penampilannya yang mengejutkan dalam audisi ajang pencarian bakat X Factor Indonesia di RCTI. Dengan penampilannya yang sederhana, gadis belia ini memukau dewan juri dan penonton yang hadir dengan membawakan lagu “GRENADE” Bruno Mars. Selain menabur pujian dari dewan juri, Fatin juga dinilai mempunyai warna suara yang unik dan mempunyai karakter yang kuat dalam menyanyikan lagu.

Profil Fatin Shidqia Lubis

Nama Lengkap : Fatin Shidqia Lubis
Tanggal Lahir : 30 juli 1996
Status : Salah satu pelajar di Sekolah Menengah Atas Jakarta
Hobi : Nge Band, Menyanyi
Akun Facebook : facebook.com/fashidqia
Akun Twitter : @fshidqia dan @fatinsl

Cewek imut berdarah betawi-batak ini punya harapan seandainya ia lolos X Factor Indonesia dengan modal suara yang dimilikinya sekarang, ia ingin mendapatkan pelatihan suara yang lebih baik dan menambah pengalaman di bidang tarik suara.

Video Hits Fatin Shidqia di Youtube (new window)

fatin bruno mars grenade

Duet GRENADE Bruno Mars Fatin Shidqia

fatin diamond rihanna

Fatin PUMPED UP KICKS Foster The People

fatin diamond rihanna

Duet DIAMOND Rihanna feat Fatin Shidqia

fatin rumor has it adele

Fatin RUMOR HAS IT Adele

fatin girl on fire alicia keys

Fatin GIRL ON FIRE Alicia Keys

fatin don't speak no doubt

Fatin DON’T SPEAK No Doubt

Lucu : Maher Zain versi JAWA

Ada orang pengen ngetop di Youtube dengan bikin video klip niru-2 gaya Maher Zain. Setting-nya suasana di Jawa (kalo Maher Zain kan pake setting suasana di Barat).

Lihat nih gayanya :

 

 

Video Lucu Maher Zain versi Jawa

Maher Zain versi Jawa

 

 

 

 

 

 

 

Koleksi video clip Maher Zain asli:

Awaken Maher Zain Lirik MP3

Awaken

 For The Rest of My Life

For The Rest of My Life

Freedom Maher Zain Video Clip

Freedom

The Chosen One Maher Zain MP3

The Chosen One

Hold My Hand Maher Zain Video Youtube

Hold My Hand

I Believe Maher Zain feat Irfan Makki

I Believe ft. Irfan Makki

Insha Allah - Maher Zain download MP3 Lyric

Insha Allah

Insya Allah Maher Zain feat Fadly Padi

Insya Allah ft Fadly Padi

Alhamdulillah Maher Zain Lyric Youtube

Alhamdulillah

Maher Zain Open Your Eyes

Open Your Eyes

Maher Zain Sepanjang Hidup

Sepanjang Hidup

Maher Zain ft. Mesut Kurtis - Never Forget

Never Forget ft. Mesut Kurtis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.
.

Masuk Sorga Lebih Cepat – Koleksi Humor Internet

Sepasang suami-istri yang telah menikah selama tujuh puluh tahun selama ini berada dalam kondisi yang sangat sehat karena si wanita berkeras menerapkan pola makan yang sehat dan olah raga. Pada suatu hari, mereka berdua tewas dalam suatu kecelakaan mobil. Di pintu gerbang surga, malaikat penjaganya memperkenalkan mereka pada kehidupan baru mereka di dalam surga.

Dia memperlihatkan kepada mereka berdua sebuah gedung yang sangat megah. “Tapi berapa harganya ini?” tanya sang suami. “Tidak perlu bayar,” jawab sang malaikat. “Gratis. Ini kan surga.”

Lalu sang malaikat memperlihatkan kepada mereka berdua lapangan golf yang indah di belakang gedung itu. “Tapi berapa bayarnya untuk mendaftar menjadi anggota?” tanya sang suami. “Tidak perlu bayar,” jawab sang malaikat. “Gratis. Ini kan surga.”

Akhirnya, sang malaikat mengantar mereka ke restoran yang berada di dalam gedung itu dan memperlihatkan daftar menu, penuh dengan makanan yang enak-enak dan lezat-lezat, semuanya dengan saus krim yang kental. “Tapi kami hanya mengonsumsi makanan berkadar lemak rendah, sedikit garam, dan makanan berkolesterol rendah,” kata sang suami. “Jangan khawatir,” jawab sang malaikat. “Ini kan surga. Tak ada kalori di surga. Kalian dapat makan sebanyak-banyaknya dan tetap ramping dan sehat.”

Mendengar hal itu, sang suami berpaling ke istrinya dan berteriak. “Kamu memang dasar wanita jalang!” makinya. “Kalau dulu kau tidak ngotot agar kita makan semua makanan sehat itu dan melakukan olah raga segala, maka kita sudah bisa berada di sini sepuluh tahun lebih cepat!”
.
.

.
.

KUBURAN – Cerita Pendek Online

Malam yang gerah. Sudah dua jam Trimo duduk di lincak depan rumahnya. Rumah di depan kuburan. Ia meman­dangi langit, tidak ada bulan dan bintang di sana. Nampak awan bergumpal‑gumpal menggantung.

Mungkin akan turun hujan, batinnya. Sepi dan senyap, tapi hawanya panas. Trimo membuang rokok kreteknya yang baru dihisap separo. Tidak ada kenikmatan merokok di malam yang gerah ini.

Kuburan. Trimo memandang gerbangnya. Sejak ia belum lahir kuburan itu sudah ada. Mbah buyutnya adalah juru kunci yang pertama. Lalu jabatan itu terus turun‑temurun jatuh pada anak cucunya. Tiba‑tiba ia sadar sudah empat puluh tahun ia jadi juru kunci di situ.

Trimo berpikir. Apakah jabatan ini kelak juga akan diwariskan kepada salah seorang  di antara anak‑anaknya. Tapi siapa yang mau. Ketiga orang anaknya itu masing‑masing punya cita‑cita yang tinggi. Mereka juga bersema‑ ngat sekali untuk meraih cita‑cita itu. Setiap pembagian rapor mereka bertiga selalu berhasil masuk dalam rangking tiga besar. Dan sekarang mereka bertiga sudah jadi sarjana dan mendapat pekerjaan yang layak.

Ia menghela napas panjang. Pantatnya sudah tidak kerasan lagi duduk di lincak itu. Ia bangkit dan tiba‑tiba terlintas dalam hatinya keinginan untuk jalan‑jalan di dalam kuburan itu. Lantas ia bergegas masuk ke rumah untuk mengambil senter.

Sudah jam satu malam ketika Trimo masuk ke kuburan itu. Ia berjalan di antara nisan‑nisan. Diarahkannya sorot lampu senternya untuk membaca nama‑nama yang tercantum di situ. Orang‑orang yang dulunya pernah ada dan meramaikan dunia ini.

Seandainya mereka masih hidup dan dikumpulkan di sebuah lapangan pasti suasananya ramai sekali. Tapi di kuburan ini mereka juga dikumpulkan sampai ribuan orang namun suasananya senyap. Jangankan berbicara, bernapaspun mereka sudah tak mampu. Berpikir seperti itu membuat Trimo tidak pernah takut berada di tengah‑tengah kuburan sekali­pun di malam hari.

Suatu ketika sorot lampu senternya terhenti di sebuah nama pada suatu batu nisan. K‑I‑S‑U‑R‑O‑J‑O‑Y‑O‑M‑E‑N‑G‑G‑O‑L‑O, diejanya nama di sana dalam batin. Ki Suro… ah ya! Ia teringat kepada tokoh jawara di masa kakeknya masih hidup dulu itu. Konon Ki Suro adalah seorang jawara yang disegani. Ia memiliki kesaktian ilmu olah kanuragan. Sudah banyak penjahat yang berhasil dibasminya di masa itu. Bahkan tentara Belanda pun takut kepadanya, kabarnya ia kebal peluru.

Namun suatu hari ajal menjemputnya juga ketika habis umurnya. Ia yang tak pernah terkalahkan dalam setiap pertarungan, ternyata kini ilmunya itu tak dapat mencegah kematiannya. Padahal saat itu meski usianya sudah enam puluh tahunan tapi kondisi fisiknya masih kuat. Kekayaan­nya sangat banyak. Sawahnya berhektar‑hektar dan ternaknya ratusan ekor. Istrinya yang ke sepuluh, seorang dara berusia empat belas tahun, baru dinikahinya satu bulan. Dengan dukungan harta, kekuatan dan dua puluh orang anak laki‑lakinya, Ki Suro saat itu berambisi menjadi lurah setelah Ki Lurah lama dalam usianya yang sembilan puluh tahunan sering sakit‑sakitan.

Agaknya tetap kuasa Tuhanlah yang menentukan cita‑cita dan upaya manusia. Suatu hari Ki Suro merasa masuk angin dan pusing. Ia beristirahat di kamarnya, tertidur dan tidak pernah bangun lagi. Ia wafat satu tahun sebelum Ki Lurah sendiri meninggal. Trimo menarik napas panjang setelah mengenang peris­tiwa itu sampai di situ. Ia terpaku menatap nama di nisan itu. Ki Suro mati dan seluruh harta, kekuasaan  serta sanak kadangnya tak ada yang bisa dibawa untuk menemani­nya. Bahkan setelah itu yang terjadi adalah ramainya sengketa di antara anak‑anaknya untuk memperebutkan wari­sannya. Puluhan tahun Ki Suro bekerja keras mengumpulkan dan mengelola hartanya. Ia habiskan umurnya dengan bekerja keras untuk itu. Selama hayatnya baru sedikit yang dinik­matinya. Setelah matinya harta itu berserakan diperebutkan ahli warisnya.

Kemudian Trimo melanjutkan langkahnya memeriksa nama‑nama lain di kuburan itu. Ada keasyikan tersendiri mengenang kisah hidup orang‑orang yang pernah dikenalnya atau pernah ia dengar ceritanya. Beberapa kali pandangan­nya terpaku pada nisan‑nisan itu. Ada seorang pejabat yang mati karena serangan jantung. Padahal baru enam bulan ia naik pangkat. Kabar burung yang didengarnya di tengah suasana pemakamannya menyebutkan laki‑laki separo baya itu sering menyalahgunakan jabatan dan wewenangnya untuk kepentingan pribadi. Di antara pelayat ada yang sampai berbisik, “Coba bayangkan, berapa lagi uang negara ini yang diraupnya kalau ia tidak keburu mati.”

Pada nisan yang lain ia teringat pada peristiwa gantung diri orang yang terkubur di bawahnya. Laki‑laki berusia tiga puluh tahun itu putus asa karena kuliahnya tidak selesai‑selesai juga. Ada beberapa dosen yang disa­lahkannya dan dianggap menghambat kelulusannya. Pihak universitas sudah mengirim surat peringatan akan men‑DO‑nya kalau tidak bisa menyelesaikan kuliah sampai akhir semester yang sudah ditentukan. Padahal ayahnya sedang sakit parah sehingga tidak ada lagi wesel yang dikirim untuknya. Sementara ibunya harus berhutang di sana‑sini untuk menutupi ongkos perawatan ayahnya. Ia semakin kela­bakan lagi ketika pacarnya hamil dan ia dituntut oleh orang tua si gadis untuk bertanggung jawab. Otaknya tak mampu lagi berpikir jernih. Ia nekat mengambil setagen ibu kostnya dari jemuran dan gantung diri di siang hari bolong pada pohon mangga.

Sebelum mati ia berpikir kematian akan menyelesaikan segala masalahnya. Tapi kematiannya justru membuat masalah bagi orang banyak. Ayah dan ibunya shock dan meninggal seketika mendengar berita itu. Bekas ibu kostnya terpaksa kehilangan piutang tunggakan uang kost selama enam bulan, selain harus gigit jari juga karena tempat kostnya jadi sepi akibat peristiwa bunuh diri itu. Dan orang‑orang kampung juga harus repot menurunkan jasadnya dari pohon mangga. Sedangkan pacarnya jadi histeris dan mengalami keguguran.

Tanpa disadari Trimo geleng‑geleng kepala mengingat­nya. Lalu ia meneruskan langkahnya dan terhenti pada sebuah nisan lagi. Ia mengeja nama yang tertera di sana, S‑Y‑L‑V‑I‑A‑P‑A‑R‑A‑M‑I‑T‑A. Ah, gadis cantik itu baru sebulan dimakamkan. Ia masih es em a tapi sudah menjadi fotomodel terkenal. Bahkan ketika masih kelas dua es em pe dia sudah jadi juara cover girl. Meskipun sibuk di dunia modelling tapi gadis yang selalu tampil lincah dan riang ini tak pernah turun dari rangking pertama di kelasnya. Sayang sekali kenapa usianya begitu singkat.

Kembali Trimo meneruskan langkahnya setelah sejenak tepekur di situ. Ada beberapa nama lagi yang dikenalnya. Ada orang yang baik dan ada juga yang jahat. Menjelang fajar ketika Trimo tersentak oleh suara adzan subuh. Keasyikan mengenang orang‑orang yang dimakamkan di kuburan itu membuatnya lupa waktu. Bahkan kegerahan malam itu pun tak dirasakannya lagi. Suara adzan mengumandang menembus langit. Trimo memandang ke atas. Awan hitam masih bergum­pal‑gumpal menutupi cahaya bulan dan bintang.

Kuburan itu, tempat tersimpannya jasad‑jasad yang rusak. Banyak cerita yang ikut tersimpan di sana. Trimo melangkah keluar meninggalkannya. Ia pulang dan mengambil air wudlu. Usai sholat subuh ia tetap tepekur di masjid sampai matahari naik. Ia merenung, suatu saat nanti ia sendiri juga akan dikubur. Entah kapan dan di mana….

___________

Yogyakarta 27041995

Pengarang: Syafruddin Hasani

Percakapan Di Toilet Pria – Koleksi Humor Online

Saya sedang berkendaraan ke utara di jalan tol tatkala saya menepi di sebuah tempat perhentian untuk menggunakan kamar kecil pria. Bilik pertama telah terisi sehingga saya masuk ke bilik kedua. Saya sudah hampir duduk ketika terdengar suara dari kamar sebelah yang berkata, “Hai, apa kabar?” Seperti semua pria lain, saya tak pernah memulai perbincangan dengan orang asing atau bersosialisasi di kamar kecil pria di tempat perhentian, dan saya masih tak tahu apa yang saya alami, namun saya menjawabnya dengan malu “Lumayan!”

Pria di sebelah berkata, “Lalu … kamu sedang menuju kemana?”

Saya sedang berpikir, “Ini janggal” tetapi, seperti orang dungu, saya menjawab, “Sama seperti Anda … sedang menuju ke arah utara!”

Lalu saya dengar orang itu berkata dengan suara gugup, “Dengar … aku akan telpon kamu lagi nanti, ada orang idiot di kamar sebelah yang terus saja menjawab pertanyaan-pertanyaanku!”
.
.

.
.

SI PENGUASA – Cerita Pendek Online

Awalnya Sadino tak begitu paham tentang istilah‑istilah kekuasaan, wewenang, pemerintahan, kediktatoran, politik praktis, kebijaksanaan, dan banyak lagi yang seperti itu. Tapi itu dulu. Duluuu… sekali! Waktu ia masih sering kumpul kebo di sawah. Sebagai anak desa ia kerap terkagum‑kagum apabila melihat mahasiswa‑mahasiswa ka ka en yang singgah di desanya.

Bahkan rumah ayahnya pun pernah diinapi oleh beberapa mahasiswa itu. Sadino kecil minder sekali waktu itu. Ia hanya berani mengintip para mahasiswa yang keren dan parlente‑parlente itu secara sembunyi‑sembunyi.

Dulu, memang dia selalu terkagum‑kagum apabila melihat para mahasiswa itu. Apalagi kalau mendengar mereka berbicara, kupingnya selalu bergetar‑getar menangkap kata‑kata asing yang meluncur dari mulut mereka.

Pernah suatu ketika ia mendengar pembicaraan antara ayahnya yang hanya petani biasa itu dengan mereka. Bangga sekali hatinya waktu itu menyaksikan peristiwa yang luar biasa saat itu baginya. Apalagi ayahnya ternyata mampu mengikuti pembicaraan mereka. Bahkan juga dapat menanggapinya.

“Pokoknya, kalau partisipasi aktif dari warga desa ini betul‑betul sudah terwujud, kami yakin, Pak Mijo, misi yang kami emban ini betul‑betul akan terlaksana dengan baik,” kata si kacamata.

Wah, wah… pikir Sadino, mereka menyebut‑nyebut nama Parti. Parti… Parti… si… pasi. Ya, Partisipasi! Bagus betul nama itu, ya. Sadino jadi teringat  temannya, Parti. Ah, seandainya saja nama si Partinem diganti jadi Partisipasi, kan bagus sekali itu. Biar lebih indah. Itu kan nama orang kota, pikirnya.

“Inggih, Nak Mahasiswa. Kami semua pokoknya mendukung sepenuhnya apa yang sudah menjadi programnya anak‑anak mahasiswa di sini,” jawab ayahnya.

Namun itu semua dulu. Dulu waktu ia masih kecil dan hitam berlumpur karena sering kumpul kebo di sawah. Sekarang lain, ia kini sudah jadi mahasiswa ilmu politik di u ge em. Dan di kampusnya ia terkenal sebagai salah satu aktivis kampus yang sangat militan. Mungkin itu karena perkenalannya dengan Si Penguasa beberapa tahun yang silam ketika masih di es em a.

Sebenarnya sosok Si Penguasa sudah tak begitu asing lagi baginya. Sejak masih kumpul kebo dulupun ia sudah sering melihat Si Penguasa. Ia sering melihatnya  pada figur ayahnya, ibunya, kakak‑kakaknya, guru‑gurunya, Pak Lurah, Pak Dusun, dan sebagainya. Ia sendiri tak tahu apakah di dalam dirinya juga ada sosok itu. Sebenarnya ingin juga ia jadi sosok itu.

Masih melekat di benak Sadino kecil nikmatnya jadi Si Penguasa. Seperti raja‑raja saja layaknya. Semua bisa diatur, semua dapat dibuat beres. Apabila Si Penguasa datang, berbondong‑bondong orang menyambutnya dengan penuh kehormatan. Selanjutnya segala fasilitas pun sudah tersedia tinggal pakai. Enaknya jadi Si Penguasa, hidup kayak di sorga saja, semua yang diinginkan bisa segera terwujud dengan cepat.

Waktu es em a dulu ia mulai berkenalan dengan Si Penguasa. Sebagai seorang murid yang baik ia selalu menyapa dengan ramah lebih dulu. Begitulah, selanjutnya basa‑basi sering terjadi kalau mereka berpapasan. Namun suatu ketika hubungan mereka mulai retak kala Si Penguasa mulai main‑main dengan kekuasaannya. Di sekolahnya yang sudah jelas‑jelas ada peraturan yang tidak menerima siswa pindahan, namun karena kekuasaannya, Si Penguasa dapat memasukkan anaknya ke sekolah itu. Padahal kalau sesuai dengan prosedur yang sah, anaknya itu tak mungkin dapat diterima karena NEM‑nya rendah.

Selanjutnya bentrokan‑bentrokan lainnya pun segera menyusul. Lagi‑lagi karena permainan kekuasaannya. Kali ini Si Penguasa mulai mengetrapkan kekuasaannya dengan kaku. Akibatnya Sadino merasa tertekan. Apalagi Si Penguasa selalu memojokkannya, mencari‑cari kesalahannya, bersikap apriori terhadapnya sehingga Sadino pun bersikap kontra kepada Si Penguasa. Dasar darah muda, kekerasan harus dilawan pula dengan kekerasan.

Perang terbuka antara Sadino dengan Si Penguasa untungnya belum meletus. Masing‑masing pihak agaknya masih mampu mengendalikan dirinya dengan baik. Akan tetapi dibalik itu, perang dingin antara keduanya berlangsung cukup seru dan panas. Dimana ada kesempatan dan lawannya lengah, maka masing‑masing pihak akan menikamnya dengan cepat.

Namun agaknya Si Penguasa selalu berada di atas angin meskipun tidak menang mutlak. Setiap hari ia berhasil memaksa Sadino untuk menelan pil‑pil pahit kekuasaan, wewenang, kebijaksanaan, kediktatoran, keangkaramurkaan dan penyelewengan‑penyelewengannya. Sekuat apapun Sadino berusaha meronta namun ia tetap tak berdaya juga ketika mulutnya dijejali barang‑barang itu. Ingin ia muntahkan tapi tak dapat. Barang‑barang itu tidak sama dengan racun biasa yang bersifat kimiawi. Semual apapun perutnya, barang‑barang itu takkan keluar.

Sadino betul‑betul terhempas. Ia benci sekali. Muak sekali. Jijik sekali. Hanya kampuslah tempat ia berusaha memuntahkan segala uneg‑unegnya. Dan hanya di kampuslah ia dapat berkumpul dengan teman‑teman seideologi dan senasib sepenanggungan. Di kampuslah mereka setiap saat bisa ngrasani dan memaki‑maki Si Penguasa dengan sepuas‑puasnya.

“Celaka betul hidup kita di dunia ini, kawan. Dimanapun kepala kita nongol di permukaan bumi ini, mau nggak mau kita harus melihat Si Penguasa jelek itu,” kata Heru.

“Iya, memang dasar Si Penguasa jelek! Aku pun heran kenapa nggak mampus‑mampus ‘tu dia. Dasar brengsek!” maki Eko.

“Coba bayangkan aja, dia bisa bikin macam‑macam aturan seenak perutnya, kemudian juga bisa menyelewengkannya seenak perutnya lagi,” timpal Sadino.

“Hey, kawan‑kawan! Apakah kita ini memang tak berdaya sama sekali? Apakah seumur hidup kita, kita harus selalu menerima perlakuan‑perlakuan yang tidak manusiawai ini terus‑menerus?!”

“Tidak! Kita harus melawan!”

“Betul, kita akan melawan kezaliman ini! Kalau rakyat di negara‑negara komunis saja berhasil memberontak terhadap kezaliman, mengapa kita tidak?!”

“Ya, kita pun bisa! Aku yakin pasti bisa!”

“Tapi tunggu dulu, kawan‑kawan,” sela Iwan, “ini sama saja kita melakukan tindakan subversif. Kalian tahu kan, tindakan ini mengandung resiko yang cukup tinggi? Nah, apakah kita sudah siap mengorbankan masa depan kita untuk menanggung resiko itu?”

Semua terdiam. Hening.

Ya, siapa yang mau masuk penjara dan dicap sebagai musuh masyarakat. Tak satupun dari mereka sudi mondok gratis dalam penjara. Walaupun masih mending  dipenjara daripada dijadikan umpan pelor. Tapi yang lebih mengerikan lagi kalau sanak keluarga dan kekasih tercinta meninggalkan mereka. Wah, itu kalau sampai terjadi tragis sekali. Sungguh pengorbanan yang sia‑sia belaka.

“Yaaah… lalu bagaimana sikap kita yang tepat, kawan?” tanya Eko dengan nada berat.

Semua mikir. Harus dijawab bagaimana pertanyaan itu. “Aku usul, baiknya kita bersikap moderat saja,” ucap Heru.

“Bagaimana sih sikap yang moderat itu?” tanya Sadino.

“Hindarkan konfrontasi langsung.”

Begitulah, Sadino cs akhirnya tak pernah melakukan konfrontasi langsung dengan Si Penguasa. Namun semangat kontroversial mereka tetap membara. Tekad mereka sudah bulat dan pasti, Si Penguasa suatu saat nanti harus disingkirkan. Ya, kans mereka cukup besar untuk menggantikan kedudukan Si Penguasa. Mereka masih muda‑muda dan memiliki masa depan gemilang.

“Enyah kezaliman!” teriak Sadino.

“Tegakkan keadilan!” seru Heru.

“Hidup kemanusiaan!” sorak mereka.

Ah, andai saja mereka tahu apa yang akan terjadi dua puluh tahun yang akan datang. Siapa saja yang berani melontarkan kata‑kata seperti itu akan dituduh melakukan tindakan subversif. Saat itu nanti Si Penguasa lebih kuat taringnya. Karena saat itu mereka sendirilah yang jadi Si Penguasa yang baru. Mereka tidak suka mendengar gonggongan anjing‑anjing kecil yang bikin ribut di telinga mereka sebagaimana mereka lakukan hal seperti itu dulu kepada Si Penguasa lama.

___________

Jogjakarta 11041990

Pengarang: Syafruddin Hasani

Terjemahan Pidato Bush dalam Boso Jowo (Bahasa Jawa)

Bahasa Jawa atau Boso Jowo ternyata memegang peranan penting dalam kancah perpolitikan internasional. Terbukti Presiden Bush pun perlu menyampaikan pidatonya dalam Bahasa Jawa. Coba aja lihat rekaman videonya ini:

 

 

 

 

Bagi yang kagak ngerti, berikut ini kira-kira terjemahannya dari Boso Jowo ke Bahasa Indonesia:

 

Amerika Serikat itu, namanya negara Amerika, yang sekarang ini perang melawan Irak, Afghanistan dan teroris..katanya begitu. Yang disuruh Israel. Tau Israel nggak kalian? Israel itu yang nyuruh yaa..ya Israel sendiri. Saya sebenarnya juga boneka di sini. Disuruh memimpin Amerika yang wajib melawan teroris, alasannya saja. Padahal sebenarnya teroris itu ya saya sendiri. Kalian tau nggak kalau saya teroris? Tau nggak kalian? Coba dengerin gitu. Kan enak. Kalau kalian dengerin tuh enak. jadi saya enak kalau bicara.

Saya ulangi lagi. Jadi Amerika itu akan menyerang Irak, Afghanistan, habis Afghanistan itu Iran. Iran ituuu…mmm..Persia..! Ya..Iran itu Persia..yang dulu itu dipimpin oleh Shah Reza Pahlevi. Nah itu nanti akan saya serang. Sambil saya joget-joget. Joget apa? ya entahlah..mau joget dangdut atau tari perut saya juga nggak tau.. Yang penting Amerika menang.

Iya? Denger nggak kalian? Nggak dengerin pasti..! Sampai saya geleng-geleng..anjrit bener kalian ini.. Begitulah seharusnya Amerika menyerang Irak dan Afghanistan, kalian harus mendukung..mendukung.. Gimana? Coba lihat tulisan di bawah ini : MidEast Terrorists Trying to Thwart Democracy, tau nggak?

Demokasi itu ya saya sendiri, saya sendiri yang menentukan, negara mana saja yang harus di-demokrasi-kan secara paksa, tidak cuma omong saja seperti kalian itu. Ya.

Jadi saya ulangi lagi, Amerika itu akan perang melawan Afghanistan, Irak dan Iran. Kalau melawan Korea Utara nanti. Soalnya saya takut ama senjatanya. Senjatanya rudal seperti burung besar sekali. Sebenarnya saya sendiri juga punya, tapi kecil kayak obat nyamuk itu mlungker-mlungker aja. Rasanya juga sakit kalau kencing. Kalau kalian tau, saya itu kalau kencing itu sakit, tau nggak kalian?

Kalian sama saya ayo…berani nantang? Kalau kalian nantang berkelahi, ayoo.. Saya tidak takut. Berani saja saya ini. Kalau kalian nantang saya, ayoo..!! Saya pegang ntar..ayoo..mau gimana kalian? Sini…!

 

Sumber: http://blog.isdaryanto.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.382 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: